Srimulat, Tetap Ada!

Tirai berwarna merah gelap dibuka perlahan, tepuk tangan riuh memenuhi gedung diikuti senyum sumringah penonton. Alunan lagu Whiskey and Soda mengiringi tirai yang terus membuka lebar isi panggung yang terdiri dari satu set sofa ruang tamu dan meja. Tembang besutan Roberto Delgado and His Orchestra ini kemudian menjadi semacam ikon tersendiri bagi pentas lawak yang begitu melegenda di Indonesia, Srimulat. Bukan pentas Srimulat namanya jika tak diawali dengan lantunan Whiskey and Soda. Setidaknya, itulah sekelumit memori saya tentang grup lawak yang berdiri tahun 1950 ini.

Tetap Bertahan.

Tanggal 12 Oktober 2014 adalah hari yang sudah saya tunggu-tunggu. Meramaikan rangkaian ulang tahun Galeri Indonesia Kaya di Grand Indonesia, maestro pengocok perut ini tampil menghibur penonton yang sebagian sudah rindu pada lawakannya yang khas. Hari itu Srimulat diwakili oleh Tarzan, Kadir, Tessy, Marwoto dan George Sapulete. Yang terakhir ini memang kurang begitu dikenal namanya, namun bagi pecinta Srimulat, nama George Sapulete tak terpisahkan dari Srimulat. Satu-satunya personil berdarah Ambon ini punya talenta khusus saat melebur dengan banyolan Srimulat yang kerap bernuansa Jawa Timuran.

Pentas Srimulat kali ini bertajuk “Sulap Antibiotik” dan dimeriahkan oleh Demian Sang Ilusionis. Seperti biasa, Srimulat tampil prima dengan skenario lawak yang sederhana. Tarzan memang tak lagi muda seperti dulu, tapi duetnya bersama Marwoto di sesi awal sukses mengocok perut penonton. Sedikit teringat pada era 1980-an dulu di mana Srimulat meraup kejayaannya dengan duet maut Gepeng dan Jujuk.

Celetukan demi celetukan mengalir lancar memancing gelak tawa penonton yang sebagian juga diisi oleh generasi gadget. Sebagian materi lawak adalah warisan para bintang Srimulat yang kini telah tiada, seperti saling dorong saat ada tokoh wanita muda cantik masuk ke panggung. Dulu adegan ini kerap dimainkan Timbul. Kini, Marwoto dan Tarzan kembali membuka kenangan manis itu di panggung Galeri Indonesia Kaya.

“Sulap Antibiotik” berkisah tentang Tarzan dan Marwoto yang berebut kekasih bernama Josephine. Karena kalah bersaing, Marwoto mengajak Kadir bekerjasama untuk menggagalkan cinta Tarzan dan Josephine dengan mendatangi pesulap Demian Sang Ilusionis. Demian pun membantu dengan mantra ajaib yang membuat kacau kisah asmara Tarzan. Tessy yang hadir di sesi kedua adalah penyegar dalam lakon kali ini. Setelah terpingkal-pingkal dengan duet Tarzan-Marwoto, saya kembali “sakit perut” dengan munculnya Tessy. Tentu saja perut saya sakit karena terlalu banyak tertawa. Usia mereka memang bertambah, tapi lawakannya tetap ampuh mengocok perut.

Diselingi Ilusi.

Demian Sang Ilusionis hadir di paruh babak. Rehat sejenak dari gelak tawa, Demian membawa penonton ke alam ilusi dengan trik-triknya menebak benda dan angka dalam kondisi mata tertutup rapat. Dengan melibatkan penonton sebagai objek pertunjukan, tentu saja sesi ini menjadi perhatian tersendiri. Yang menarik, di akhir sesinya, Demian menarik seorang penonton dan menghipnotisnya menjadi tak bisa membaca. Tak puas sampai di situ, kondisi pun dibalik. Kini giliran semua penonton yang dibuat tak bisa membaca.

Semangat Srimulat.

Srimulat memang tak lagi berjaya seperti dulu. Sebagian bintangnya kini telah tiada, sebagian tak lagi aktif di panggung dan sebagian lagi meraup popularitas sebagai selebriti. Tapi Srimulat tetaplah Srimulat! Ada ikatan kekeluargaan yang terpendam di sana. Ada semangat melucu yang tak pernah mati. Tessy memang tak lagi muda. Tapi di sesi kedua, ia tetap tampil all out. Kadir juga tak lagi belia dan lincah seperti saat berjaya bersama Doyok. Tapi di pentas ini ia tetap menggelegar dengan logat Maduranya yang khas. Srimulat masih tetap menyimpan semangat kekinian. Mereka menggaet ilusionis muda seperti Demian sebagai bagian dari cerita. Ini menjadi perpaduan antara lawak Srimulat yang klasik dan seni ilusi yang modern.

Saat mendengar nama Srimulat, sebagian orang masih terbayang akan kejayaan masa lalu, barometer hiburan rakyat yang sederhana namun tak terlupakan. Srimulat bagi saya bukan sekadar grup lawak lawas yang bergonta-ganti personil dalam alunan nada Whiskey and Soda. Tapi sebuah pilar budaya yang masih kokoh hingga kini. Meski para pelakunya sudah termakan usia dan sebagian bahkan sudah tiada, semangat Srimulat akan tetap ada.

 

Iklan

5 responses to “Srimulat, Tetap Ada!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s