Traveling Bersama Si Kecil

Banyak yang mengira puteri saya sudah saya ajak jalan-jalan ke banyak tempat di dalam bahkan luar negeri, sesuai dengan hobi dan pekerjaan saya. Padahal, saya sendiri bukan tergolong orang-orang yang dengan mudahnya booking tiket promo begitu maskapai beriklan di twitter. Untuk bisa plesiran bersama anak saya dengan menggunakan dana sendiri, saya harus menabung cukup lama. Maklum saja, jumlah tabungan saya sebagai single parent tak banyak.

Tak perlu jauh

Saya sadar bahwa saya tak mampu berfoto dengan puteri saya di depan Merlion atau Tembok Tiongkok. Itulah pasalnya saya sering mengandalkan kreativitas saja kalau mengajak anak saya plesiran. Toh plesiran ini tujuannya adalah bersenang-senang, mengenal banyak hal, belajar sambil main dan family time.

Saya pernah mengajak puteri saya jalan-jalan di Minggu pagi ke Taman Langsat di Jakarta Selatan. Tapi untuk menarik rasa petualangannya, saya tak bilang kita akan ke taman. Saya mengajaknya dengan istilah ke “Hutan Rahasia”. Saya memberi prolog bahwa di sana adalah hunian para peri hutan yang bermukin di pucuk-pucuk pohon tertinggi. Hati-hati dengan monster nakal yang suka menggoda anak-anak. Mereka hidup di balik pohon dan suka mengincar anak-anak nakal. Jadi jika bermain ke sana, jangan nakal.

image: supportforoscar.wordpress.com

image: supportforoscar.wordpress.com

Lokasi Taman Langsat memang tak istimewa. Hanya sebuah taman biasa yang mulai dimaksimalkan kembali sejak Jokowi memimpin DKI. Di sana hanya ada taman bermain dan trek mengelilingi taman rindang yang cukup luas. Tapi dengan sedikit bumbu dongeng monster hutan, jalan-jalan pagi bersama si kecil ini jadi adventure story yang tak kalah seru dengan kisah-kisah Agustinus Wibowo menyambangi negeri-negeri stan di Asia Selatan sana. Lagi pula, yang penting toh akhirnya momen kebersamaan dengan si kecil, bukan jarak atau jumlah stempel paspornya kan?

Petualangan ke sarang naga

Saya mendapat rezeki berlebih untuk berlibur. Saat saya ke Bandung bersama keluarga – tentu saja puteri saya turut serta, saya mengunjungi Happy Farm untuk memetik stroberi. Sebagai penggemar serial Strawberry Shortcake, tentu saja puteri saya lompat-lompat kegirangan. Tapi saya tak pernah membiarkannya plesiran tanpa imajinasi. Saya membisikinya “kalau kamu memetik stroberi terbaik yang paling manis, maka kamulah sang princess – The Chosen One”. Tentu saja ini untuk menghindari dia memetik stroberi semaunya dan melatihnya untuk selektif dan bertanggungjawab. Tak lupa setelah memetik stroberi bersama, dia boleh bangga naik kuda dan berlagak seperti Anne Hathaway mengitari taman istana Genovia dalam The Princess Diaries.

“Hey Dad, this is the best berry I can get”

“Okey, Princess.. this is Shadowfax, The Lord of Horse. Ride it like a Princess. Pssstt… don’t tell Gandalf, okey!”

 

Saat mengunjungi Tangkuban Perahu, saya membisikinya bahwa kita akan ke gunung tempat sarang naga. Di sana bercokol naga jahat yang menakut-nakuti warga desa dan hanya princess sejati yang bisa mengusirnya. Alhasil, begitu parkir mobil, puteri saya langsung menggandeng tangan saya sambil bilang, “ayo Pak kita usir naganya tapi temenin ya”.

“The Dragon Slayer” 🙂

Kami menyusuri tepian Tangkuban Perahu yang berundak-undak dengan pemandangan kawah di sisi kiri. “Itu rumah naga”, jelas saya. “Lho naganya mana?” tanya si Princess. “Sebentar, bapak tanya dulu ke orang-orang”. Saya membeli jagung bakar sebentar dan kembali lagi sambil membisikinya, “Naganya lari ketakutan karena tahu Princess mau datang. Ini jagung hadiah dari warga di sini”. Sekali lagi anak saya lompat-lompat kegirangan sambil teriak “Horee.. kita menang!” – sambil mengacung-acungkan jagung bakar, tentunya!

Sederhana

Bandung, petik stroberi danTangkuban Perahu. Ketiganya mungkin hal basi untuk orang-orang yang sudah mengoleksi banyak stempel paspor dan merasa dikenal luas di berbagai komunitas traveling. Tapi sering kita lupa bahwa anak-anak akan mengingat momen, bukan jarak. Ia akan ingat bagaimana ia menyusuri Tangkuban Perahu mencari naga, menyelinap di antara pohon menghindari monster hutan atau mencari stroberi demi mencapai gelar Princess. Bukan maskapai atau jumlah stempel paspor yang dikoleksinya. Ia tak paham visa on arrival, budget flight atau hot seat. Urgensinya adalah kebersamaannya bersama keluarga, bukan antri wawancara di kantor imigrasi.

Saya memang tak punya cukup uang untuk menjadi seperti kaum “traveller” lainnya. Untuk bisa bepergian, selama ini saya harus berkarya – buat saya ini jauh lebih baik daripada berhutang. Tapi saya punya imajinasi yang kaum “traveller” lainnya belum tentu punya.

 

about Princess.

Puteri saya, Laskar. Saat menulis ini, usianya baru beranjak enam tahun. Cita-citanya menjadi Chef dan tak pernah saya larang ikut saya meracik makanan di dapur. Ia fasih memotong cabai dengan pisau, cekatan menghindar dari letupan minyak panas saat menggoreng telur, menolak makan burger, piza dan fetucini, paling suka sup ceker ayam dan gethuk. Jangan harap mau tidur di malam hari sebelum baca buku “Pippi Si Kaus Panjang”.

 

 

Iklan

10 responses to “Traveling Bersama Si Kecil

  1. Baca ini ketawa-ketiwi sendiri bayangin princess 🙂
    Kadang membahagiakan anak kecil tak harus muluk-muluk pergi keluar negeri, bangga dengan Merlion, golden gate dkk. Bertamasya di tempat dekat kota asal pun bisa membuat anak bahagia, justru semakin mendidik agar tidak sombong dan semakin bangga dengan Indonesia 😀

    • aku pengalaman dari banyak kawan om. mereka bilang udah pernah ke negara ini itu.. pas aku tanya disana ngapain aja, jawabnya “gak taulah udah lama waktu gue kecil, mana gue inget”. loh kalo gitu ngapain jauh2 ke sana tapi nggak inget?

      sama seperti temen2 yang mamerin anaknya yang masih bayi udah diajak naik ke puncak gunung (menurutku pamer ya) alesannya biar mandiri dll. hey bro… mandiri nggak seperti itu. butuh proses panjang. usia anak itu ada tahap2annya dan kalo emang ga ada dana juga gak harus dipaksain traveling jauh kan? biasanya sih mentang2 ortunya nganggep dirinya “petualang” ya anaknya juga harus jadi “petualang”. yaelaah broo… siti nurbaya era modern ya? hehehe… sampe bela2in bikin kartu kredit baru buat utangan baru demi ngenalin anaknya ke traveling.. hadeeeh

      anaknya 5 tahun lagi juga lupa, ortunya kelilit utang

  2. Ah ide yanf bagus nih berimajinasi sambil jalan jalan!

    Btw mas nama Putrinya bagus sekali, Laskar. Suka banget! Udah terlalu banyak anak dengan nama kebarat baratan sekarang,pusing manggilnya haha *sorry OOT

  3. Ping-balik: Pelajaran Dari Sebuah Warteg | TravellersID·

  4. Oh my, my tears are falling when i read this. Sometimes we don’t realize and put our ego on top rather than pleased our precious one. Am still learning to be a mommy traveler and thanks to this eye opener article, once again i found my purpose of life. Explore the world with the people you loved. Ayoooklah Mas, kita rancang lagi kopdaran di Sabang 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s