Mengenal Magelang #part1: Nggowes!

Sudah lama saya tidak menggowes sepeda, apalagi dalam rangka berwisata.  Meski sekarang sudah jauh disaingi oleh sepeda motor, tapi moda transportasi roda dua yang menggunakan tenaga manusia ini masih sangat digemari. Saat mengunjungi kota Magelang di Jawa Tengah, saya bahkan ditawari untuk berwisata keliling pedesaan sekitar Borobudur dengan menggunakan sepeda. Lebih istimewa karena sepeda yang saya gunakan adalah jenis onthel. Sepeda tua yang harusnya sudah masuk jajaran koleksi museum.

Sepiring sawut dan kacang rebus menjadi porsi cemilan saya sebelum memulai perjalanan. Sawut adalah kuliner khas Magelang berupa singkong yang diparut, dikukus matang dan ditaburi parutan kelapa. Di beberapa kota, sawut kadang diberi tambahan gula pasir untuk memperkaya rasa.

Saya sebetulnya lebih akrab dengan sepeda gunung masa kini dibanding sepeda onthel. Untuk mengendarai onthel, saya harus menyesuaikan diri dulu dengan ketinggian sepeda. Untuk ukuran sepeda yang sudah uzur, onthel ternyata membuktikan kualitasnya. Tak ada sistem gear di pangkal rantai roda tak membuat gowesan saya menjadi berat.

Teknologi zaman kolonial ini ternyata masih layak diandalkan. Kerangka sepeda masih tampak mengkilap dan terawat. Saya tak melihat ada karat di badan sepeda. Menjalani rute di jalan pedesaan yang sering berlapis tanah tak membuat onthel sulit dikendarai. Kemudi onthel terasa mudah untuk dikuasai dengan posisi mengayuh yang tak kalah ergonomis dengan sepeda lipat masa kini.

Menjadi cukup menantang karena menjelang perjalanan, hujan turun cukup deras. Heru, pengelola penyewaan sepeda merasa tak khawatir dengan kondisi jalan becek akibat hujan. Menurutnya, sepeda produksi tahun 1950-1970an tersebut mampu menjalani rute licin sekalipun.

Heru tak salah. Sepeda tua yang masih kinclong dan kokoh ini beberapa kali menerobos jalan yang tak rata tanpa membuat pantat saya sakit. Dengan kecepatan yang agak tinggi (untuk ukuran sepeda), saya menikung dengan cukup mulus di sebuah tikungan dan masuk ke jalan tanah yang basah dengan stabil. Untuk sepeda yang usianya sedikit berbeda dengan saya, kemampuan onthel ini cukup mengejutkan saya.

Heru juga punya ide unik. Baginya onthelan ini tak sekedar nggowes sepeda zaman lawas. Saya diberi pilihan beberapa ukuran topi bergaya kumpeni untuk digunakan selama perjalanan. Tentu bukan untuk menjadi tuan tanah atau mandor, tapi sekedar menghadirkan sedikit nuansa masa kolonial. Dikenal juga dengan nama topi Demang, topi ini memang lekat dengan para onthelist.

Desa Tingal Kulon menjadi pemberhentian saya yang pertama. Suasananya sepi dengan jalannya yang agak sempit dan berlapis tanah. Rumah di sini kebanyakan punya halaman jauh lebih luas daripada rumah-rumah di ibukota. Tak ada pagar tinggi bak penjara. Yang ada pagar sederhana setinggi pinggang orang dewasa yang terbuat dari kayu.

Saya mengunjungi sebuah industri batik rumahan yang bernama Batik Tingal. Tidak seperti butik di kota-kota besar, Batik Tingal tampil seperti rumah pedesaan biasa. Tak ada pintu kaca beralas karpet “welcome” apalagi udara sejuk dari AC di dalam ruangan. Batik Tingal adalah usaha rumahan yang dikelola oleh warga sekitar. Ibu Lussy adalah pemilik butik sederhana ini. Beberapa koleksi baju batik, scarf, gantungan kunci dan kain menjadi koleksi dari usaha Ibu Lussy ini. Tapi atraksi sesungguhnya bukanlah sekedar belanja batik, tapi ikut belajar membatik dengan para mentor batik setempat. Dengan motif-motif sederhana, saya bisa sedikit menimba ilmu warisan budaya leluhur ini.

Hujan belum terlalu reda, tapi saya harus melanjutkan perjalanan.  Dengan bergaya Demang, saya melanjutkan perjalanan dengan kondisi jalan yang licin dan sedikit berlubang di beberapa tempat. Saya mengunjungi sebuah spot peristirahatan di mana saya bisa menyaksikan lajunya arus Sungai Elo yang menjadi salah satu sungai utama di Magelang. Sayangnya karena musim hujan, arus sungai ini sedikit mengganas dan Nampak keruh. Di saat arus sedang normal, sungai ini juga menjadi jalur wisata rafting.

Satu batok kelapa muda dan sepiring gorengan menemani saya  beristirahat. Deru Sungai Elo mengantar saya pada gerbang senja. Hujan tak lagi mengucur meski masih menyisakan jalan licin buat onthel tua. Tapi tak jadi masalah! Sejauh ini jalanan licin terbukti tak menjadi halangan bagi sepeda tua itu.

Iklan

One response to “Mengenal Magelang #part1: Nggowes!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s