Nyongkolan: Pesta di Pinggir Jalan

Tak ada penyambut tamu yang berdiri kaku, tak ada Pagar Ayu yang tersenyum malu. Di sini semua bersuka, menggoyangkan badan ikuti irama.

Jalanan sempit yang saya lalui dengan bus tiba-tiba macet. Di luar, orang ramai berkumpul di sisi jalan. Ibu-ibu sibuk menggendong bayinya, anak-anak berlarian seperti hendak menyambut sirkus. Para lelaki, sebagian jongkok sambil menghisap kretek, sebagian lagi sibuk mengatur jalanan dan sisanya ikut berkerumun layaknya menanti biduan yang muncul di panggung.

Sore itu ternyata seorang warga di daerah Senaru sedang berbahagia. Upacara Nyongkolan sedang digelar dengan meriah. Nyongkolan adalah tradisi Suku Sasak di Lombok dalam prosesi pernikahan, di mana mempelai pria dan wanita diarak dengan jarak satu kilometer dari rumah mempelai wanita. Arak-arakannya jauh dari bayangan saya soal penganten di tanah Jawa. Di Lombok, Nyongkolan berlangsung meriah, tanpa tarian lemah lembut dan iring-iringan pengantin yang berjalan perlahan.

Dalam iring-iringan Nyongkolan, pengantin pria tak jalan berdampingan dengan pasangannya. Mempelai wanita jalan di depan, sedangkan mempelai pria beserta rombongannya berjalan di belakang. Saat berjalan, iring-iringan pengantin yang diikuti keluarga juga diramaikan musik dangdut yang dibawakan secara live. Ada band berkomposisi lengkap yang mengiringi dari belakang. Agar lebih meriah, speaker berukuran besar yang ditaruh di mobil bak terbuka juga turut memanaskan suasana. Iring-iringan pun berjalan sambil bergoyang. Dulu posisi band ini masih berupa permainan gendang beleq. Namun zaman telah berubah! Gendang beleq pun harus mengalah pada gitar listrik, bas dan alunan merdu biduan seksi.

Sepanjang arak-arakan pengantin, musisi sibuk memainkan musiknya dan para pengiring sibuk beradu gaya joget paling wahid. Tembang yang sebagian besar adalah dangdut itu boleh dinikmati siapa saja yang ada di pinggir jalan atau yang sedang melintas. Beberapa turis pun tak sungkan untuk ikut bergabung. Saat Nyongkolan berlangsung, hanya ada satu kata yang berlaku: Pesta!

Iklan

11 responses to “Nyongkolan: Pesta di Pinggir Jalan

  1. kalau kata orang2 Lombok sini itu lebih pas disebut kecimol, karena nyongkolan yang benar2 nyongkolan itu pakai gendang beleq dan tidak ada musik dangdutnya, tapi zaman sekarang memang agak susah menemukan pernikahan yang masih kental dengan budaya sasaknya seperti zaman dahulu di Lombok, paling kaum bangsawan saja (lalu, baiq, denda, raden) yg masih mempraktikkan itu šŸ˜€
    benar katanya mas Yudas, semua telah tergerus arus zaman
    *koreksi kalau saya salah šŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s