Cerita Dari Terengganu #4: Penyu Penunggu Gang

 

Joyce Koh bercerita pada saya tentang sebuah gang sempit di daerah Pecinan Kuala Terengganu yang dihiasi banyak mozaik penyu. Namanya Turtle Alley dan menurutnya tidak sulit menemukan lokasi ini. Joyce Koh adalah seorang wartawan Malaysia dengan medianya yang berbasis di Kuala Lumpur. 

Joyce sendiri sudah beebrapa kali mengunjungi Kuala Terengganu, tapi baru kemarin ia menemukan Turtle Alley secara tidak sengaja. Saat sedang menghabiskan waktu menunggu makan malam, Joyce ngacir dari hotel dan blusukan seorang diri di kawasan China Town yang juga dikenal dengan nama Kampung Cina. Saat sedang blusukan itulah ia menemukan gang sempit yang dalamnya dipenuhi gambar penyu berwarna-warni.

My friend told me about this alley many years ago. He made a video about this. And I don’t know where it is until I found it by myself yesterday”, kata wartawan Malaysia yang tak pernah lepas dari kamera itu.

Saya sendiri hampir tak punya waktu untuk berjalan-jalan bebas karena selama di Kuala Terengganu banyak liputan yang harus saya kerjakan. Untungnya di hari terakhir saya punya sedikit waktu untuk mengeksplor sendiri ibukota Negeri Terengganu ini.

Sesuai petunjuk Joyce, saya berjalan menuju Kampung Cina setelah sebelumnya mampir di Pasar Payang yang merupakan pasar tradisional terbesar di Kuala Terengganu. Bersama dua rekan saya yang juga wartawan Malaysia, John Lee dan Hafiz, saya mengarah ke kawasan pecinan. Joyce turut serta dengan kami.

Kampung Cina dulunya dikenal dengan nama Jalan Bandar. Mungkin karena lokasinya dekat dengan waterfront yang menghadap ke Sungai Terengganu. Sungai besar ini mengarah ke utara dan langsung menuju ke Laut China Selatan yang berbatasan dengan Thailand.

Kampung Cina mirip dengan Jonker Street di Melaka, hanya saja di sini lebih sepi dan unik karena jalanannya dilapisi cone block dan hampir sepanjang jalan saya bisa melihat lampion berwarna cerah saling bergelantungan memayungi jalanan. Pertokoan dan restoran memenuhi sisi jalan dengan beberapa turis yang mondar-mandir dengan kamera. Kebanyakan toko yang ada di sini adalah penjual pakaian dan toko kelontong yang dipenuhi aneka barang dagangan. Sisanya adalah kafe, kopitiam dan rumah makan.

Turtle Alley terletak hampir di ujung Jalan Kampung Cina. Gang ini sangat sempit dan hanya bisa dilalui satu arah. Jika kebetulan berpapasan dengan orang lain, maka harus rela jalan pelan-pelan sambil memiringkan badan. Lebarnya mungkin sekitar satu meter, tapi dindingnya cukup tinggi karena gang ini diapit dua bangunan besar, yaitu kafe dua lantai dan sebuah toko.

Di kanan kiri dindingnya terdapat gambar-gambar mozaik tentang penyu dan beberapa trivia tentang kelangsungan hidup penyu. Mozaik-mozaik ini sebagian bahkan berkisah tentang persahabatan penyu dan seorang anak manusia. Ceritanya cukup mengharukan dengan ilustrasi gambar yang menarik. Untuk membacanya satu per satu, mungkin akan membuat gang sempit ini menjadi macet total.

Penyu memang menjadi semacam maskot di Terengganu. Daerah ini banyak disinggahi penyu yang mendarat di pesisir untuk bertelur. Saking banyaknya penyu yang bertelur di sini, jangan kaget bila melihat terlur-telur penyu ini bertebaran di Pasar Payang. Ini memang illegal, tapi dilema dengan kebudayaan setempat perlu dipertimbangkan.

 

supported by

1977144_689627361078285_181560165_n

 

Iklan

4 responses to “Cerita Dari Terengganu #4: Penyu Penunggu Gang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s