Inspirasi Jajanan Jalanan

 

Eating is not about food. It’s about experience!” jelas Chef Roger Perez Gonzalez, Director Food & Beverages Century Park Hotel, Jakarta.

Bertemu dengannya di Dapour (restoran di Century Park Hotel) hampir memutarbalikkan imaji saya tentang chef hotel berbintang yang sering saya temui selama ini. Chef Roger banyak bertutur tentang kisah hidupnya. Soal teknik memasak, ia hanya menganggapnya sebuah permainan. “I’m a kid, I don’t want to grow up”, candanya sambil mengunyah marshmallow warna-warni.

Jiwa kanak-kanaknya inilah yang mungkin membuatnya tak betah bekerja di balik meja. Selain dibesarkan dengan berbagai resep keluarga di rumahnya, Chef Roger yang gemar traveling ini juga selalu memuja makanan pinggir jalan atau street food. Baginya makan murah meriah ini tak sekedar makanan tapi juga jendela budaya di balik hidangan itu sendiri. Menurutnya, memasak itu harus mengantarkan nilai-nilai tersendiri. Jika orang rela membayar lebih, maka yang didapat pun harus ada nilai lebih. Tak harus memakai bahan yang mahal, tapi yang penting adalah bagaimana meramunya.

Makanan jalanan jugalah yang menginspirasi Chef Roger dalam menghidangkan menu-menu di Dapour. Setiap dua bulan sekali ia meracik menu baru dan setiap hari ia mengganti tema masakan. Saat saya datang, Chef Roger sedang mengangkat tema masakan Betawi. Meski chef berdarah Meksiko ini sudah berkeliling dunia untuk memperdalam ilmu masaknya, ia tak mau meninggalkan kuliner asli Indonesia. Menurutnya, makanan Indonesia sarat keragaman. Dari satu daerah ke daerah lainnya bisa jadi sangat berbeda.

Sepiring nasi hijau menjadi menu saya untuk makan siang. Sambal goreng ati ampela, perkedel dan peyek udang menjadi pelengkapnya. Aroma wangi pandan sudah tercium saat saya mengambil nasi ini. Rasa gurihnya mengimbangi kuatnya rasa asin pedas sambal goreng ati ampela. Sedikit berbeda dengan warung pinggir jalan, sambal goreng ini terasa lebih kering karena hadir dengan minyak yang minim meski rasa pedasnya tak banyak berkurang. Peyek udang memang berukuran lebih kecil dari yang biasa saya temui di warung pinggir jalan. Tapi dengan pengolahan yang baik, Chef Roger meraciknya menjadi lebih renyah dan lembut meski tekstur crispy-nya tak berkurang. Jika biasanya saya harus berhadapan dengan minyak jelantah berlebih pada peyek udang, kali ini saya bisa menyantapnya dengan aman.

Mengadopsi menu pinggir jalan memang spesialisasi Chef Roger. Jika chef lain yang saya temui memfokuskan ilmunya pada hidangan barat, lokal atau China, chef yang juga gemar melukis ini justru memilih street food untuk spesialisasinya. Ia sering membuat bingung para pedagang makanan pinggir jalan karena penampilannya dinilai tak layak untuk nongkrong di warung sate. Tapi kecintaannya pada menu jalanan untuk menemukan rasa yang otentik memang tak bisa dicegah. “Satay in Jakarta is the best street food in the world,” akunya.

Dapour sendiri memiliki open kitchen yang cukup luas. Tak kurang 10 hidangan utama hadir dengan dapur terbuka di restoran yang buka dari pukul 06:00 hingga 23:00 ini. Di sisi kiri terdapat 100 Eatery & Bar yang berdesain minimalis dengan dinding kaca dan ornamen kayu yang sederhana. Di sudut ruangan terdapat beberapa meja khusus yang dirancang untuk keperluan pertemuan tertutup. Sederhana namun tetap elegan. Gaya ini terasa bersinergi dengan gaya Chef Roger yang menyukai menu sederhana namun mengolahnya menjadi spesial.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s