Cerita Dari Terengganu #1: Fellowship of Jigging

Mereka memanggilnya Macho Man.

Chief Editor sebuah majalah travel di Korea Selatan ini bergabung bersama saya dan sekitar 200 peserta lainnya dari hampir 30 negara yang akan meramaikan acara International Squid Jigging Festival di Terengganu, Malaysia. Dalam istilah lokal, acara ini lebih populer dengan “Mencandat (memancing) Sotong”. Meski berasal dari Negeri Ginseng, Macho Man bagi saya lebih mirip serdadu Jepang dengan kepalanya yang hampir pelontos dan selalu tertutup topi atau bandana. Ia telah berkelana ke berbagai negeri di dunia. Kisah-kisahnya sering menggelitik saya.

Saya (kiri) dan Macho Man (kanan)

Tugasnya sebagai seorang Chief Editor juga membuatnya jeli melihat potensi nilai sebuah liputan. Ia menghilang entah ke mana saat tiba di sebuah lokasi liputan. Dan kembali ke dalam bus di akhir acara dengan serentetan analisa tourism development programme.

I love the fish but I don’t like the feeling when it bite me”, jelasnya saat saya sedang asyik mencelupkan kaki di sebuah danau yang lalu dikerubuti segerombolan ikan Kelah yang ukurannya lebih besar dari lele Dumbo yang berkembang subur di era Orde Baru dulu.

Tak seperti awak media lainnya yang kerap menenteng kamera besar dengan lensa panjang, Macho Man nyaris tak mengeluarkan kamera sepanjang perjalanan. Bahkan saya tak yakin ia membawa kamera. Bicaranya kadang nyeletuk dan spontan, kadang ia hanya diam sambil tersenyum melihat kawan-kawan satu timnya saling bercanda.

Alfredo saat pengambilan gambar di Elephant Village

Alfredo saat pengambilan gambar di Elephant Village

Macho Man adalah sebagian dari media asing yang meramaikan acara ini. Satu tim dengan saya, empat orang dari Chile dengan cepat menjadi primadona di acara yang digelar selama seminggu ini. Mereka adalah para videographer dengan pentolannya, Alfredo yang berperan sebagai host. Sepanjang acara, keempat orang Chile ini menjadi peserta yang paling sibuk. Mereka  bekerja hampir tanpa henti sembari menyapa semua peserta dengan akrab. Kemana pun tim Chile ini pergi, semua peserta menyapanya “Hey Amigo!” Kontan saja sebutan ”Amigo”, “Alfredo”, “Pepe (sang cameraman)” dan “Chile” selalu menggema selama satu minggu penuh!

Sebagai warga dari “bangsa yang ramah”, saya rasa negeri ini harus belajar banyak dari Chile.

Masih satu tim dengan saya, Simin Saghafi, seorang jurnalis wanita dari Iran juga ikut meramaikan acara lomba memancing sotong ini. Awalnya saya terkejut dengan hadirnya Simin. Wanita manis berhijab ini berasal dari negeri yang bagi saya tidak memberikan kebebasan pada wanita dalam profesi kantoran. Apalagi menjadi jurnalis. Simin mungkin menambah rasa penasaran saya pada Iran. Selama perjalanan saya pikir ia akan mengurung diri, menghindar dari tatapan pria atau bahkan tak mau berbaur dengan kawan lainnya. Tapi saya keliru! Simin selalu duduk di bagian belakang saat di dalam bus. Ia bersama tim Chile, Macho Man dan rekan-rekan jurnalis pria lainnya justru tak henti-hentinya bercanda di dalam bus. Ia tak segan berjalan-jalan di dalam bus sambil membagikan kartu namanya ke semua peserta dan mengajaknya sedikit mengobrol.

Simin Saghafi (berdiri paling kiri)

Simin Saghafi (berdiri paling kiri)

From Indonesia? Oo.. I love your country,” katanya pada saya sambil tersenyum manis.

Berbeda dengan Simin yang menjungkirbalikkan pandangan saya pada wanita Iran, Joyce Koh justru sebaliknya. Wartawan majalah lifestyle asal Kuala Lumpur ini meski terlihat bak anak gaul, tapi ia selalu duduk menyendiri di bus. Satu minggu bersama dalam satu bus, Joyce baru banyak mengobrol dengan saya di hari terakhir sebelum saya pulang ke Jakarta. Bersama dengannya, John Lee, Hafiz dan Brendan adalah gerombolan wartawan Malaysia yang paling dekat dengan saya. Hafiz bahkan berdarah Indonesia. Ibunya adalah warga asli Mandailing dan ia mengoleksi lagu-lagu pop Indonesia era 80-an. “I suka sekali Broery,” katanya sambil kemudian melantunkan lagu Angin Malam.

Hafiz (tengah) dan John Lee (kanan)

Hafiz (tengah) dan John Lee (kanan)

Ada juga Jimmy Yee Sing Yap, senior marketing sebuah publisher yang selalu menawarkan saya kuliner lokal dan paham betul soal badminton.

Why Indonesian badminton now is not as good as the era of Icuk Sugiarto?” tanyanya pada saya.

Ia juga paham soal duet maut Rexy dan Ricky. “Malaysian team now trained by Rexy,” katanya. Saya dan Jimmy memang berkawan akrab. Tapi soal badminton, kami berasal dari dua bangsa yang saling seteru. Musuh bebuyutan yang tak kunjung damai! “Saya rindu pemain Malaysia seperti Rashid Sidek,” kata saya. “Oh I miss Susi Susanti also,” jawabnya.

Muhammad Hafiz tak tertarik soal badminton. Videographer asal Malasyia ini sibuk mengambil gambar ke sana ke mari. “You pernah mendaki Semeru? Bulan September I akan ke sana,” katanya. Rupanya di balik sosoknya yang terlihat kalem dan penuh senyum ini, Muhammad Hafiz adalah seorang pendaki.

Dari tanah air, Anazkia dan Novita Anggraini menemani saya dari Jakarta sejak subuh. Mereka adalah blogger yang juga ikut dalam ajang mencandat sotong ini. Malamnya, Olivia Bendon yang juga travel blogger asal Indonesia turut bergabung di bandara Sultan Mahmud, Terengganu. Bersamanya, Mohammad Asy Syauqie juga turut serta. Blogger asal Nanggroe Aceh Darussalam ini sebelumnya memang sudah akrab dengan Negeri Jiran.

Teman-teman dari Indonesia

Teman-teman dari Indonesia

 

Berburu Sotong

Hampir 35 derajat Celsius! Temperatur seperti ini harus saya jalani di tempat terbuka tanpa perlindungan. Betul, karena saya berada di tengah laut dan harus mencandat sotong saat tengah hari hingga malam tiba. Dengan menumpang kapal nelayan lokal, saya mengarungi perairan Terengganu di sekitar Pulau Redang, Perhentian dan Pulau Kapas. John Lee satu kapal dengan saya bersama dengan Syaukie, blogger Malaysia Rosmaria dan Ashriq Fahmy, wartawan surat kabar di Malaysia.

Berburu sotong dibagi menjadi dua hari. Kami harus mencari sotong sebanyak-banyaknya dengan berbagai spesies dan ukuran. Ritual dari zaman nenek moyang Melayu ini dikemas dalam ajang festival internasional. Puluhan kapal nelayan menyerbu perairan Terengganu dengan berbagai harapan dan optimisme serta satu tujuan, yaitu mencari sotong! Tapi bagi saya, ini bukan sekedar lomba. Tapi Ini sebuah persahabatan!

supported by

1977144_689627361078285_181560165_n

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s