Cerita Dari Terengganu #2: The Big Fish!

Nama Cyprinidae tak akrab di telinga saya. Nama latin dari jenis salah satu keluarga ikan air tawar ini punya banyak nama di banyak daerah. Habitatnya menyebar di Asia meski diyakini daerah asalnya mencakup wilayah Australia.

Di Malaysia, ikan ini disebut ikan Kelah. Saya menemuinya dalam perjalanan saya di Terengganu. Bermula dari Tasik Kenyir, sebuah kawasan danau wisata di sebelah barat kota Kuala Terengganu, di sini saya menuju ke Pangkalan Gawi. Sebuah dermaga penyeberangan untuk menjelajahi Tasik (danau) Kenyir.

Tasik Kenyir diklaim sebagai danau buatan manusia terbesar di Asia Tenggara. Dulunya ini adalah sebuah perbukitan dengan hutan yang lebat. Di sini juga terdapat bendungan hydro-elektrik yang menampung air danau seluas 260.000 hektar. Daratannya mencapai luas 38.000 hektar dengan jumlah pulau 340 buah. Pulau terbesarnya bahkan hampir menyamai luas Singapura!

Mengarungi danau ini hanya dibutuhkan speed boat yang berpenumpang delapan orang. Meski hanya sebuah danau buatan, di beberapa tempat ombak danau ini hampir mirip dengan laut. Apalagi jika angin sedang bertiup cukup kencang. Pemerintah setempat memberdayakan bukit-bukit yang kini menjadi pulau-pulau buatan di tengah danau.

Pulau-pulau rekreasi

Tak hanya menjadi pulau kosong, saya bahkan bisa melihat Bird Park, sebuah pulau yang disulap menjadi tempat pengembangan habitat aneka jenis burung. Ada lagi Taman Botani, Taman Orkid (anggrek), Taman Rambutan dan Taman Tropika yang masing-masing dikembangkan di satu pulau tersendiri.

Saya singgah sebentar di Taman Tropika. Sebuah pulau kecil yang dulunya hanya berupa gundukan bukit tak terkelola. Petugas di sini menyambut saya dengan jus buah cery sebagai welcome drink. Buah berkhasiat sebagai anti-oksidan ini memang dikembangkan secara khusus di sini. Ada beberapa jenis tanaman lain yang tergolong langka dan memang dipelihara secara intensif.

Buah Ajaib adalah salah satu jenis buah yang dikembangkan di Taman Tropika. Bentuknya mirip melinjo dan warnanya merah menyala. Apa ajaibnya buah ini? Saat saya makan, mulut saya dipenuhi rasa asam, tetapi tenggorokan saya didominasi rasa manis yang bertahan cukup lama meski saya sudah menenggak air minum cukup banyak. Tak ada resor di pulau kecil ini. Hanya ada posko petugas yang terlihat rapih.

Pulau romantis

Saya berlanjut ke Taman Orkid atau anggrek. Meski pulau ini sederhana, tapi di dalamnya saya bisa tenggelam dalam warna-warni aneka jenis anggrek. Salah satunya adalah anggrek dari Indonesia. Taman Orkid terdiri dari dua pulau kecil yang dihubungkan dengan jembatan gantung yang terbuat dari besi. Sangat aman meski sensasi goyangnya tetap terasa saat menyeberang.

Kedua pulau ini merupakan sanctuary dari aneka spesies bunga anggrek. Selain anggrek, Taman Orkid dipenuhi pepohonan rindang yang cukup tinggi. Di tengah pulau terdapat bangku yang dikitari pepohonan dan anggrek. Sepertinya pengelola memahami suasana romantis di pulau ini.

Dikerubuti ikan

Dari Taman Orkid, saya harus menempuh perjalanan sekitar 40 menit menuju Kelah Sanctuary. Ini adalah sebuah pulau yang cuku luas dengan kontur tanahnya yang sedikit naik turun. Di pulau inilah terdapat habitat ikan Kelah yang sangat banyak. Ikan yang tenar di Negeri jiran ini berukuran cukup besar. Bentuknya mirip ikan lele dengan tubuhnya lebih gemuk dan berisi.

Dari dermaga, saya harus menapaki anak tangga yang jumlahnya lebih dari 100. Melelahkan, tapi cukup menyenangkan karena fasilitas pengamanan sudah tersedia dengan baik.Selepas anak tangga, saya menyusuri hutan dengan jalur kanopi yang terbuat dari beton. Saya membelah masuk ke dalam hutan dengan bunyi serangga yang bersahut-sahutan di dalamnya. Suasananya cukup adem dengan udaranya yang masih sangat segar. Maklum saja, Tasik Kenyir ditempuh dalam waktu dua jam dari pusat kota Kuala Terengganu. Menuju ke sini, saya disuguhi pemandangan yang masih asri.

Selepas menyusuri kanopi, saya harus menyeberang sungai. Kali ini bukan dengan jembatan yang bergoyang-goyang, tapi dengan rakit berbentuk segi empat yang ditarik dengan tali oleh para petugas. Sederhana, tapi menaikinya butuh keseimbangan. Sedikit saja kita berdiri di posisi yang salah, maka rakit akan oleng dan akibatnya saya bisa tercebur!

Saya menuju ke sebuah tempat yang bernama Lubuk Kejor. Setelah menyeberang dengan rakit, saya harus kembali menyusuri jalan setapak membelah hutan dengan rute naik turun. Lubuk Kejor adalah tempat di tepi sungai yang menjadi habitat ratusan ikan Kelah. Saya cukup duduk di tepi sungai sambil mencelupkan kaki dan ratusan ikan ini akan berenang di sekitar kaki sambil menggigit kulit kaki. Rasanya? Saya hanya bisa tertawa sekencang-kencangnya karena yang saya rasakan hanya geli, geli dan geli!

Berbeda dengan fish therapy di  shopping mall yang ikannya berukuran kecil, di Lubuk Kejor ukuran ikan jauh lebih besar dan gerakannya juga lebih agresif. Kalau kurang puas, boleh sekalian terjun ke dalam sungai dan berenang bersama ikan Kelah. Asalkan tahan geli, tentu saja ini mengasyikkan!

 

 

supported by

1977144_689627361078285_181560165_n

 

Iklan

5 responses to “Cerita Dari Terengganu #2: The Big Fish!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s