Voor de Tidar: Mengenal Sejarah Lewat Kuliner

Tony Kusuma Hady awalnya hanya ingin mencari tahu tentang sejarah kota tempat tinggalnya, Magelang. Namun hasil berburu informasi berbuah nihil. Niatnya untuk membuat usaha bersama sang istri juga terbentur ide. Akhirnya dengan modal rumah keluarganya yang merupakan peninggalan Belanda, Tony membuka rumah makan dengan konsep yang belum pernah ada sebelumnya di kota Magelang, yaitu sejarah. Berbekal rumah berdesain zaman kolonial peninggalan keluarga, Tony bersama istri kemudian mendandaninya menjadi sebuah rumah makan. Rumah buatan tahun 1911 ini memang tidak tercantum dalam daftar Cagar Budaya pemerintah setempat. Tapi Tony bersama keluarganya kini mengembangkan usaha untuk mempertahankan rumah antik tersebut sekaligus menggeluti kecintaannya pada sejarah.

Rumah makan sederhana ini ia beri nama Voor de Tidar yang berarti “di depan Gunung Tidar”. Tepat di gerbang masuk rumah makannya memang terlihat Gunung Tidar. Sebuah bukit yang sangat akrab dengan warga Magelang. Tony mengakui nama itu ia ambil dari sebuah foto lawas tentang sebuah acara balap kuda zaman Belanda yang diberi judul yang sama. Menurutnya, di foto tersebut memang adu pacu kuda itu diadakan di suatu tempat di depan Gunung Tidar.

???????????????????????????????

Awalnya Tony juga ingin menghadirkan sejarah melalui kuliner sajiannya. Beberapa menu berbau Belanda seperti poffertjes dan bitterballen ia siapkan dalam daftar menu. Sayangnya, pelanggan Tony kemudian tak tertarik dengan jenis hidangan ini. Tony pun beralih ke kuliner lokal seperti aneka menu penyet dan ayam goreng.

Hidangan andalannya adalah Ayam Goreng Laos.dari penampakan, ayam goreng ini merep dengan Ayam Goreng Kremes yang populer di ibukota. Tapi kremesan yang digunakan di sini adalah parutan laos. Menu racikan sang istri tercinta ini ternyata menarik minat banyak pelanggannya. Warga Magelang kini mulai mengenal Voor de Tidar dengan Ayam Goreng Laos andalannya.

Ayam kampung yang dicampur dengan aneka bumbu seperti bawang putih, bawang merah, kemiri, asam Jawa, kunyit, serai, daun salam dan parutan laos kemudian digoreng hingga kering dan parutan laos berwarna kecoklatan.

Selain Ayam Goreng Laos, Tony juga memiliki andalan menu Belut Penyet. Kuliner yang cukup populer di Jawa Tengah ini dihidangkan dengan campuran sambal yang cukup banyak. Dari beberapa menu Belut Penyet yang sudah saya coba, milik Tony tampil lebih “ramai” dari biasanya. Entah berapa ekor belut yang terhidang,  yang jelas warna merah dari sambal terlihat cukup mendominasi menu. Sebagai penikmat sambal, tentu saja saya memberi nilai plus untuk ini.

Jika biasanya Belut Penyet dihadirkan dalam piring biasa atau berbahan tanah liat, Tony menghidangkannya di atas selembar daun pisang dan piring rotan. Menu tradisional ini dihadirkan dengan gaya cukup “tradisional”. Rasa pedas yang saya piker akan mendominasi ternyata agak di luar ekspektasi saya. Setidaknya saya tak sampai harus meneguk air dingin bergelas-gelas untuk menetralisir rasa pedas. Campuran aroma wangi daun Kemangi juga mengimbangi rasa pedas dan aroma belut yang kuat.

Tony menyuguhkan minuman khas Yogya untuk menutup hidangannya. Wedang Uwuh, Secang, Wedang Jahe dan Wedang Serai dihadirkan sekaligus mengimbangi udara malam Magelang. Wedang Uwuh menurut literature Jawa berarti “minuman sampah”. Nama yang tak sedap ini diambil dari penampakan Wedang Uwuh yang lebih mirip timbunan daun-daun kering (sampah) daripada secangkir minuman.

Wajar saja, minuman berkhasiat ini terdiri dari potongan jahe, gula batu, kapulaga, cengkeh, kayu manis, daun kayu manis, serai dan secang. Meski tampilannya cukup “ramai” tapi Wedang Uwuh memang sudah menjadi minuman favorit saya jika berkunjung ke Yogyakarta dan sekitarnya. Soal rasa, Wedang Uwuh mungkin lebih cocok dikatakan sebagai minuman herbal tradisional. Berbeda dengan jamu yang pahit, minuman “sampah” ini justru terasa manis dan menyegarkan.

Voor de Tidar adalah rumah makan yang tampil sederhana. Area makannya terdiri dari ruangan dengan gaya lesehan dan meja kursi biasa. Dindingnya dipenuhi foto-foto lawas hasil googling Tony dalam mencari jejak sejarah Magelang. Beberapa suvenir seperti mug, kaos dan gantungan kunci juga bisa dibeli di rumah makan ini.

 

Istimewanya, sebuah album tentang sejarah kota Magelang juga turut terhidang di meja makan mendampingi buku menu. Buku album ini tentu saja tidak berisi daftar makanan tapi foto-foto sejarah tentang Magelang yang didapat Tony dari berbagai sumber. Nah, sembari mengisi perut, saya juga bisa sekalian belajar sejarah kota Magelang di sini.

“Smakelijk Eten”

Voor de Tidar

Jl. Gatot Subroto No. 58

Magelang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s