Segala Rasa di La Piazza

Soal kenyang, saya tergolong orang yang susah kenyang kalau ada di tengah acara yang berbau “kuliner”.

Sudah lama saya tak menghadiri acara festival makanan. Tentu saja saya memendam rasa rindu untuk petualangan icip-icip marathon seperti yang sering saya lakukan dulu. Dari satu tenda ke tenda yang lain. Dari satu gubuk ke gubuk lain. Dari satu menu ke menu lain. Begitu seterusnya hingga uang di dompet saya ludes. Soal kenyang, saya tergolong orang yang susah kenyang kalau ada di tengah acara yang berbau “kuliner”.

Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) yang rutin digelar di Mal Kelapa Gading ini sedikit bisa mengobati rasa rindu saya soal berburu makanan. Konsepnya kali ini “Transforming Indonesia into Global Taste” dengan tema Pasar Gambir dan nama Kampoeng Tempo Doeloe (KTD) yang menjadi label di acara yang dihelat dari tanggal 9 Mei hingga 1 Juni 2014  ini.

Dibuka dengan bebek.

Seporsi nasi bebek goreng Kaleyo jadi menu pembuka saya. Saya sengaja memilih tiga jenis sambal yang bisa menjadi pendampingnya. Sambal hijau, samabal merah dan sambal manga yang penampakannya mirip mie karena buah manga muda yang digunakan dipotong tipis panjang seperti mie ayam. Bebek gorengnya sendiri digoreng kering hingga saya bisa memakan beberapa bagian tulangnya.

Saya memang bukan pecinta sambal meski saya sudah lulus makan oseng mercon level terakhir hingga ludes. Sambal hijau Kaleyo memang tak sepedas yang merah. Tapi yang merah pun masih kalah pedas dengan Bebek Goreng Pak Slamet atau sekelas Sambal Bu Rudy Surabaya. Sambal mangga mungkin terasa biasa saja dengan aroma asam pedasnya. Tapi bentuknya yang mirip mie kuning ini cukup menarik. Soal kekayaan rasanya, saya lebih memilih sambal mangga untuk menyantap bebek gorengnya.

Es roti goreng adalah menu pilihan saya berikutnya. Sebetulnya ini mirip es krim roti yang sering saya makan semasa kecil dulu. Bedanya, di sini rotinya digoreng dulu setelah sebelumnya dicelupkan di lelehan mentega panas. Tentu saja ini untuk menambah rasa gurih pada es krim yang tersedia dengan rasa durian, vanilla dan cokelat.

Saran saya, jika datang ke sini siang hari saat sedang terik, sediakan tisu basah karena es krimnya cukup cepat mencair. Bersiaplah dengan es yang lumer membanjiri tangan dan bisa berakibat tangan lengket karena campuran gulanya.

Romantisme Cakwe.

Siapa pun yang sedang jatuh cinta, saya sarankan untuk mengajak gebetan Anda makan cakwe!

Malam hari adalah waktu terbaik berburu makanan di JFFF. Selain matahari sudah menghilang, nuansa lampu-lampu hias, ferrish wheel dan live music tentu bisa menjadi bumbu pemanis kalau ke sini membawa pasangan. Saya membeli beberapa potong cakwe Medan dengan harga Rp 5.000/cakwe.

Di luar dugaan saya, cakwe ini digoreng kering hingga saya bisa merasakan crispy-nya saat menggigit. Sayangnya, di dalamnya sedikit kopong meski ukuran cakwe ini lebih besar dari cakwe yang biasa sering saya beli. Tapi tak apalah! Saya menyantapnya dengan pasangan saya jadi bisa suap-suapan mesra meski cakwenya tak padat berisi. Cakwe memang kudapan romantis. Itu sebabnya mengapa cakwe berbentuk panjang dengan dua adonan yang digoreng menempel. Siapa pun yang sedang jatuh cinta, saya sarankan untuk mengajak gebetan Anda makan cakwe!

Saya juga menyarankan untuk segera menyantap cakwe Medan ini selagi hangat. Karena telat sedikit saja maka minyak gorengnya akan mendominasi cakwe. Yang tadinya terlihat kering dan crispy, tiba-tiba menjadi mengkilap berminyak.

Saya beralih ke kuotie. Penampakannya mirip dim sum, siomay atau pangsit rebus. Cemilan yang juga dikenal dengan nama gyoza ini biasanya berisi daging ayam atau udang meskipun aslinya sering menggunakan daging babi. Rasanya cukup enak dengan kondisi kuotie yang masih panas dan dimakan dengan saus sambal manis pedas.

Meet the Meat!

 Tak hanya daging, di sini ada juga bagian jerohan

Saya belum puas! Warung penjual roti cane menarik perhatian saya esok harinya. Dengan harga Rp 35.000/porsi, saya memesan roti cane kari kambing. Tentu saja senjata andalan menu ini adalah kari kambing yang pekat dan potongan dagingnya yang khas.

Untuk karinya sendiri cukup pekat meski bumbunya masih kurang terasa kuat. Dalam pekatnya kuah, saya masih menemukan beberapa potong daging yang masih menempel dengan tulangnya. Tak hanya daging, di sini ada juga bagian jerohan. Bagi yang sedang menghindari santapan berkolestrol tinggi, sebaiknya hindari menu ini atau bisa memesan kari ayam sebagai pendamping menyantap roti cane. Roti canenya sendiri terasa kurang gurih meski minyak dari lelehan mentega sangat terasa.

Untuk menambah variasi rasa, saya juga mencicipi asinan juhi yang memberi nuansa lebih segar. Tidak terlalu mengenyangkan tapi cukup memberi kesegaran dan kekayaan rasa di mulut setelah dihantam oleh aroma kari kambing yang pekat. Asinan juhi tampil sederhana dengan mie kuning, saus kacang dan potongan juhi yang terbuat  dari daging ikan.

Para penggemar sate, bisa mencoba sate daging sapi atau sate ayam Blora yang ada di samping La Piazza. Selain bisa dibeli satuan (per tusuk), sate daging sapi ini terasa empuk dengan rasa manisnya yang khas. Dimakan dengan saus kacang, bawang dan potongan cabe hijau pasti akan membuat ingin tambah lagi. Penggila daging kambing juga bisa memesan kambing guling yang per porsinya dihargai Rp 27.000.

Rindu Solo.

Saya memang bukan orang Solo. Kota batik itu hanya beberapa kali saya datangi untuk keperluan pekerjaan. Tapi sampai sekarang, kota yang semakin tenar karena sosok Jokowi ini memang menjadi salah satu kota favorit saya kalau traveling.

Di La Piazza, saya bisa sedikit melepas rindu akan Kota Solo. Srabi Notosuman yang menempati kedai terdepan di samping La Piazza ini sudah diantre penggemarnya sejak siang bolong. Untuk antrenya saja saya beberapa kali harus mengelap keringat. Sayangnya di sini Srabi Notosuman hanya menyediakan dua rasa yaitu rasa original dan rasa cokelat.

Tapi tak apalah! Hadirnya Srabi Notosuman sudah bisa mengobati rindu saya akan Solo. Terlebih jika melihat cara memasaknya yang khas tradisional dengan cetakan-cetakan khusus.

Jajanan Jadul

Saya masih ingat betul permen cokelat berbentuk punting rokok semasa kecil saya dulu. Jajanan lawas ini ternyata hadir juga di JFFF La Piazza. Sebuah warung yang khusus menjual berbagai jajanan tempo dulu lengkap dengan pernak-pernik antiknya.

Sedikit bernostalgia, saya menemukan permen telur cicak, coklat Suzzana, permen karet Charlee (dulu namanya Chiclete), ting-ting jahe, permen Davos, permen kelinci, dan kuaci cap Gajah. Tentu saja semua ini adalah abrang-barang yang mendominasi warung di era 1980-an dulu sewaktu saya masih SD.

Selain Jajanan Tempo Doeloe

pantang pulang sebelum menggendut!

Meski menggemari minuman beralkohol, tapi di JFFF saya sama sekali tidak mencoba aneka wine yang ditawarkan di area Wine & Cheese. Dengan kondisi cuaca yang membuat saya menghabiskan dua handuk untuk mengelap keringat, tentu saja wine bukan pilihan yang cocok buat saya. Segelas bir dingin pastinya akan membuat saya jauh lebih nyaman dibanding wine.

Tapi buat pecinta wine JFFF bisa jadi ajang berburu yang mengasyikkan. Beberapa wine dari seluruh dunia hadir di sini. Sebut saja Simonsig (Afrika Selatan), Chryseia (Portugal), Dao (Argentina), Don Darias (Spanyol) dan Edward Joseph (Perancis).

Karena JFFF ini memeriahkan bulan Mei hingga tanggal 1 Juni 2014, jadi rasanya saya akan kembali ke sini untuk mencari rasa-rasa yang lain sekaligus menuntaskan kerinduan saya akan ritual makan marathon. Slogan saya adalah pantang pulang sebelum menggendut!

Iklan

4 responses to “Segala Rasa di La Piazza

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s