Menghormati yang Mati

Andre menyambut saya di Bandara Internasional Kualanamu, Medan. Pria muda yang murah senyum dan gemar bergosip seputar artis ibukota ini adalah supir sekaligus pemandu saya  dalam perjalanan ke Pulau Samosir beberapa hari ke depan. Selama perjalanan, Andre banyak berkisah tentang Danau Toba dan Samosir.

“Samosir, di situlah asal-muasal orang Batak,” jelasnya dengan logat Batak yang kental.

Ketika saya mengeluarkan kamera untuk memotret pemandangan selama perjalanan, Andre justru menyarankan saya untuk tidur.

“Tidur saja dulu Bang. Satu jam lagi pemandangan baru bagus,” ia meyakinkan saya.

Saya pun mengangguk setuju mengingat penerbangan saya ke Medan adalah penerbangan paling pagi dan sehari sebelumnya saya juga baru tiba di Jakarta setelah liputan di Maluku Tenggara Barat. Lagi pula, saya pun tak pernah bisa tidur pulas di kabin pesawat.

Good View by Goodyear

Entah sudah satu jam atau belum, tapi yang jelas saya sempat tertidur dan saat bangun, Andre menepati janjinya.

“Di sini baru pemandangannya bagus, Bang,” katanya sambil tersenyum menepati janjinya.

Saya melihat jalanan lurus yang hanya diisi beberapa mobil. Di antaranya ada bus dan truk. Di sisi jalan yang mulus, pohon-pohon karet berdiri rapih berjejer. Kebun karet ini cukup menyejukkan mata mengingat mata saya masih pedas akibat kurang tidur di pesawat.

“Ini kebun karet milik perusahaan Goodyear,” jelas Andre. Tak lama, saya juga melihat papan nama yang menegaskan bahwa ini adalah tanah perusahaan Goodyear, lengkap dengan logonya yang terkenal. Jadi, inilah salah satu bahan utama pemasok produk ban tersohor di dunia itu. Produk yang memenuhi pit stop saat balapan mobil formula berlangsung.

Kami melalui jalur Pematang Siantar yang menurut Andre lebih dekat dibanding jalur Berastagi. Bedanya, Berastagi memiliki pemandangan yang lebih memukau dengan jalur berkelok dibanding jalanan lurus dan hutan karet di jalur Pematang Siantar. Tapi tak apalah, jalanan lurus ini setidaknya sudah membantu saya tidur nyenyak dan pemandangan hutan karet ini cukup cantik sebagai objek foto.

Disambut Kuburan

Dari Pelabuhan Ajibata di Parapat, saya menyeberang ke Pelabuhan Tomok di Samosir. Ada lima kali penyeberangan dari Parapat ke Samosir dan sebaliknya dalam sehari. Untungnya, Pulau Samosir hanya dibatasi danau, bukan lautan. Jadi, cuaca buruk pun tak membuat perairan menjadi ganas dan menunda jadwal feri.

Menyeberang ke Samosir hanya butuh waktu tak lebih dari satu jam dengan ditemani cuaca sejuk dan pemandangan bukit-bukit hijau yang memagari horison danau. Semakin mendekati Samosir, semakin tampak bangunan-bangunan dengan bentuk mirip gereja tersebar di banyak sudut pulau. Atap berbentuk runcing dengan simbol salib di atasnya bisa dengan mudah dijumpai di hampir semua bangunan di Samosir.

“Itu makam,” jelas Andre sambil menunjuk ke kuburan yang dibangun mirip arsitektur gereja. Suku Batak ternyata memiliki tradisi pemakaman yang unik. Mirip dengan Toraja, Suku Batak kuno menempatkan jenazah pada sebuah tempat dari batu. Meski pemakaman batu ini hingga sekarang masih bisa ditemukan, tapi metode pemakaman zaman modern sekarang lebih membuat orang Batak memilih makam dengan bahan semen dan arsitektur terkini yang diinspirasi bentuk gereja. Kadang, di sisi makam terdapat gambar Kristus atau patung Kristus di atas bangunan makam.

Makin Kompak, Makin Bagus

Begitu saya tiba di Samosir, makam-makam ini saya jumpai di hampir sepanjang jalan. Samosir sepertinya tak banyak memiliki lahan pemakaman umum. Pemakaman biasanya terdapat di tanah yang menyatu dengan tempat tinggal. Meski kini makam batu tak lagi digunakan, setidaknya keyakinan orang Samosir tentang kuburan tetap bertahan. Pemakaman harus dibuat senyaman mungkin. Jika perlu, berbentuk seperti rumah.

“Orang Batak bilang itu Tambak. Semakin bagus bentuk Tambak, artinya semakin kompak keluarga sang almarhum,” Andre berkisah.

Kekompakan yang dimaksud Andre tentunya kekompakan soal dana. Untuk membangun Tambak (kuburan) diperlukan dana yang tak sedikit. Keluarga yang kompak dalam mengumpulkan dana tentunya mampu membangun Tambak yang bagus. Tambak sendiri tak sekedar makam, tapi salah satu cara untuk menghormati orang yang sudah meninggal. Saya bahkan beberapa kali terkecoh mengira Tambak sebagai sebuah gereja.

Sebuah Tambak sederhana sempat saya kunjungi sejenak.  Letaknya di seberang sebuah gereja mungil. Tambak ini tak mewah, bentuknya mirip gereja dengan atap kerucut dan dindingnya yang terlihat kusam. Lokasinya agak di atas bukit  sehingga harus naik tangga untuk menggapainya. Ada beberapa gambar salib di beberapa sisi Tambak. Kehidupan megalitik yang pernah mendominasi peradaban Samosir memang telah berganti sejak masuknya para penginjil dari Barat. Kini mayoritas warga Samosir menganut Nasrani, tak lagi memuja batu dan dewa.

Iklan

2 responses to “Menghormati yang Mati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s