Mengenal Pekojan

 

Tahun 1984 saat kali pertama menginjakkan kaki di Jakarta, buat saya kota ini terlalu besar. Maklum saja, saya baru datang dari Kalimantan Timur saat itu dan masih berusia sembilan tahun. Tapi hingga sekarang pun buat saya Jakarta masih tidak cukup sederhana untuk dijelajahi.

MENYUSURI SEJARAH

Meski saya sering mendengar nama Pekojan, tapi itu bukan berarti saya pernah mengunjungi daerah ini sebelumnya. Kawasan yang terletak di Jakarta Barat ini sering terlewatkan dalam daftar daerah wisata DKI Jakarta. Ia kalah pamor dengan Taman Fatahillah yang setiap minggunya dipadati pedagang dan remaja yang menjajal kemampuan memotret.

 

Dari informasi yang saya terima, nama Pekojan berasal dari kata Koja, sebuah sebutan untuk warga India yang dulu menempati daerah Pekojan – meski sekarang Pekojan dikenal dengan Kampung Arab. Dari Taman Fatahillah, saya berjalan kaki menuju daerah bekas pemukiman warga India ini. Tak terlalu ramai, meski lalu-lintas di Jakarta buat saya adalah tetap ibarat film horror. Saya melalui Jalan Roa Malaka yang tak lebar dan dipenuhi bangunan tua yang nyaris tak terurus.

Dari sejarahnya, nama Roa Malaka ternyata menyimpan kisah sendiri. Ada anggapan nama itu diambil dari kata “rawa” dan “pohon malaka” yang dulu tumbuh di situ. Tapi kisah ini dibantah oleh catatan sejarah yang meyakini nama jalan ini berasal dari “Rua Malaka” yang artinya Jalan Malaka. Ini erat kaitannya dengan keberhasilan Belanda menguasai Melaka di Semenanjung Malaysia dan mengalahkan Portugis. Gedung-gedung di jalanan ini juga diyakini menjadi saksi bisu penyekapan tahanan Portugis oleh serdadu Belanda begitu Melaka berhasil direbut VOC.

Ruas ini memang penuh catatan historis. Saya bahkan menemukan gedung tua bergaya kolonial dengan tulisan besar di depannya “Galeri Malaka”. Entah apa isinya, yang jelas gedung ini mencerminkan nasib gedung tua kebanyakan: terbengkalai dan tak terurus – meski cat bangunannya masih terlihat mulus dan cerah.

SIAPKAN UPETI

Saya berbelok menuju Jalan Tiang Bendera. Ini jauh lebih sepi dari Jalan Roa Malaka yang kadang masih dilalui angkot. Jalan Tiang Bendera dipadati rumah warga di sisi jalannya. Tak teratur dan terkesan sumpek, seperti daerah di Jakarta kebanyakan.

Nama jalan ini sebenarnya tak berhubungan dengan lagu Berkibarlah Benderaku ciptaan Ibu Sud. Nama Tiang Bendera masih berawal dari zaman kolonial. Kala itu Belanda menerapkan sistem wijkenstelsel, pemisahanperkampungan warga Tionghoa dan pribumi. Jalan Tiang Bendera adalah salah satu konsentrasi pemukiman China terbesar di Batavia. Tiap bulannya, seorang kapiten China akan mengibarkan bendera di depan rumahnya. Itu artinya, saatnya bagi warga untuk menyerahkan upeti –semacam pungutan pajak. Jalan ini mengarahkan saya ke Pasar Pagi Lama. Bangunannya besar dan megah. Dari jauh, saya sempat terkecoh karena desainnya yang lebih mirip klenteng dibanding sebuah pasar tradisional.

MASJID-MASJID TUA

Siapa sangka masjid yang dianggap tertua di Jakarta justru susah untuk ditemukan? Masjid Al Anshor letaknya di Jalan Pengukiran II. Kendaraan bermotor cukup sulit menjangkaunya karena harus melalui gang sempit. Saya cukup bingung menentukan mana bagian muka dari masjid ini. Jalan masuknya hanya bisa dilalui orang dan diapit dinding tinggi berwarna gelap. Ada papan pengumuman di muka gang yang mencantumkan peraturan tentang cagar budaya, tapi sedikit terhalang oleh rangka besi yang berseliweran.

Meski sejarah mencatat bahwa masjid ini dibangun pada tahun 1648 oleh bangsa Moor, tapi bentuknya sudah tak mencerminkan budaya aslinya. Bangunan ini lebih mirip rumah warga karena memang sudah menyatu dengan perkampungan padat di sekitarnya.

Masjid Ar-Raudhah yang berjarak sepuluh menit berjalan kaki dari Al Anshor justru tampil beda. Meski karakter masjidnya tak menonjol dari luar, tapi interiornya cukup nyaman. Seperti masjid kebanyakan, masjid ini dipenuhi sajadah berwarna hijau dengan temboknya yang putih bersih. Bangunan luarnya berbentuk seperti rumah tinggal yang bergaya Eropa dan Betawi. Ar-Raudhah dibangun tahun 1901 oleh saudagar Yaman. Ada mata air di dalamnya yang konon dari dulu hingga kini sama sekali tak pernah mongering bahkan di musim kemarau panjang sekali pun. Dari awal pendiriannya hingga sekarang, Ar-Raudhah diutamakan untuk jamaah wanita.

Saya melanjutkan ke Masjid An-Nawier yang ukurannya lebih besar. Masjid ini dibangun tahun 1760 dengan bangunannya yang cukup besar danluas di dalamnya. Ada dua buah mimbar di muka ruangan. Mimbar besar yang terbuat dari marmer dan yang kecil terbuat dari kayu berwarna gelap. Dari penampakannya, saya menebak yang dari kayu berusia jauh lebih tua. 33 buah pilar besar bergaya Eropa ikut menopang bangunan yang terkenal dengan menaranya yang setinggi 17 meter di bagian tengah.

Menutup kunjungan ke masjid-masjid tua di Pekojan, saya mengunjungi Masjid Langgar Tinggi buatan tahun 1829. Bangunannya berukuran cukup mungil dengan dua lantai. Bagian bawahnya digunakan untuk jualan minyak wangi yang konon sudah dilakukan sejak zaman Belanda. Ibadah dilakukan di lantai dua dengan ruangan yang tak terlalu besar. Lantai masjid ini terasa adem dan kokoh dengan pintu kayu yang klasik. Ada semacam ruangan teras yang terdapat di depan pintu ruang ibadah. Dari situ saya bisa melihat sungai yang dulu sering dilalui jamaah untuk ke masjid ini dengan sampan. Sekarang, menyambangi masjid ini melalui sungai hanyalah mimpi belaka, karena sungainya yang sudah terlalu kotor.

PEKOJAN, BERBAGAI ETNIS

Pekojan, dulunya adalah kawasan yang dihuni etnis keturunan India sebelum kedatangan bangsa Arab yang sempat mendominasi daerah ini. Zaman pun berganti. Kini, saya tak banyak menemui wajah-wajah Arab di Pekojan. Daerah ini sekarang didominasi warga Tionghoa dan beberapa lagi warga Betawi.

Ratusan tahun telah berlalu. Wijkenstelsel memang tak lagi berlaku dan Pekojan tak lagi menjadi sentra pemukiman etnis tertentu. Namun masjid-masjid tuanya tak bergeming meski beberapa harus kehilangan bentuk awalnya.

Iklan

8 responses to “Mengenal Pekojan

  1. Saya paling miris melihat bangunan2 tua terbengkalai seperti di Roa Malaka itu. Andai lebih dirawat dan lebih bersih. Buat saya, Jakarta sangat punya potensi untuk mengalahkan kota2 lain di Asia Tenggara.

  2. 1984 Mas Yudas 9 tahun? Mas Yudas awet mudaaaaaa 😀 hehehehe

    Hmmm, ini kalau dirawat dan dipelihara dengan baik bisa jadi tempat wisata, ya? 😦

    Eh, Mas Yudas dapat data-data itu semua dari mana? Warga?

  3. Benar-benar tua masjid yang Mas Yudas kunjungi. Tapi kapan ya bangunan tua kita bisa terkelola dengan baik, biar bisa ditelusuri dengan nyaman kayak bangunan-bangunan tua di Prancis dalam film Before Sunset?

    • nah itulah pekerjaan rumah kita semua tampaknya. sekarang kelihatannya sudah mulai ada kepedulian untuk hal2 seperti ini. komunitas sudah ada, pemda sudah berinisiatif, tinggal eksekusinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s