Now Everyone Can Fly

Cita-cita saya untuk menjadi pilot memang tak tercapai. Entah kenapa saya begitu tertarik dengan dunia penerbangan sejak kecil. Semasa saya kecil dulu, buku-buku bergambar Mustang P51 dan Stuka lebih banyak memenuhi rak saya ketimbang aneka komik yang digandrungi teman-teman saya. Saya mengagumi kisah Tanguy & Laverdure, cerita pilot Perancis dengan jet Mirage-nya yang legendaris daripada kisah Tintin si wartawan yang kerap dikejar bandit.

Not for everyone

Suatu ketika, ibu saya menunjukkan sebuah foto pada saya. Sebuah foto saat saya masih bayi, terbungkus bedongan yang sedang digendong oleh ibu dengan latar parkiran pesawat terbang. “Itu kamu lagi sakit dibawa dari Surabaya ke Balikpapan”, kenang ibu saya. Ternyata saya sudah masuk kabin pesawat sejak belum mampu mengucapkan kata pertama.

Semasa kecil, saya memang dibesarkan dengan sosok bapak saya yang kerap mengajak saya ke Jakarta dengan pesawat terbang. Saya jatuh cinta pada Fokker 27 yang bising dan Fokker 28 yang elegan (waktu itu). Buat saya yang masih sangat belia, saat itu naik pesawat bukanlah untuk semua orang. Kata bapak saya, tiket pesawat terbang sangat mahal. Meski belum peduli dengan konsep tingkatan ekonomi, tapi bagi saya pesawat terbang memang moda transport yang mewah. Sekali membeli tiket, pantang dibatalkan. Naik pesawat adalah hal sakral! Bahkan mengemas pakaian dalam kopor dan perjalanan menuju bandara adalah ritual suci yang pantang diganggu. Menjadi penerbang bukan sembarang cita-cita. Menyapa kru kabin pun pantang. Mereka orang-orang  keramat yang untouchable. Hidupnya teramat istimewa karena setiap hari berada di kabin pesawat. Setidaknya stigma itulah yang terbentuk dalam benak saya dulu.

Dulu saya terbiasa dengan nilai-nilai yang anti memakai baju kaos dan sandal untuk masuk ke dalam kabin pesawat. Penumpang pesawat terbang harus tampil necis dengan kemeja tanpa kerutan. Alas kaki pun tak sembarangan. Jangan harap memakai sandal, pakai sepatu pun harus bersih tanpa noda. Setidaknya tata krama itulah yang diajarkan bapak saya semasa saya kecil dulu tentang menjadi penumpang pesawat terbang yang baik dan benar.

Zaman pun berubah.

Akhir tahun 1980-an adalah saat di mana saya harus mengucapkan selamat tinggal sementara pada dunia dirgantara. Saya tak lagi sering diajak orang tua untuk plesiran menggunakan pesawat terbang. Tahun 1987 adalah penerbangan terakhir saya di masa kanak-kanak dengan pesawat DC-9 dari Yogyakarta menuju Jakarta.

Hampir 20 tahun saya tak lagi menyentuh dunia penerbangan secara langsung. Saya hanya mengagumi pesawat terbang melalui poster, buku, film dan siaran televisi.  Waktu kemudian membuat saya lupa rasanya masuk ke kabin, duduk di kursi empuk yang berjejer dengan jendela lonjong di sisi dinding, pramugari yang mengumbar senyum sambil membagikan permen atau turbin yang bising saat menaiki tangga penumpang.

Sampai pada tahun 2006, saya harus melakukan perjalanan ke Medan. Saat itu maskapai-maskapai baru sedang tumbuh subur. Nama AirAsia menarik perhatian saya seketika. Maskapai yang katanya tampil funky dengan harga tiket terjangkau ini membuat saya penasaran. Setelah hampir 20 tahun tak lagi tampil necis sebagai penumpang pesawat, kini saya masuk dalam antrian penumpang maskapai berwarna merah cerah dengan pramugarinya yang tampil gaul.

Sekejap, AirAsia menjungkirbalikkan pandangan yang telah ditanamkan oleh orang tua saya tentang gaya aristokrat penumpang pesawat terbang. Saya tak harus mengenakan kemeja dan sepatu rapih untuk masuk ke dalam kabinnya. Saya bebas menggunakan kaos atau baju kasual lainnya, celana pendek atau bahkan sandal gunung kesayangan saya.

Di balik “harga murah”.

Saat bertemu dengan Tassapon Bijleveld, Chief Executive Officer Thai AirAsia, di Don Mueang, Bangkok tahun 2012, saya kembali dikejutkan dengan maskapai ini. Sebagai pimpinan tinggi sebuah maskapai internasional, penampilan sosok yang akrab disapa Mr. Tas ini sangat membumi. Ia memang tampil necis seperti bapak saya dulu saat mau naik pesawat terbang. Tapi sikapnya jauh dari aristokrat meski tetap kelihatan cool. Ia menyapa semua bawahannya bak kawan di SMU. Padahal ternyata sosok pria mantan general manager di Warner Music Group Thailand ini masuk dalam jajaran para pesohor CEO internasional di situs Forbes.

Tassapon “Tas” Bijleveld

Berbeda dengan Mr. Tas, berbeda pula dengan Azran Osman-Rani, Chief Executive Officer AirAsia X yang saya temui di Shanghai, Tiongkok tahun 2013. Kalau Mr. Tas tampak cool dengan perpaduan gaya necisnya, Azran Osman-Rani justru sedikit nyentrik. Ia mengenakan mantel hitam dengan topi ala taipan saat peresmian rute AirAsia X dari Kuala Lumpur ke Shanghai. Pidatonya pun ringan, singkat dan penuh canda. Pria yang pernah berkiprah sebagai produser acara televisi ini memang pria enerjik yang nyentrik! Ia tak canggung berfoto dengan siapa pun dan selalu mengumbar senyum pada lawan bicaranya.

Bersama Azran Osman-Rani

Now everyone can fly!

Kabanyakan orang memang menganggap slogan “Now Everyone Can Fly” yang diusung AirAsia ini mengacu pada tiket murah yang memungkinkan semua orang untuk mencicipi rasanya terbang dan duduk manis di dalam kabin. Tapi buat saya, dengan mengenal sosok-sosok seperti Mr. Tas dan Azran, slogan itu tak hanya sebatas “semua orang bisa naik pesawat”. Mr. Tas tak punya latar bisnis penerbangan, begitu pula Azran Osman-Rani yang dulunya akrab dengan dengan media televisi. Bahkan Tony Fernandes, CEO AirAsia pun lama mengenyam karir di Virgin Record dan Warner Music Group.   Bermodal mimpi besar, ia membeli AirAsia yang dirundung hutang. Ketika suara sumbang bermunculan, usahanya justru menjadi besar. Baik Azran, Mr. Tas, dan Tony bukanlah jebolan sekolah aviasi yang paham dirgantara. Mereka orang-orang biasa seperti saya yang hanya mengagumi pesawat terbang dan ingin mencapai sesuatu.

Fly” buat saya adalah mimpi! “Now Everyone Can Fly”  bukanlah semua orang bisa beli tiket pesawat. Tapi itu adalah slogan yang membuat orang-orang seperti Mr. Tas, Azran dan Tony berani memikul mimpi besar dan terbang bersama mimpinya.

Now Everyone Can Fly” sadar atau tidak telah merontokkan dinding keraguan. Ragu untuk traveling, ragu untuk melihat dunia luar, ragu untuk bermimpi, ragu untuk bercita-cita. Sadar atau tidak, bermimpi besar bukan lagi milik sekelompok orang. Semua orang kini bisa melakukannya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s