Maharasa di Belantara

Lokasinya berada di sebuah hutan mangrove yang jauh dari bisingnya pusat kota, tersembunyi di antara belukar yang gelap.

“Hanya perlu waktu satu bulan saja untuk membangun tempat ini”, jelas Mei Batubara dari Maharasa Indonesia saat menjamu saya dalam acara makan malam di Desa Gamtala, Jailolo. Tempat yang dimaksud Mei adalah sebuah bangunan pendopo yang terdiri dari dua rumah terpisah yang dihubungkan dengan lantai kayu. Lokasinya berada di sebuah hutan mangrove yang jauh dari bisingnya pusat kota, tersembunyi di antara belukar yang gelap. Mencapainya, dibutuhkan sebuah perahu kayu untuk menyusuri sungai sempit yang diapit lebatnya hutan mangrove.

Saya memulai perjalanan ini dari Desa Gamtala yang kini tenar sebagai sebuah desa wisata dengan paket menyusuri mangrove-nya. Atraksi utama di sini bukan hanya mangrove yang lebat, tapi air sungai yang jernih dan terasa hangat. Ini disebabkan oleh dua buah mata air panas yang mengucur deras di hulu  sungai.

Dinding hidup

Perahu kayu yang memiliki lebar tak sampai satu meter dan panjang sekitar lima meter membawa saya menyusuri sungai berair hangat ini. Di awal perjalanan, air sungai cukup jernih. Tapi berubah keruh seiring dengan semakin jauhnya perjalanan. Ini karena sungai ini langsung menuju ke laut lepas di Teluk Jailolo.

20 menit menyusuri sungai, perjalanan ini lebih mirip menyusuri lorong gelap yang terdiri dari pohon-pohon besar dan mangrove yang menghimpit sungai. Lebih mirip sebuah dinding yang hidup. Meski berukuran kecil, tapi perahu tak bisa bergerak lincah karena harus beberapa kali bermanuver di tikungan tajam dan perairan dangkal. Tak ada buaya atau biawak yang terlihat selama perjalanan. Hanya ada suara jangkrik dan hewan penghuni hutan lainnya yang memecah sunyi.

Tujuan saya adalah sebuah pendopo mungil tempat akan menikmati makan malam yang terletak di tengah belantara mangrove ini. Tak ada tanda-tanda perkampungan sama sekali di sekitarnya. Sejauh mata memandang, saya hanya melihat pohon yang tumbuh bebas ke segala arah, daun yang lebat dan keheningan pekat.

Pendopo mungil, hidangan besar.

Chef Ragil dari Maharasa Indonesia menyambut kedatangan perahu saya di sebuah dermaga sederhana yang berlapis kayu. Meski tampak apa adanya, tapi dermaga ini terlihat masih baru dengan kondisinya yang bersih. Untuk masa pembuatan hanya satu bulan, pendopo di dalamnya luar biasa nyaman. Sayangnya, beberapa menit sebelum perahu merapat hujan turun dengan deras. Hujan deras di tengah hutan mangrove sama sekali bukan hal yang menyenangkan. Selain menggigil kedinginan, ancaman serangan nyamuk hutan menjadi momok yang cukup mengerikan setelahnya.

Karena hujan yang menghujam cukup lebat, saya harus berlari di lantai papan yang menghubungkan dermaga dengan pendopo tempat makan malam berlangsung. Cukup kokoh dan tidak licin sama sekali meski diterpa hujan cukup lama.

Pendopo yang saya tuju sangat sederhana. Ditopang dengan enam buah pilar kayu, berlantaikan papan yang sangat rapat dan atap yang terbuat dari daun anti bocor ini ibarat sebuah gazebo mewah di tengah belantara yang misterius. Chef Ragil sedang asyik mempersiapkan kudapan pertamanya. Jagung bakar istimewa yang dilumuri minyak kelapa. Menurut chef pengisi acara “Makan Besar” di sebuah stasiun televisi swasta ini, minyak kelapa memiliki fungsi membantu panas dan pastinya mempercepat matangnya jagung bakar. Setelah kedingingan karena kehujanan di tengah hutan, jagung bakar memang pilihan terbaik untuk menghangatkan badan.

Selanjutnya, chef yang juga mengasuh website www.maharasaindonesia.com ini menyiapkan beberapa ekor ikan untuk dibakar. Ikan red snaper, tongkol, kerang air tawar dan beberapa jenis sambal sepertinya akan menjadi menu utama saya malam ini. Sebuah tungku khusus sudah disiapkan. Asapnya mengitari pendopo yang malam itu menjadi sentra keramaian sesaat di tengah hutan seluas 200 hektar tersebut. Satu-satunya hal yang mengkhawatirkan saya saat itu adalah gigitan nyamuk yang mulai menyerang sekujur tubuh saya. Nyamuk-nyamuk liar ini rupanya terlalu tangguh untuk dilawan dengan krim anti nyamuk yang marak dijual di mall dan apotek kota besar.

Belum lengkap tanpa sambal.

Chef Ragil sepertinya tak pernah melupakan hal-hal kecil. Melengkapi hidangan tiga ekor ikan bakar dan sepiring penuh kerang air tawar, tiga jenis sambal juga ia siapkan. Sambal iris (mirip dabu-dabu), sambal roa dan sambal masak (terasi, bawang dan cabai) menjadi pilihan saya untuk menemani makan ikan.

Sambal roa aslinya memang dari Manado. Sambal ini dibuat dari daging ikan roa yang kabarnya hanya terdapat di Manado. Benar atau tidak, yang jelas bagi penikmat sambal seperti saya, bahagia itu cukup dengan nasi hangat dan sambal roa!

Tak hanya sambal roa, mencocol ikan tongkol dengan sambal masak juga menjadi sajian istimewa. Red snaper yang disantap dengan sambal iris menurut saya juga tak kalah menarik. Ada rasa asam, pedas dan manis yang menyatu dengan aroma ikan bakar. Ramon Tungka, presenter Kompas TV, juga mengakui enaknya sambal-sambal sederhana ini. “Cukup nasi dan sambal saja, ini sudah enak!” tegasnya. Aneka jenis ikan memang menjadi hidangan idola malam itu, tapi bintang lapangannya tetap tiga jenis sambal yang sangat cepat ludes.

“Kami tak hanya ingin mengangkat makanan lokal, tapi juga ingin memberdayakan penduduk lokal. Makanan seperti ini mungkin biasa bagi warga di sini, tapi buat kita ini istimewa!” jelas Chef Ragil.

Mei Batubara juga menambahkan bahwa Jailolo banyak sekali menyimpan resep tradisional yang istimewa. “Saya sangat suka Gohu!” tegasnya. Kuliner Jailolo yang terbuat dari potongan daging ikan tuna itu memang populer di Halmahera Barat. Tak perlu dimasak di atas api, Gohu disajikan fresh alias mentah. “Uniknya Gohu adalah dia tidak dimasak dengan api, tapi dengan campuran air lemon yang punya sifat mematangkan,” tambah Mei.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s