Menikmati Matakus

“Hey, Jepo! Arahkan kapalnya ke kanan!” teriak kapten kapal yang membawa saya ke Pulau Matakus, tak jauh dari Kota Saumlaki di Yamdena, Maluku Tenggara Barat. Matakus adalah salah satu pulau di sekitar Saumlaki yang dianugerahi pantai dengan pasir putih yang lembut bak tepung. Tak ada kapal terjadwal yang melayani rute Saumlaki – Matakus. Mengunjunginya, bisa bernegosiasi harga dengan para nelayan di pelabuhan.

Jepo, sang pembantu kapten bersusah-payah mengarahkan speedboat menghindari terumbu karang yang tersebar di sekitar pantai saat saya hendak merapat di pulau ini. Saumlaki belum tersentuh industri pariwisata yang gemerlap. Pulau seluas 400 hektar ini masih sepi wisatawan dan saya hanya melihat beberapa rumah penduduk saja di sekitar pesisir. Matakus juga tak punya dermaga. Kapal yang merapat di sini harus menurunkan penumpangnya di perairan dangkal tak jauh dari pantai. Penumpangnya harus rela berbasah-basahan untuk menjejakkan kaki di sini.

Di sini tak ada juga penginapan atau kafe yang menjual bir dingin dan tuak lokal. Jangan harap ada dentuman musik disko dangdut menggelegar di malam hari. Di Matakus, satu-satunya hiburan adalah dengan menyeberang ke Saumlaki dan menghabiskan uang di lapak judi lokal yang disebut Boling (Bola Guling). Matakus yang nyaris sempurna untuk sebuah “surga” ini justru nyaris tak dilirik sama sekali oleh pelancong lokal yang sedang keranjingan frase “Indonesia Timur” saat ini.

John Higson, rekan perjalanan saya tampak serius saat menuruni boat dan nyemplung di air laut jernih semata kaki. Pria asal Swedia berdarah Inggris ini sedang menjajaki proyek eco-living di Saumlaki dan sekitarnya. Misinya sungguh mulia dengan melibatkan warga dan pemerintah setempat untuk konsep kehidupan regional yang lebih baik.

John tak banyak memotret, ia bahkan tak membawa kamera besar seperti saya. Cukup dengan kamera selulernya saja! Ia juga tak terlibat saat saya bersama rekan dari Kementerian Pariwisata mengisi waktu senggang dengan berfoto narsis. John lebih suka serius melakukan riset pada warga setempat.

Ikan? Tinggal Tangkap!

Matakus membuai saya dengan laut biru dan pasir pantainya yang lembut. Meski ingin sekali mencopot baju dan berenang, saya lebih tertarik untuk mengobrol dengan warga setempat. “Jarang ada turis yang ke sini,” kata Kepala Desa Matakus. Meski begitu, pemerintah lokal sudah berniat untuk memfokuskan perhatiannya pada bidang pariwisata mulai 2015 dan Matakus harus siap digadang-gadang sebagai surga baru di Indonesia Timur. Dua tahun lagi foto pantai Matakus mungkin akan banyak terpampang di jejaring sosial dengan objek para turis bercelana jins sambil lompat-lompat.   

Kepala Desa ternyata telah menyiapkan segalanya. Sebuah panggangan berukuran besar sudah disiapkandi pinggir pantai. Di atasnya, tiga ekor ikan berukuran besar sudah setengah terpanggang. Seorang warga lokal kemudian datang sambil membawa lima ekor ikan lagi. “Ikan di sini tinggal tangkap saja,” ujarnya. Sebagai penggemar hidangan laut, mengunjungi Saumlaki seperti berada di surga buat saya. Bagaimana tidak, setiap hari yang terhidang di meja makan adalah ikan, ikan dan ikan! Warga Matakus tak begitu akrab dengan nasi putih. Untuk bersantap, singkong dan ubi adalah menu utama untuk didampingi oleh aneka jenis ikan laut.

Santai di Pantai

Lewat tengah hari dengan perut yang kenyang oleh ikan dan ubi, mata saya nyaris saja tertutup rapat saat angin laut bertiup lembut. Jika saja di sini ada saung, tentu saya sudah merebahkan badan ditemani sebatok kelapa muda dan lalu tertidur pulas.

Tanah yang kering di beberapa sudut Matakus membuat warga setempat agak kesulitan untuk membangun Matakus menjadi salah satu destinasi wisata. Warga kesulitan untuk membudidayakan berbagai jenis tanaman. Kesulitan transport untuk membawa bahan makanan juga menjadi kendala. Tapi John Higson tampaknya tetap percaya diri dengan kondisi kering di Matakus. “Give me six months and I’ll change this soil!” tantang John. Nampaknya John sudah siap dengan segudang konsep green living di benaknya.

Bersama saya juga ada Adam Hasyim, pengusaha muda yang berpengalaman mengelola resor dan marina di Lombok. Kunjungannya adalah untuk melihat sendiri bagaimana Maluku Tenggara Barat adalah gerbang potensial untuk wisata pelayaran dari Australia. Hampir sepanjang perjalanan, Adam sibuk mengukur kedalaman laut di beberapa titik. Tapi saat berada di Matakus, Adam lebih sering menikmati keindahan pantai dan sesekali meminta saya untuk memotretnya.

Matakus kini memang masih belum terdeteksi radar turis, pemerintah setempat masih berjuang keras agar daerahnya paling tidak sekadar disapa saja oleh para pelancong. Tapi setidaknya ini adalah kesempatan saya untuk menikmati Matakus tanpa bungkusan mi instan berserakan di pantai.

Menjelang sore, sebenarnya saya masih ingin menyelonjorkan kaki di pantai berpasir lembut Matakus. Sayangnya, jadwal yang padat memaksa saya harus bergegas menuju speedboat untuk segera kembali ke Saumlaki. John harus menyiapkan presentasi eco-living-nya, begitu juga Adam. Saya pun tak ketinggalan harus menyiapkan materi untuk editorial.

Iklan

11 responses to “Menikmati Matakus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s