Berlayar ke Selayar (Part 3)

Saya terbangun agak siang. Perjalanan sehari penuh menuju Selayar kemarin sepertinya membuat saya tidur pulas seperti bayi. Sinar matahari sudah lumayan tinggi dan menerobos masuk sela-sela jendela kamar. Setelah bergegas ke toilet utnuk mandi, saya menikmati secangkir kopi sambil mengobrol dengan keluarga Andi. Rusman yang mengaku sudah sering mengantar turis berkeliling Selayar, mengajak saya jalan-jalan mengitari desa. Tentu saja saya setuju.

Dengan sepeda motornya, kami berdua melaju ke arah selatan. Jika Tanabau tak terlalu rapat dengan rumah penduduk, di daerah selatan pedesaan justru agak padat. Rumah-rumah di sini memiliki halaman luas dan kebanyakan tanpa pagar. Sebagian rumah masih mengadopsi gaya rumah panggung, sisanya sudah berupa rumah biasa yang menapak di tanah.

Hallo, Mister!

Rusman dan saya melanjutkan perjalanan, keluar dari jalan raya dan masuk ke hutan kecil yang tak begitu rindang. Sebelumnya, motor melintasi daerah perbukitan dengan jalan setapak yang membuat pantat saya enggan menempel di jok motor. Di sini ada beberapa warga yang akan ke kebun atau sekedar melintas. Begitu melihat saya, mereka langsung melambaikan tangan sambil teriak, “Hallo mister!” Wajah oriental saya ternyata mengecohkan mereka. “Banyak turis dari jepang datang ke sini. Mereka biasanya ke Taka Bonerate,” jelas Rusman.

Setelah melalui jalanan off-road, Rusman menghentikan motornya dan menunjukkan saya sebuah gua. Menurutnya, ini adalah Gua Baluya. Sebuah gua vertikal yang tak dalam tapi menyimpan sebuah kekayaan. Menuruninya tak perlu tambang dan menjelajahi dasarnya tak perlu bergaya dengan “sinar surga”. Gua vertikal ini mulutnya lebar dan dalamnya hanya sekitar lima hingga tujuh meter.

“Surga” sesungguhnya justru berada di dinding gua. Bebatuan di sini menurut Rusman biasa disebut dengan Batu Intan. Sedikit saja dipoles dengan benda tajam, maka warna putih mengkilap akan bersinar dari dalam dinding gua. Mengunnjungi Gua Baluya tentu berbeda dengan mendatangi gua-gua wisata lainnya. Di sini hampir tak ada akses umum, tak ada loket karcis, tak ada turis mengantri dan tak ada tukang jual minuman. Gua Baluya berlokasi di tengah hutan yang ditutupi pepohonan rimbun. Sekilas, bentuknya tak mirip gua.

Dari Gua Baluya, saya kembali melewati jalur bukit. Sepeda motor melintasi jalan setapak sepi yang terkadang dilalui warga. “Hallo, mister!” teriak mereka lagi

Pesta ikan!

Saya mengunjungi Pantai Baluya. Lokasinya tak jauh dari Gua Baluya. Pantai ini sangat sepi dari pengunjung. Tapi menurut Rusman, di hari libur biasanya muda-mudi memenuhi pantai ini. Ukuran pantainya sendiri tidak terlalu besar. Ada tempat penginapan disebelah kiri jalan masuk dan beberapa buah restoran di sebelah kanan agak mendekat ke arah laut. Sayangnya, saat saya tiba restoran pun tampak sepi kunjungan. Bahkan mereka tidak beroperasi sama sekali.

Ombak di sini tak begitu besar dengan pantainya yang landai berpasir cokelat. Perahu nelayan banyak tertambat di sisi kiri pantai. Awalnya saya dan Rusman hendak mencari lobster untuk makan siang. Sayangnya karena hari terlalu siang, maka niat itu kami urungkan. “Lobster di sini tinggal tangkap saja, tak perlu bayar mahal untuk makan lobster!” kata Rusman. Tentu saja itu kalimat paling menjengkelkan buat saya mengingat saya harus merogoh kocek sangat dalam untuk hanya makan lobster di Jakarta.

Pulau Selayar memang gudangnya nelayan. Sebagian besar warga di sini berprofesi sebagai nelayan. Itu sebabnya semua warga di sini tak ada yang alergi makanan laut. Di semua rumah, lauk-pauk yang terhidang adalah berbahan dasar ikan. Sop ikan, ikan goreng, gulai ikan, ikan bakar, dan semua menu berbahan ikan laut lazim terhidang di meja makan.

Saya bernasib baik. Sebagai penggemar hidangan laut, tentu saja saya bisa pesta pora di Selayar. Meski rumah keluarga Andi sangat sederhana, tapi saat makan siang, jangan kaget dengan jumlah lauk yang terhidang. Saya sendiri lupa ada berapa jenis, yang jelas semuanya adalah seafood!

“Ayo tambah lagi!” kata Rusman sambil menawarkan saya satu mangkuk besar gulai ikan kakap dengan potongannya yang besar dan tebal. Ini baru pesta seafood namanya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s