Terapung ke Tarempa, part 2: Julia Perez dan Keringat

Para Ksatria Dapur

Pembagian makan mungkin menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu. Penumpang kelas ekonomi mengantri tertib menukarkan kupon dan mengambil jatah makan yang terbungkus styrofoam. Pengguna sepeda motor Jakarta tampaknya harus belajar antri dari warga Kepulauan Riau di atas laut. Lokasi mengantri tak jauh dari dapur utama yang disesaki alat masak, uap masakan dan sesekali aroma sambal goreng yang menyengat hidung. Empat buah ketel seukuran drum minyak tanah mengeluarkan uap yang memaksa saya untuk tak berlama-lama di sekitarnya. Selain panas, tentu saja saya jadi sulit bernafas. Ketel-ketel ini juga berfungsi untuk memasak nasi agar penumpang dan awak kapal tak kelaparan. “Kita butuh satu setengah ton beras untuk sekali pelayaran,” jelas salah satu kru dapur.

Mengemban tugas di dapur KM. Bukit Raya bukan perkara mudah. Kondisi udara yang sumpek dan uap masakan yang tak kenal henti membuat siapa pun yang tak tahan panas tak akan kuat berada di sini lebih dari lima menit. Baru saja berjalan lima langkah ke dalam dapur, keringat rasanya sudah ingin mengucur. Para koki kapal ini pastinya para lelaki tangguh yang sudah terbiasa dengan hawa panas. Beruntung saya pernah bertugas di dapur restoran selama delapan tahun. Perkakas dapur berlapis stainless steel yang berat, uap yang mengepul bak ramuan ajaib nenek sihir, kondisi panas dan aroma gorengan yang menusuk hidung bukan hal baru buat saya. Rasanya tak mungkin untuk tak berkeringat saat berada di dapur.

Dari dapur ini saya mengerti betapa beratnya proses perjuangan demi seporsi menu makanan di kapal. Dari sini juga saya jadi melahap nikmat semua hidangan yang disediakan buat saya. Bukan karena kelaparan tapi lebih kepada penghormatan kepada perjuangan para kstaria dapur yang tetap setia meracik menu meski hidungnya tersengat aroma sambal goreng dan bajunya selalu kuyup bersimbah keringat .

Terima Kasih, Jupe!

Malam datang dan pemandangan di luar pun berubah gulita. Tak ada lagi horizon laut yang nyaman dipandang di kala galau. Semuanya hitam pekat! Setelah santap malam di salon yang nyaman – tentu saja saya melahap habis hidangan sebagai wujud apresiasi kru dapur – Ditto menawarkan saya untuk berkeliling kapal melihat fasilitas yang ada.

Para staff di kapal ini tahu persis kalau penumpang butuh hiburan saat berlayar 20 jam. Untuk itu Ditto mengajak saya menyatroni mini bioskop, satu lantai di atas salon. Lokasinya agak memojok ke depan dan dekat dengan pintu keluar. Malam itu “Tiga Cewek Petualang” menjadi film primadona para penumpang. Dengan tiket seharga Rp 15.000 per orang, saya bisa menonton aksi cewek-cewek seksi bercelana hotpants  dengn Julia Perez (Jupe) berbaju minim dan ketat sebagai pentolannya. Malam yang dingin tiba-tiba berubah menjadi hangat!

3cewek

Meski dihangatkan kemolekan Jupe yang tampil maksimal bersama Imaz Fitria dan Aura Kasih, tapi malam itu bioskop KM. Bukit Raya tetap sepi, entah kenapa. Saat masuk, hanya ada tiga penonton yang terpaku pada layar bioskop yang diramaikan oleh paha mulus cewek-cewek seksi ini. Bioskop ini tak besar. Mungkin hanya berukuran sekitar 4X7 meter ruangannya. Kursinya tak lebih dari 50 dan di bagian paling depan terdapat dua kasur. Mungkin untuk penonton yang mengantuk atau ingin nonton film sampai tertidur pulas. Yang jelas, film aksi horror yang menampilkan wanita-wanita seksi ini cukup lumayan menjadi hiburan di tengah laut yang kini gelap gulita.

Atraksi di Letung

Saya melewatkan momen sunrise esok paginya karena terlalu lelah dan tertidur pulas – atau mungkin pulas dalam kehangatan Tiga Cewek Petualang semalam – hingga terbangun pukul tujuh pagi. Sambil sarapan di salon yang nyaman, Ditto mengingatkan bahwa sejam lagi kapal akan berhenti di Pulau Letung sebelum bersandar di Tarempa. Pulau Letung adalah salah satu pulau yang ada di kawasan Kepulauan Anambas. Lokasinya sekitar tiga hingga empat jam pelayaran dari Tarempa. Tapi yang membuat pulau ini unik bagi penumpang KM. Bukit Raya adalah proses naik turunnya penumpang.

Pulau Letung dikelilingi perairan dangkal dan tak memiliki dermaga yang cukup luas untuk kapal buatan Jerman berkapasitas 1.000 penumpang ini. Solusinya adalah dengan menggunakan pompong (kapal kayu) yang mengangkut penumpang dari dermaga ke KM. Bukit Raya yang berlabuh agak ke tengah laut. Saat musim ombak, penumpang harus berjibaku dengan gelombang tinggi sebelum menggapai tangga kapal dan naik ke dek. Untungnya, hari itu cuaca bersinar cerah.

Selain proses naik turun penumpang di tengah laut, atraksi yang tak kalah seru adalah keriuhan para pedagang nasi kotak yang menjajakan dagangannya dari pompong. Pembeli hanya bisa memesan dari tangga kapal yang sempit dan bergoyang kadang kencang. Transaksi dilakukan di atas gelombang laut yang mengayun-ayunkan pompong. Sedikit saja lengah, bisa jadi nasi kotak terjun ke laut. Selera memang tak bisa ditolak. Meski ada jatah sarapan, tapi tetap saja beberapa penumpang lebih suka berayun-ayun pada tangga sempit di atas laut dengan penuh resiko demi nasi kotak daripada mengantri sarapan di kapal. Mungkin para penumpang ini belum tahu seluk-beluk perjuangan kru dapur yang setiap hari hidungnya tersengat aroma sambal goreng.

Pulau Letung adalah tanda bahwa saya sudah memasuki Kepulauan Anambas, tempat kapal-kapal pencuri ikan negeri tetangga berkeliaran dan harus berujung pada vonis maut Angkatan Laut setelah tertangkap patroli laut. Tiga jam dari Pulau Letung, penumpang mulai bersiap mengemasi barangnya. Kota Tarempa sudah tampak dari dek. Ratusan warganya terlihat siap di tepi pelabuhan menyambut angkutan utama penghubung pulau-pulau terpencil negeri ini. Setelah 20 jam dihibur kesunyian laut dan kemolekan Jupe, Tarempa tampak seperti dunia baru buat saya. Tukang ojek, kuli panggul, sanak keluarga dan pedagang makanan, semuanya berjejer menyambut kapal bersandar. Tak perlu drama di tengah laut ala Pulau Letung, perairan Tarempa cukup aman buat kapal besar.

Kota mungil ini tampak semakin sesak saat labuh jangkar. Tarempa adalah pusat keramaian di tengah kesunyian Pulau Siantan, Kepulauan Anambas. Kesibukan hanya terlihat di sepanjang kira-kira dua kilometer daratan tepi laut. Di belakang keramaian kota, saya hanya melihat hutan dan bukit yang hijau. Inilah kota yang sekarang digandrungi para pelancong kota besar seperti saya. Pelancong yang haus menyinggahi sudut-sudut Nusantara yang terasing. Harapan baru buat industri wisata bahari Indonesia dan neraka baru bagi para maling ikan negeri seberang!  *selesai*

Iklan

3 responses to “Terapung ke Tarempa, part 2: Julia Perez dan Keringat

  1. Gak ada hubungan dengan Jupe, cerita perjalananke Anambas ini eksotis banget, Mas. Kenapa tah tak memasang exhaust agar udara panas di dapur sedikit berkurang. Dan para pedagang nasi di perahu itu, kalau saja menggunakan tanggok bertangkai panjang, mungkin nasi kotaknya lebih aman sampai ke pembeli ya

    • exhaust sebetulnya ada, tapi menurut kru dapur, sudah lama gak berfungsi. KM Bukit Raya ini memang sedang nunggu giliran renovasi karena mau difungsikan sebagai kapal wisata juga.

      biasanya para pedagang di Letung ini boleh naik ke dek. Tapi sejak PT Pelni ganti Dirut beberapa waktu lalu, peraturan jadi lebih ketat, mereka nggak boleh naik ke kapal biar proses turun naik penumpang lebih cepat. Mungkin ini belum diantisipasi oleh pedagang

  2. Ping-balik: Anambas Through the Lens | yudasmoro.net·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s