Berlayar ke Selayar (Part 2)

Tiba di pelabuhan Pamatata, Selayar bukan berarti perjalanan saya usai. Untuk menuju Kota Benteng, ibukota Selayar, bus masih harus melanjutkan perjalanan hampir dua jam. Karena hari mulai gelap, saya tak bisa menikmati pemandangan seperti perjalanan saya dari Makassar ke Tanjung Bira. Sepanjang jalan, pemandangan di luar jendela hanya hitam pekat. Tak ada lampu jalan dan lampu-lampu rumah hanya tampak sesekali.

Disambut meriah

Terminal di Kota Benteng jauh dari bayangan saya. Mungkin juga karena saat itu waktu menunjukkan lewat pukul delapan malam, jadi tak ada lagi angkutan umum yang antri di terminal. Hanya ada serombongan orang yang akan menyambut penumpang dari bus saya yang tiba terakhir hari itu.

Serombongan keluarga yang memenuhi mobil angkot berlarian untuk memeluk Andi, orang yang menawarkan saya tinggal di rumahnya. Rupanya, pria ramah ini sudah lama merantau di Pulau Jawa. Setelah lima tahun mengadu nasib, inilah saat pertama Andi pulang kampung. Pantas saja ia disambut meriah keluarganya di terminal.

Setelah mengenalkan saya pada rombongan keluarganya, perjalanan ke Dusun Tanabau pun dimulai. Perjalanan yang seperti tiada akhir ini masih harus berlanjut satu setengah jam lagi dengan mobil angkot sewaan yang padat penumpang melalui jalanan sepi membelah hutan tanpa satu pun lampu jalan.

Karena lama di tanah rantau, keluarga besar penjemput Andi tentu saja riuh selama perjalanan karena melepas rindu. Karena bicara dalam bahasa setempat, saya tak begitu paham obrolan mereka. Salah satu dari mereka berbicara ke Andi sambil tertawa kecil dan menunjuk ke saya. Mungkin ia bertanya pada Andi, “Kenal di mana dengan pria tampan itu?” Semoga saja!

Di tengah keriuhan menyambut Andi, angkot sewaan yang sebelumnya berjalan mulus, tiba-tiba berhenti. Entah sedang berada di mana, saya hanya melihat jalanan kosong dan hutan di sisinya dari sorot lampu angkot. Penumpang mendadak hening. “Mogok!” kata sang supir. Penjemputan istimewa ini ternyata harus terhenti sejenak di tengah gulita malam karena mobil mogok. Untung saja saya tak harus turun untuk mendorong angkot.

Kedatangan Andi memang sudah tersebar di Dusun Tanabau. Perkampungan ini terletak di sisi sebuah jalan kecil yang sepi. Saat malam, lampu-lampu tak begitu banyak menerangi rumah. Warga di sini mengkonsumsi listrik seadanya. Tapi malam itu hanya ada satu rumah yang terang-benderang dengan sekelompok orang yang ramai di halaman depannya. Tentu saja itu rumah Andi yang sudah dipenuhi warga dan petinggi dusun yang antusias menyambut kepulangannya. Saya pun turut diperkenalkan sebagai rekan Andi dari Jawa yang berkunjung ke Selayar. Malam itu, saya juga ikut menjadi tamu kehormatan Dusun Tanabau.

Tentram di Tanabau

Dusun Tanabau berjarak sekitar satu setengah jam perjalanan dari Kota Benteng, ibukota Selayar. Dusun ini hanya terletak di sisi jalan lintas pulau yang membujur dari utara hingga selatan. Rumah penduduk di sini jaraknya tak padat seperti kampung-kampung di kota besar yang sarat preman dan aroma busuk di sela-sela gang. Rumah penduduk bergaya rumah panggung mendominasi hampir semua sudut Pulau Selayar, terutama di ruas jalan selepas Kota Benteng.

Rumah keluarga Andi juga bermodel panggung. Di dalamnya terdapat beberapa keponakannya yang masih kecil. Sesekali mereka saling bisik sambil melirik ke saya. “Bapak tampan itu dari Jakarta”, mungkin itu isi bisikan mereka. Semoga saja! Orang tua Andi menyambut saya dengan ramah, begitu juga kakak laki-lakinya, Rusman. Anggota keluarga paling sepuh di sini adalah nenek Andi yang kerap berbicara dengan bahasa lokal yang tak saya pahami. Meski tak paham, beliau tetap mengajak saya mengobrol. Untung saja Andi cukup sigap menjadi penerjemah dadakan.

Layaknya rumah warga lainnya, penduduk Selayar, terutama yang tinggal di pedesaan hampir tak mengenal toilet di rumahnya. “Untuk menyambut turis, saya sudah siapkan toilet di belakang”, kata Andi. Untunglah pria ramah ini sudah sadar wisata. Kelak, saya yakin Andi akan menjadi ketua dinas pariwisata Pulau Selayar. Menuju ke toilet pun ternyata tak semudah bayangan saya. Karena budaya setempat yang tidak mengenal toilet konvensional, maka Andi harus membangunnya dengan jarak yang cukup jauh buat saya. Jadi jika malam hari saya kebelet pipis, saya harus turun dari rumah panggung, jalan ke arah hutan di belakang dengan jarak sekitar 10 meter dan di situlah toilet berada.

Terlepas soal toilet, warga Tanabau sungguh bersahabat. Berita kedatangan saya bersama Andi rupanya cepat menyebar. Saya diperkenalkan pada beberapa sesepuh desa, para ulama dan tokoh-tokoh penting Tanabau. Saat mengikuti shalat Jumat di masjid, saya berada di barisan depan. Satu deret dengan para tokoh desa, tokoh sesepuh dan orang-orang penting di Tanabau. Jumatan di Tanabau berbeda dengan di Jakarta. Di sini saya wajib pakai baju koko atau minimal kemeja. Karena hanya membawa kaos, Andi akhirnya meminjamkan saya baju kokonya. Masjidnya pun tak besar dengan jamaahnya yang juga tak sampai membludak. Ceramahnya kadang dengan bahasa lokal dan kadang bahasa Indonesia. Ceramahnya tak menampilkan ustad yang uring-uringan, tapi lebih kalem dengan isi ceramahnya yang mengayomi warga. Islam di sini ramah dan jauh dari marah. Lebih tentram!

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s