Mengangkat Sastra Bugis di Jantung Jakarta

Ilham Anwar dan Khrisna Pabhicara

Photo by Image Dynamics

Sastra boleh jadi adalah warisan leluhur Nusantara yang paling banyak menemui tantangan dalam hal apresiasi. Sastra kuno asal Bugis, I La Galigo, contohnya. Karya fenomenal ini nyaris tak dikenal lagi di kampung halamannya, apalagi di Ibukota Jakarta.
Untuk mendekatkan masyarakat pada budaya dari Sulawesi ini, Galeri Indonesia Kaya bersama Yayasan Lontar Nusantara dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mempersembahkan pertunjukan I La Galigo hari Sabtu (13/9) di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Jakarta. Menarik, karena karya sastra kuno ini dipentaskan di sebuah mal di pusat Jakarta yang nyaris abai dengan warisan leluhur.

Karya agung dunia

I La Galigo merupakan karya sastra Bugis Kuno berbentuk puisi yang berisi tentang genesis orang Bugis dan filosofi kehidupan manusia. Para peneliti memprediksi, naskah I La Galigo memiliki panjang sekitar 300.000 baris, dua kali lebih panjang dibandingkan karya sastra klasik dunia lain seperti Mahabharata dan Odyssey.

Meski berasal dari tanah Bugis, tapi naskah asli I La Galigo  tersebar di beberapa negara seperti Inggris, Belanda,dan Amerika. Sebagian koleksinya lagi baru dimiliki oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Oleh beberapa pakar di bidang pernaskahan Nusantara, I La Galigo dianggap sebagai salah satu karya agung dunia.

Pertunjukan I La Galigo ini terdiri dari dua bagian kisah. Bagian pertama yang dianggap sangat sakral menceritakaan penciptaan langit dan bumi, asal usul kehadiran manusia dan nenek moyang. Bagian kedua menceritakan kehidupan tokoh utama Sariwegading dan I La Galigo. Sebelum sukses dipentaskan di negeri sendiri, karya agung ini telah sukses lebih dulu diwujudkan dalam bentuk seni pertunjukan kolosal di berbagai negara.

Photo by Image Dynamics

Photo by Image Dynamics

Didukung seniman terbaik

Yayasan Lontar Nusantara bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengangkat naskah I La Galigo dalam pertunjukan dramatic reading oleh penyair dari Makassar dalam bahasa Indonesia dan bahasa Bugis diiringi musik tradisional dan memaparkan usaha Perpustakaan Nasional RI dalam mengumpulkan naskah I La Galigo asli.

Pembacaan syair I La Galigo dalam format dramatic reading dilakukan oleh Khrisna Pabichara, seorang penulis dan penyunting asal Makassar yang aktif dalam kegiatan literasi. Ia juga menekuni sastra lisan kuno Makassar seperti Sinrilik, Kelong, Rapang dan Parupama. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan cerpen Mengawini Ibu seperti Senarai Kisah yang Menggetarkan, novel Sepatu Dahlan, Surat Dahlan dan penyunting buku-buku biografi tokoh-tokoh akademi serta politisi. Acara ini juga diikuti oleh Ilham Anwar, seorang penulis puisi dan juga penyair, aktif dalam kegiatan literasi.

Selain kehadiran para penyair, kelompok musik Juku Eja pimpinan Jamal Gentayangan yang mengiringi pembacaan I La Galigo juga hadir dengan  delapan musisi yang sebelumya pernah tampil dalam pertunjukan I La Galigo di berbagai negara.

Iklan

2 responses to “Mengangkat Sastra Bugis di Jantung Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s