Menuju ke Sijukjuk

Tak ada yang lebih baik cara menyambut pagi di Samosir selain menikmati secangkir kopi Samosir di cuaca dingin sambil memandangi Danau Toba. Tak ada pabrik yang memproduksi kopi besar-besaran di Samosir, hanya sekelompok warga yang menggiling kopi dengan palungan. Adam Hasyim, rekan saya yang pecinta kopi, termasuk orang yang ketagihan dengan Kopi Samosir.

Pagi itu Andre membawa saya ke Bukit Sijukjuk, sebuah lokasi di bukit yang konon punya pemandangan paling syahdu. Menuju ke sana bukan perkara mudah. Andre mengantar saya menyusuri jalan mulus berkelok dengan pemandangan Danau Toba di kiri. Belum puas memotret pemandangan, Andre membelokkan mobilnya ke jalan setapak yang sempit tanpa aspal. Bukit Sijukjuk memang belum termasyur seperti objek wisata lain di Samosir. Di Google pun datanya tak banyak data yang saya dapatkan. Sepertinya industri pariwisata masih enggan melirik bukit ini.

Bukit, bukit dan bukit

Jalanan semakin sempit, menanjak, dan dipenuhi belukar. “Belum ada turis yang datang ke sini,” terang Andre. Mobil akhirnya berhenti karena Andre tak mampu lagi menempuh perjalanan. Saya pun melanjutkannya dengan jalan kaki.

Medannya tak begitu berat jika jalan kaki, namun untuk mobil tentu saja ini bukan perkara mudah. Belum sampai di puncaknya, saya sudah kelelahan menapaki bukit. Sambil istirahat, saya memutuskan untuk duduk di lereng bukit sambil menikmati pemandangan Danau Toba dari ketinggian Sijukjuk. Ternyata memang pemandangan di sini cukup syahdu dengan danau yang dipagari bukit hijau di mana-mana.

Belum ada fasilitas umum apa pun di sini. Hanya ada belukar, rumput dan suara jangkrik. Sijukjuk memang sedang dipikirkan untuk menjadi kawasan wisata baru di Samosir, namun hingga kini upaya pemerintah lokal masih dimentahkan Kementerian Pariwisata. “Orang pusat sama sekali nggak menggubris usulan-usulan proyek wisata kami,” keluh Boby, salah seorang penggiat wisata lokal.

Andai saja Sijukjuk dikelola dengan benar, pasti para calon mempelai sudah antre untuk mengambil foto pre-wedding di sini. Tapi mengingat tabiat turis dan pengelola kita yang masih jauh dari maju, dalam hati kecil pun saya berharap agar Sijukjuk tetaplah ditumbuhi belukar dan suara jangkrik. Setidaknya itu lebih baik daripada dipenuhi bungkus mi instan dan suara berisik pemandu wisata yang mengotori Sijukjuk.

 

Iklan

4 responses to “Menuju ke Sijukjuk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s