Mengenal Magelang #Part2: Batu Ajaib!

Kalau kemarin saya menjelajah pedesaan sambil menggowes onthel, hari ini saya ditantang untuk menjelajahi perbukitan Menoreh dengan kendaraan off-road. Soal kondisi jalan, pastinya saya akan memilih jalan mulus. Tapi kali ini saya berubah pikiran. Tidak sering saya melalui jalur off-road dengan kendaraan khusus sambil terguncang-guncang. Meski bukan jalan rata yang nyaman, tapi setidaknya jalur off-road ini bebas macet dan kondisi rutenya tak bakal membuat saya ngantuk.

Desa Candirejo menjadi awal dari petualangan ini. Adalah Pak Tatak yang mengelola Candirejo Eco-Tourism di lokasi ini. Enam buah mobil yang semuanya berjenis Jip sudah dalam kondisi siap untuk mengantar para tamu. Mobil tertua adalah jenis Willys buatan tahun 1948, sedangkan mobil terbaru adalah Jimny LJ80V produksi Suzuki tahun 1983. Saya memilih sebuah kendaraan dengan generasi lebih baru dari Willys. Mobil ini punya atap terbuka dan roda khusus untuk medan berlumpur serta hanya memuat tiga penumpang plus seorang supir. Meski agak sempit, tapi mobil ini cukup ampuh untuk melalui jalan dengan kondisi ekstrim. Menurut Pak Tatak, mobil-mobil ini milik pribadi dari anggota IOC (Independent Off-road Community).

Awalnya perjalanan hanya melalui jalan aspal berbukit sebelum berbelok menuju jalur setapak yang dipenuhi ilalang. Beberapa perkampungan yang cukup sepi saya lalui. Tak ada kendaraan lain yang saya lihat. Nampaknya memang tak ada kendaraan bermotor lain yang mampu mencapai daerah ini kecuali segelintir sepeda motor milik warga.

Jalan setapak ini cukup menguras konsentrasi supir. Selain kadang berlapis lumpur tebal, jalur kadang menanjak curam dan berbelok tajam. Melewatinya, kadang saya harus menunduk untuk menghindari ranting-ranting pohon liar yang kadang tumbuh rendah sebatas kepala penumpang mobil. Bagi penderita “takut ketinggian” sebaiknya tidak terlalu sering melihat ke samping karena jalur berliku ini cukup sering meyusur jurang dengan jalanan alami tanpa pagar pengaman apa pun. Sedikit saja lengah, mobil pasti nyemplung ke jurang.

Memang ini bukan off-road tingkat tinggi. Saya tak menemui medan berlumpur tebal yang membuat roda mobil njeblos tanpa daya. Saya juga tak harus basah kuyup karena mobil menyeberangi sungai. Wisata off-road ini bisa dilakoni oleh rombongan keluarga. Medannya juga bukan kelas ekstrim yang bisa berakibat wajah cemong dan mobil belepotan.

Rute ini diakhiri dengan tikungan tajam sambil menanjak curam. Meski supir harus beberapa kali bermanuver, tapi jalur berikutnya terasa lebih bersahabat. Tak ada lagi lumpur tebal atau sambaran ranting pohon. Kali ini jalannya meski masih sempit dan berliku tapi sudah dilapisi beton. Perjalanan menjadi agak santai karena beberapa kali mobil berhenti untuk memberi saya kesempatan mengambil gambar pemandangan.

Tujuan utama dari perjalanan ini situs Watu Kendil. Situs ini sebenarnya sangat populer di kalangan warga setempat karena keunikannya. Sebuah batu berukuran besar dengan tinggi sekitar tujuh meter dan bagian bawahnya yang agak mengkerucut, berdiri tegak di ujung jurang. Tentu saja secara ilmiah ini butuh penjelasan mendetil dengan rumus-rumus keseimbangan. Tapi mitos yang diyakini warga selalu lebih menarik untuk disimak.

Ada yang bilang bahwa Watu Kendil adalah simbol dari keseimbangan alam di Magelang. Jika terjadi semacam “goro-goro”, sang batu besar akan jatuh menggelinding dan dari tempatnya berdiri akan mengalir air sangat deras yang akan membanjiri kawasan Magelang menjadi danau. Ada juga mitos yang mengisahkan tentang legenda ular raksasa sang penunggu batu yang juga menjadi tempat untuk menyepi sekaligus bertapa. Benar atau tidak, yang jelas mitos tersebut tak bisa lepas dari keyakinan warga.

Untuk mencapai Watu Kendil, saya harus berjalan kaki dari jalur off-road sekitar 10 menit melintasi tanjakan dan sebuah desa kecil di sisi hutan. Watu Kendil sendiri selain tenar karena keajaiban fenomena “keseimbangannya” juga merupakan spot terbaik untuk menyaksikan pemandangan Magelang dari ketinggian. Sisi kanan batu adalah lokasi yang paling menyenangkan untuk bersantai sambil menyaksikan pemandangan. Saat cuaca cerah, Candi Borobudur bisa terlihat dari lokasi ini meski harus menggunakan teropong.

Selesai menyaksikan keajaiban Watu Kendil, saya melanjutkan perjalanan dengan trekking menyusuri perbukitan. Ada beberapa spot lain yang menarik di perbukitan Menoreh ini dan bisa dijadikan tempat untuk menikmati pemandangan kota Magelang dari ketinggian. Beberapa di antaranya sudah difasilitasi dengan bangunan sederhana untuk sekedar berisitirahat. Warga setempat kelihatannya juga sudah akrab dengan wisatawan yang melintas. Maklum saja, Menoreh memang kian terkenal sebagai spot untuk menyaksikan Borobudur dari sisi yang berbeda.

Iklan

One response to “Mengenal Magelang #Part2: Batu Ajaib!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s