Mengenang Repelita di TMII

Jauh sebelum warga DKI terusik geli dengan tiang-tiang pancang monorail yang kini mubazir, di tahun 1980-an sebetulnya saya sudah takjub duluan dengan monorail yang ada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Tanpa ribut-ribut rebutan tender atau menambah macet, monorail TMII pernah menjadi maskot wisata ibukota di era Repelita. Objek wisata yang terdengar lawas dan kalah saing dengan mal ini sebetulnya juga tak kalah-kalah amat. Saat mengunjunginya pada 2015, TMII terlihat berbenah, meski terasa tanpa arah.

Susahnya Cari ATM

Sepertinya memang sudah menjadi penyakit kronis pengelola wisata tanah air bahwa mengerti kebutuhan publik adalah hal nomor sekian yang tak usah dibahas. Di TMII, ATM hanya terdapat di dekat Snowbay dan di lobi Snowbay. Itu pun tanpa hadirnya ATM BCA – yang menjadi bank sejuta umat di Jakarta – satu pun. Mungkin karena BNI sepertinya menjadi partner dari TMII – logo BNI menghiasi seantero TMII meski ATM nya hanya ada di satu area – jadi jaringan ATM Bersama ini mengharamkan hadirnya BCA. Ironisnya, langkanya ATM ini tidak ditunjang dengan pembayaran debit atau digital di konter-konter di dalam TMII. ATM minim, debit pun tak bisa, padahal ini tahun 2015 alias era digital! Tak paham soal ini? Jangan harap pariwisata maju!

Jadi, sebelum ke TMII pastikan bawa uang tunai yang cukup terutama jika Anda hanya punya rekening BCA. Sedikit mengingatkan saya kalau hendak pergi ke pedalaman Indonesia yang tak tersentuh ATM. Bolehlah saya berkesimpulan bahwa persiapan ke TMII ini hampir sama dengan persiapan kalau mau ke pedalaman.

iStock_ATMsSmallw

Terkenang Ibu Tien

Konon TMII dibangun atas prakarsa Ibu Tien Soeharto yang pada waktu itu mengidamkan sebuah objek wisata edukasi yang menampung semua budaya di Indonesia. TMII tak hanya dipenuhi anjungan-anjungan provinsi (yang kerap dirundung sepi), di sini juga tersedia cable car, kereta wisata dan monorail. Jauh sebelum wisatawan kita menyembah tiket murah ke negeri tetangga demi naik cable car, TMII sudah lebih dulu memanjakan pengunjungnya dengan cable car. Jauh sebelum pakar tata kota meributkan jalur monorail, TMII sudah membuat pengunjungnya antre naik monorail.

Beberapa kali dalam lima tahun terakhir saya sempat ke TMII dan menemukan fakta miris bahwa monorail tak lagi berfungsi. Stasiunnya ditumbuhi alang-alang, loketnya kosong bak rumah hantu, jalurnya sunyi dengan keretanya teronggok membisu di stasiun. Dulu di era Repelita, monorail TMII adalah simbol kejayaan wisata negeri. Monorail melintas perlahan dengan latar sunset diselingi adegan penari Jawa yang gemulai. Itulah adegan iklan wisata Indonesia zaman 1980-an sebelum berganti menjadi era adegan timelapse.

????

Tapi kejutan mengharukan terjadi saat saya kembali ke TMII pada Januari 2015. Monorail kembali berfungsi sambil menyusuri jalurnya yang legendaris. Berjalan pelan membawa turis melihat pemandangan sekeliling TMII dari atas. Wahana lawas ini memang sudah memudar popularitasnya, tapi kenangan manisnya tetap terasa.

Meski sudah direnovasi, tapi monorail ini seperti mobil antik yang diberi dinamo baru. Gerbongnya masih peninggalan zaman Ibu Tien dengan kondisinya yang sumpek. Ada AC namun tak terasa! Lucunya, gerbong ini memang dirancang tanpa AC, terlihat dari jendela-jendelanya yang bisa dibuka (dalam beberapa hal, tentu ini berbahaya). Jalannya pun kadang tak mulus. Tak terkesan modern dan lebih mirip seperti naik mobil tua yang ditarik keledai. Untuk harga Rp 30.000 sekali jalan, rasanya saya tak akan mengulangi lagi naik wahana tua yang bangkit dari kubur ini.

Belajar di Museum

Museum-museum di TMII masih menjadi primadona. Saya mendatangi Museum Serangga dan Air Tawar serta Taman Burung. Dengan koleksi yang cukup lengkap, Taman Burung tampil edukatif dan menghibur. Terlebih karena bisa berfoto bersama burung cantik dengan harga Rp 5.000 saja per orang. Taman Burung berupa kubah raksasa yang dibagi dua, kubah barat dan kubah timur. Kubah barat mengoleksi burung-burung dari Indonesia Barat dan kubah timur adalah wadah dari burung-burung asal Indonesia Timur.

Membawa si kecil ke Taman Burung tentu saja menyenangkan. Selain lokasinya yang luas dan nyaman, tempat ini juga sarana belajar yang tak bikin bosan. Jangan khawatir dipatok burung, semua burung-burung di sini diamankan dalam kurungan besar meski ada juga sebagian yang bebas berkeliaran di taman.

Kalau takut serangga, datanglah ke Museum Serangga yang lokasinya satu kompleks dengan Museum Air Tawar. Di sini, serangga menjijikkan pun akan tampil menarik. Tiketnya pun hanya sekali beli di Museum Air Tawar dan berlaku juga untuk di Museum Serangga. Tak mahal, hanya Rp 25.000 per orang. Koleksi serangganya cukup lengkap dengan informasi jelas yang tertera di papan informasi. Tentu saja bukan serangga hidup, tapi sudah diawetkan. Bangunan museum ini cukup nyaman meski agak sempit. Bagian favorit adalah ruangan yang memajang kupu-kupu dengan sayap cerahnya yang berwarna-warni.

Yang lebih menarik adalah Museum Air Tawar. Masuk ke sini seperti masuk SeaWorld versi sungai. Museum ini mengoleksi semua hewan yang berhabitat di air tawar Indonesia. Mulai dari berbagai jenis ikan hingga labi-labi (penyu bercangkang lunak). Kalau sering menonton program River Monster di Discovery Channel, di sinilah tempat melihat langsung monster-monster air tawar itu. Disajikan di akuarium berukuran raksasa, beberapa jenis ikan berukuran monster ini cukup menarik perhatian saya. Jika penasaran dengan tampilan piranha, museum ini juga mengoleksi ikan karnivora tersebut.

Semangat Orde Baru

Tak bisa saya pungkiri bahwa TMII identik dengan Orde Baru. Di zamannya, TMII memang berjaya bukan hanya sebagai objek wisata, tapi juga pusat kegiatan elemen sosial pemerintahan. Andai saja Pak Harto masih bersanding dengan Ibu Tien mengusung Repelita yang menjanjikan mimpi “era tinggal landas”, mungkin monorail TMII tak perlu tertatih-tatih, mungkin Museum Serangga menyediakan auditorium 3D dan Taman Burung mungkin telah mengejek Jurong Bird Park. Entahlah, TMII memang berbau semangat Repelita, tapi bagi saya ini jauh lebih baik daripada menghamburkan uang di mal.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s