Awet Muda di Lereng Rinjani

Menjadi kian populer sebagai tempat wisata ternyata sama sekali tidak melunturkan mitos yang melekat pada air terjun Tiu Kelep di Lombok Utara. Dari keriuhan Senggigi, saya butuh waktu hampir tiga jam untuk mencapai air terjun yang berlokasi di belantara lereng Gunung Rinjani ini. Jalanan mulus dan sedikit berliku ternyata sempat membius mata saya. Tak sampai satu jam perjalanan, saya pun terlelap dengan sedikit mendengkur.

“Perjalanan cukup jauh. Nanti saya akan menyanyikan lagu tradisional Lombok,” tegas Husni melalui pengeras suara di dalam bus. Husni adalah pemandu perjalanan saya yang kemudian menyetel tembang-tembang balada lawas ala karaoke di bus. Alunan irama tahun 1970-an dengan jalanan mulus ternyata adalah paduan ampuh untuk membuat saya terlelap. Lebih ampuh dari sebutir pil anti mabuk!

Disambut Sambal Tomat

Saya terbangun karena telinga yang mulai terasa tertekan, tanda saya sudah berada di dataran tinggi. Setelah melirik jam tangan, ternyata sudah satu jam lebih saya pulas terlelap. Bus pun berjalan pelan dan parkir di sebuah tempat yang cukup luas. Inilah lokasi air terjun Tiu Kelep. Meski ini akhir pekan, tapi tak banyak bus yang parkir di sini.

Duduk di belakang saya, Yong Jingyi, blogger asal Singapura yang lebih banyak mengobrol dengan teman sebangkunya selama perjalanan. Meski saya terlelap, tapi suara lembut Yong Jingyi tetap bergaung di kepala saya saat gadis murah senyum itu bicara. Blogger belia itu sudah menggenapkan mimpi-mimpi traveling-nya di usia 16 tahun. Di usia 20 ia mulai melangkahkan kakinya seorang diri ke negeri-negeri tetangga. Di usia saya yang hampir meninggalkan masa “kepala tiga” tentu saja saya iri dengan Yong Jingyi.

Warung Galang Ijo menjadi tempat mengisi perut yang kelaparan sebelum saya memulai trekking menuju Tiu Kelep. Warung ini menyajikan salah satu menu asli Lombok yang terkenal, yaitu sayur lebui. Mirip sayur bayam tapi dengan kuah berwarna gelap karena terdapat kedelai hitam di dalamnya. Di sampingnya, ayam kampung goreng adalah hidangan utama yang nyaris membuat saya menambah porsi makan. Tapi atraksi utamanya adalah sambal tomat yang menjadi ciri khas warung ini.

Warnanya merah menyala dengan biji-biji cabai yang berserakan memenuhi mangkuk. Cabai yang dihaluskan bercampur dengan potongan tomat yang dicacah agak kasar. Buat penggemar makanan pedas, tentu saja sambal ini juara. Tapi bagi yang tak suka pedas, melihatnya saja sudah membuat bulu kuduk bergidik.

Adi Nugraha, blogger asal Jakarta, adalah salah satu penggemar makanan pedas. Porsi idealnya adalah satu mangkuk sambal! Sama dengan Adi, Zahra Rabbiradlia, blogger asal Bandung juga menggemari sambal. Ia girang bukan kepalang saat semangkuk sambal tomat hadir di hadapannya.

Yong Jingyi tentu saja tak gandrung dengan sambal layaknya Adi dan Zahra. Sambal dan biji-bijinya bukanlah santapan lazim di Negeri Singa. Sepaham dengannya, Tui Anderson, blogger asal Australia, selalu mengeluarkan dua kata saat melihat sambal, “Tidak bagus!”

Tui dan Yong Jingyi boleh saja tak sepaham dengan Adi dan Zahra. Tapi untuk saya, sambal tomat di Warung Galang Ijo ini tergolong spesial. Semakin pedas, semakin ketagihan!

Welcome to the Jungle!

“Saya hanya mengantar sampai gerbang masuk, tak ikut ke air terjun,” tegas Husni. Air terjun Tiu Kelep berada di lereng Gunung Rinjani. Areanya masih masuk dalam kawasan taman nasional, jadi tak heran kalau jalur menuju ke air terjun ini dikelilingi belantara yang rindang.

Tak usah khawatir akan berjumpa dengan jalur ekstrim yang menguras energi. Menuju ke Tiu Kelep saya justru dimanjakan dengan anak tangga menurun yang tertata rapih. Meski begitu, kekhawatiran tetap membayangi saya, karena jumlah anak tangga yang saya lewati cukup banyak. Jika menuruninya saja butuh waktu cukup lama, bagaimana dengan perjalanan pulangnya?

tw10

Selesai menuruni ratusan anak tangga, saya dihadapkan pada tangga naik yang cukup curam. Tiba di atasnya, saya harus melanjutkan perjalanan melintasi jembatan semen yang dialiri air pegunungan di bawah lantainya. Jembatan ini lebarnya tak sampai satu meter dengan besi pengaman yang hanya berdiri di satu sisi. Sepuluh meter di bawahnya, aliran sungai jernih mengalir cukup deras dengan pemandangan belantara di sekeliling jembatan. Sebagai pengidap acrophobia akut, saya lebih sibuk berdoa saat melintasinya daripada menikmati pemandangan.

Setengah perjalanan, saya harus mengucapkan selamat tinggal pada jalan mulus berfondasi semen. Saya mulai menyusuri jalan tanah yang dikelilingi belantara lebih lebat. Cuaca semakin dingin meski saya semakin berkeringat (tentu saja keringat dingin akibat melintasi jembatan).

Jalan tanah mulai menurun dan kali ini saya bertemu dengan lintasan sungai. Tak ada jembatan untuk melintasi sungai ini dan jalan satu-satunya untuk mencapai seberang adalah berbasah-basahan sambil menjaga keseimbangan di sela-sela bebatuan licin. Air sungai ini cukup dingin dengan alirannya yang sedikit deras. Sedikit saja terpeleset, dipastikan basah kuyup sambil menggigil kedinginan!

???????????????????????????????

Melalui sungai, belantara semakin lebat dengan jalur batu-batu yang licin. Gemuruh air terjun mulai saya dengar di kejauhan. Sejenak menarik nafas sambil mengelap keringat, saya duduk di atas batu di sisi sungai sementara Yong Jingyi sudah jauh di depan bersama Tui.

Bikin Awet Muda!

Saya teringat akan sebuah informasi di internet saat sedang browsing tentang air terjun Tiu Kelep. Konon air terjun ini berkhasiat membuat orang awet muda! Entah seperti apa hitung-hitungan rumus ilmiahnya, yang jelas mitos ini menyenangkan hati saya. Dalam bahasa lokal, Kelep berarti terbang, yang menggambarkan saking derasnya air terjun ini, butiran airnya beterbangan hingga jauh. Mungkin benar juga, karena di balik bebatuan besar, saya harus menyembunyikan kamera karena butiran air yang mulai membasahi udara.

Di balik batu besar, tampaklah Tiu Kelep. Tingginya sekitar 30 meter dengan tebing yang dipenuhi tanaman di kedua sisinya. Air mengucur deras dari puncak tebing dan beberapa juga mengucur deras dari lubang-lubang di dinding tebing. Air dingin yang menghujam kencang ini berasal dari mata air di Rinjani. Tak heran sepanjang jalan tadi aliran airnya tampak jernih.

Saya harus menyusuri aliran sungai untuk mencapai sisi terdekat dasar Tiu Kelep. Tak deras, namun batu-batunya cukup licin. Selain harus menjaga keseimbangan, kali ini saya juga harus berjibaku dengan butiran air yang beterbangan semakin kencang. Di dasar air terjun, Yong Jingyi dan Tui sudah lebih dulu menikmati “obat awet muda” yang bikin badan menggigil ini. Awalnya, saya tak berniat menceburkan diri, namun apa yang dilakukan Yong Jing dan Tui membuat saya tergoda untuk turut menguji nyali berenang di bawah hujaman air dingin. Hitung-hitung sekaligus juga membuktikan mitos awet muda!

Tips penting untuk berenang di Tiu Kelep sangatlah sederhana. Jangan ragu untuk nyemplung sepenuhnya! Angin kencang akibat hujaman dan butiran air yang dingin akan membuat badan semakin menggigil jika hanya nyemplung setengah badan.

photo by: Tekno Bolang @Lostpacker

photo by: Tekno Bolang @Lostpacker

Berlandaskan tips ini, saya pun langsung menceburkan badan di sekitar air terjun. Dinginnya bukan kepalang! Tapi ini hanya sebentar, asalkan banyak bergerak, badan pun tak kalah diterjang dingin. Dan lagi, saya juga tak mau kalah dengan Yong Jingyi dan Tui yang tampak ceria di tengah suhu menggigil ini hanya dengan bermodal bikini.

Tiu Kelep menyimpan daya magis. Sekali menyentuh airnya rasanya saya lupa akan setumpuk deadline di Jakarta. Lupa rasanya mengantre TransJakarta yang pengap. Bahkan lupa rasanya duduk delapan jam sehari memandangi laptop kantor. Tapi apakah benar saya menjadi awet muda? Mungkin harus saya tanyakan pada rekan saya Adi Nugraha yang hari itu tak ikut nyemplung.         

Tours & travel contact:

Husni (081917171609/081239712396)                                                                                                                                   E: husnihusni88@gmail.com

Iklan

12 responses to “Awet Muda di Lereng Rinjani

  1. karena mandi disana bikin heppy kali ya Mas Yudas makanya awet muda 😀
    selama jalan2 ke air terjun saya paling malas buat mandi soalnya repot kalau basah2an dan dingin2an, eh tapi tapi karena banyak yang nyemplung juga, jadi tertarik dengan sendirinya buat nyemplung…
    terimakasih untuk 3 hari kerennya di Lombok….

  2. Waaahhh… Sekarang jembatannya udah pake jeruji besi ya? Dulu (tahun 2010) ke sana masih bolong-bolong tuh jembatan, sampe mikir mau lanjut atau engga karena sambil gendong bayi 😀
    Btw, selain mitos awet muda, ada mitos lain kah? Soalnya dulu warga setempat kaget pas aku bawa bayi sampe Tiu Kelep, karena mereka nggak ada yang melakukannya, tapi mereka nggak cerita alesannya juga. Jadi agak penasaran sih sebenernya, kenapa mereka menghindari bawa bayi ke dalam sana.

  3. sensasi masuk lorongx g di ceritain ni….hehe…mas yudasmoro maafkan aku sdh mengganggu tidur lelapmu di bis dengan obrolan brsma si Yong Jingyi,,peace..:)

  4. Mmmhhh….butuh pengamatan lebih sepertinya nih mas untuk tau benar tidaknya mitos itu tersebut terhadap diri mas hahahahha

    Makan banyak sambal sebelum trekking adalah salah satu hal yang saya sesali, sebab perut menjadi panas saat jalanan mulai menanjak #pengakuan

    * Mas, itu foto yang terakhir kece banget yak, boleh kalo diminta file aslinya?? 😀 *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s