Berlayar ke Selayar (Part 1)

Saya masih mengantuk saat bus yang saya tumpangi menelusuri jalur ujung selatan Sulawesi. Dari Makassar saya menggunakan bus eksklusif (bahasa lokal untuk eksekutif) menuju Pulau Selayar di seberang selatan Provinsi Sulawesi Selatan. Meski bus penuh, tapi penumpang tak ada yang tak dapat kursi. Kebanyakan penumpang mengobrol dengan bahasa Makassar, sisanya fasih dengan dialek Jawa. Salah satu bangsa perantau di Indonesia ini tak saya ragukan daya jelajahnya. Hampir di semua wilayah negara ini, saya selalu menemukan warung pecel lele dengan pemiliknya yang fasih berlogat Jawa.

Barang-barang penumpang memenuhi bagasi dan bagian belakang bus. Bus yang saya naiki berukuran besar dengan fasilitas AC yang kadang hanya terasa angin sepoi-sepoi. Tak seperti bus AKAP di Jawa, di sini tak ada dentuman irama disko Pantura dengan alunan genit biduan seksi. Tembang yang diputar tergolong santun. Lagu-lagu kenangan era Endang S. Taurina saat masih berjaya di layar kaca. Zaman Eddy Sud masih berjas necis memproduseri program legendaris Aneka Ria Safari di TVRI.

Ada juga bus seukuran Metro Mini yang yang menjalani rute ke Selayar, tapi tentu saja bukan kelas eksklusif. Selain berpenumpang lebih padat, bus-bus ini tak memutar tembang-tembang Endang S. Taurina dan dipenuhi barang bawaan penumpang di bagian atapnya. Ada kardus, kopor dan juga karung besar yang mungkin isinya bahan dasar pembangunan warung pecel lele.

Soal pemandangan selama perjalanan, Tanjung Bira adalah mutiara di ujung selatan Sulawesi. Dari arah perbukitan saya bisa melihat birunya laut yang terletak di balik pohon-pohon kelapa. Bus terus meluncur ke dermaga melewati lautan yang berwarna biru. Tapi butuh waktu sekitar lima hingga enam jam untuk mencapai Tanjung Bira dari Makassar. Lima hingga enam jam yang penuh kenangan dari suara manja Endang S. Taurina.

Di tepian dermaga, jejeran mobil pribadi dan bus umum seukuran Metro Mini sudah antri rapih. Mereka adalah para penumpang yang akan menumpang kapal feri menuju Pulau Selayar. Pulau yang berbentuk memanjang dari utara ke selatan ini konon memiliki semua suku besar yang ada di Sulawesi. Selayar adalah Selayar. Situs Wikipedia menegaskan bahwa Selayar punya budaya sendiri. Ia tak bergantung pada budaya Bugis atau Makassar. Mungkin itu juga sebabnya beberapa orang dalam bus yang saya ajak bicara, dengan bangga mengaku “Saya orang Selayar!”

Kapal feri sudah menunggu saya untuk menyeberang ke Pulau Selayar. Penumpang cukup padat. Bagian bawah kapal dipenuhi kendaraan dengan aroma pesing akibat orang-orang yang buang air kecil di pojokan kapal. Selain malas ke toilet, orang-orang ini mungkin sedang “menandai” wilayahnya.

Layaknya dermaga niaga lainnya di Indonesia, pelabuhan Tanjung Bira juga dipenuhi kapal-kapal berbentuk pinisi. Wajar, karena ini adalah kampung halaman para pelaut ulung. Cikal bakal lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut. Bulukumba yang tak jauh dari Tanjung Bira adalah sentra pembuatan pinisi di Indonesia. Semua jasa penyewaan perahu untuk turis di Tanjung Bira pasti menawarkan paket kunjungan ke kantong-kantong produsen pinisi ini.

Tontonan gratis, menginap gratis

Memakan waktu sekitar satu setengah jam, penyeberangan dari Tanjung Bira menuju Selayar sebetulnya sangat rentan dengan kondisi laut. Jika laut sedang tenang, penyeberangan mungkin hanya memakan waktu satu setengah jam. Tapi jika ombak mengganas, bisa butuh tiga jam untuk sekedar menyeberang. Terkadang bahkan sampai harus bersandar di Pulau Buton, aku beberapa penumpang.

Mengisi waktu di atas feri memang bervariasi. Jika beruntung, kadang aksi segerombolan lumba-lumba atau ikan terbang bisa menjadi tontonan gratis. Dari hasil mengobrol, Andi, salah satu penumpang berbaik hati pada saya menawarkan rumahnya sebagai tempat saya menginap selama di Selayar. “Rumah saya di Dusun Tanabau”, katanya. Saya langsung mengiyakan meski tak tahu di mana letak Dusun Tanabau.

Lumba-lumba, ikan terbang dan mengobrol dengan sesama penumpang adalah deretan to do list untuk mengisi kekosongan selama penyeberangan. Tapi atraksi utama hari itu adalah menyaksikan matahari terbenam langsung dari tengah laut. Dibantu cuaca cerah, prosesi sunset berjalan cukup lancar tanpa terhalang distorsi seperti tiang listrik, layangan atau pohon. Hanya horison laut yang tegas melintang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s