Terapung ke Tarempa, part 1: Jadi Nahkoda Hingga Raja

“Wisata bahari kita sangat bagus, tapi yang menikmati selalu orang asing,” ujar Sulistyo Wimbo Hardjito, Direktur Utama PT. Pelni di ruang makan (salon) KM. Bukit Raya yang berlayar dari Tanjung Pinang menuju Tarempa di Kepulauan Anambas.

Bukit Raya sendiri sudah mengabdi pada jajaran kapal Pelni dari tahun 1994. Ada perasaan nostalgia masa kecil saat melihat kapal ini di Pelabuhan Kijang, Pulau Bintan sesaat sebelum menaikinya. Kapal besar berwarna putih dan cokelat dengan segala kesibukan di sekitarnya, penumpang yang antusias menikmati pemandangan dari dek yang bertingkat-tingkat dan petugas kapal berseragam cerah yang menyambut penumpang. Ini sedikit mengingatkan saya pada sinetron “Baruna” yang pernah tayang di TVRI awal 1980-an. “Sayangnya, KM. Baruna sudah lama pensiun,” kata Ditto, petugas PT. Pelni yang mendampingi saya dalam pelayaran ini.

PT Pelni kini sedang berbenah diri. Satu per satu kapalnya mulai masuk galangan untuk dipercantik lagi. Tak hanya melayani rute pelayaran, paket wisata pun kini mulai dijajal. Untuk masuk dalam industri wisata, tentu saja PT Pelni ingin tampil beda. KM Bukit Raya memang belum dapat giliran untuk dipoles di galangan, tapi setidaknya gaung wisata sudah mulai menjalari benak awak kapal ini.

Membedah Kapal Jerman

Bukit Raya dibuat oleh Jos L. Meyer, sebuah perusahaan kapal asal Jerman pada tahun 1994. Kini KM. Bukit Raya sudah memasuki usia 20 tahun. Sudah banyak yang harus dibenahi tiap sudutnya. Washtafel di kamar yang saya tempati tak berfungsi sempurna, demikian juga dengan flush untuk toilet. Besi-besi tua pabrikan Jerman ini sudah waktunya dipercantik lagi, dipoles agar tampil menawan di lautan Indonesia.

Tapi kapal ini tetap penuh cerita. Perjalanan 20 jam menuju Tarempa di Kepulauan Anambas memberikan saya waktu yang cukup untuk jalan-jalan membedah badan kapal yang berkapasitas 1.000 tempat tidur ini. Saya menempati kamar kelas dua yang terdiri dari empat tidur bertingkat. Ada dua colokan listrik dan lampu kecil di sisi tempat tidur. Setiap kamar dilengkapi dengan air mineral, gelas dan peralatan mandi. Televisi tersedia di kamar kelas satu.

Satu dek dengan saya di kelas dua, ruangan salon berada persis di seberang deretan lorong kamar. Saat sarapan dan waktu makan tiba, petugas memberikan pengumuman bahwa hidangan sudah siap tersedia di salon. Ruang salon ini cukup nyaman dengan kondisinya yang bersih dan cukup lebar. Saat di luar jam makan, biasanya ruang ini digunakan untuk sekedar minum kopi atau bahkan tempat karaoke para staff kapal.

Jadi Nahkoda

Selama ini yang namanya anjungan kapal buat saya hanya sebatas layar kaca atau bioskop. Dari serial Love Boat yang ngetop di awal era televisi berdekoder hingga film Captain Phillipis yang saya tonton di bioskop. Anjungan KM. Bukit Raya mungkin tak begitu besar, tapi buat saya, menapaki ruang utama komando kapal ini sudah luar biasa. Jendela yang berderet, meja instrumen yang padat dengan tombol dan layar, radar digital (yang baru kali ini saya lihat dan sentuh langsung) dan kursi mualim yang terletak di sisi kiri ruang anjungan. Jika boleh jujur, rasanya seperti kembali ke masa kecil yang penuh cita-cita dan syair lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut.”

Atraksi utama di sini adalah olah gerak kapal meninggalkan dermaga, melewati perairan sempit hingga tiba di laut lepas. “Kiri maju pelan,” “cikar kanan,” “kiri maju penuh,” “kanan 120,” nahkoda memberikan perintah yang di-repeat order oleh juru mudi. Tak mudah mengendalikan kapal sebesar KM. Bukit Raya meninggalkan dermaga dan melalui perairan sempit di sekitar Pulau Bintan. Saya sendiri tak memahami arti perintah dan istilah-istilah awak anjungan ini, tapi setidaknya saya memahami besarnya tanggungjawab nahkoda meski hanya membawa kapal menuju lautan lepas. “Jika sudah di lautan lepas, kendali kita serahkan ke ruang mesin,” jelas kapten kapal.

I’m The King of the World

Langit mulai gelap dan angin Laut China Selatan mulai berhembus dingin. Ditto mengajak saya untuk berjalan-jalan ke bagian depan kapal untuk foto-foto (Tentu saja dengan kawalan petugas keamanan). Sebetulnya area ini adalah terlarang bagi penumpang mengingat banyaknya peralatan, lantai yang licin dan angin yang kencang. Tapi menikmati sunset sambil bergaya ala Leonardo Di Caprio di haluan kapal Pelni tentu saja isitimewa. Berbeda dari turis lain yang sering takjub dengan gaya lompat di bibir pantai. Sayangnya, saya sendiri tak sempat menjadi Leonardo mengingat tugas memotret dan tentu saja karena tatapan puluhan pasang mata penumpang dari dek yang tertuju pada saya. 

Untuk sampai ke haluan ini saya harus melewati deretan tempat tidur kelas ekonomi. Ada yang sudah pulas berselimut sarung, ada yang mengobrol, menggendong bayi dan sisanya duduk santai sambil termenung. Pendingin ruangan ini tak sesejuk hawa di luar atau dek kelas satu dan dua. Tapi sebagian penumpang berseri-seri karena tak lama lagi adalah waktunya pembagian makan malam.

Iklan

7 responses to “Terapung ke Tarempa, part 1: Jadi Nahkoda Hingga Raja

  1. Ping-balik: Anambas Through the Lens | yudasmoro.net·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s