(Jangan) Naik Sepeda Keliling Ayutthaya

Waktu memutuskan untuk berlibur ke Bangkok, saya dicerca beberapa rekan. Pertama, saya sudah beberapa kali ke Bangkok sebelumnya (Jadi, buat apa kembali lagi?). Kedua, Bangkok dianggap kota ibu-ibu penggemar shopping, bukan traveller perkasa yang tampil dekil dan memuja jumlah stempel di paspor. Saya sendiri tak pernah ambil pusing. Toh saya selalu tampil rapih dan tak pernah peduli jumlah stempel di paspor. Selain soal street food-nya bikin rindu, incaran saya kali ini adalah Ayutthaya. Ya, kota tua dekat Bangkok itu belum pernah saya kunjungi selama saya mendapat tugas ke Bangkok. Mumpung punya jatah libur, kali ini saya sempatkan mampir ke Ayutthaya yang konon sering digadang-gadang para pejalan terkenal dan majalah travel populer sebagai kota yag enak dikelilingi dengan naik sepeda. Sebagai mantan penggemar sepeda, tentu saja saya tergiur. Go Show Saja

Dari Stasiun Hua Lamphong (Bangkok), tersedia banyak kereta ke Ayutthaya. Mulai dari kelas ekonomi yang bikin keringetan hingga kelas adem yang meluncur mulus tanpa harus berhenti di tiap stasiun yang dilewati. Untuk beli tiketnya tak perlu reservasi, cukup go show saja alias datang langsung dan beli tiket. Saya sendiri dapat tiket kelas 3 seharga 15 baht. Sangat murah! Kereta yang saya naiki mirip kereta ekonomi di Jawa. Kursi tegak saling berhadapan, kipas, dan pedagang yang pantang menyerah berseliweran menawarkan dagangannya. Meski gerbong ekonomi ini terasa panas, tapi turis asing hampir mendominasi jumlah penumpang. Empat turis Taiwan tak pernah berhenti bicara di samping saya dan satu turis Amerika terpaksa meladeni anak-anak muda Taiwan yang berisik ini.

Perjalanan dengan kereta ekonomi memakan waktu dua jam karena hampir di setiap stasiun kereta ini berhenti. Dan seperti yang saya kira, semakin lama jumlah penumpangnya juga semakin padat. Tapi tak perlu khawatir kelaparan, hampir di tiap stasiun ada pedagang yang menawarkan makanannya dari balik gerbong, sebagian lagi mondar-mandir di dalam selama kereta jalan. Di tengah cuaca pengap, tentu saja saya bahagia ada yang berjualan es campur! Awas Calo Tuktuk!

Di semua majalah travel yang mengulas Ayutthaya – bahkan majalah travel yang mengaku paling detil sekalipun – tak ada yang menyinggung soal calo tuktuk ini. Sebetulnya tidak fair juga kalau saya bilang “calo” karena pada dasarnya mereka memang supir tuktuk resmi yang tampil dengan seragam biru muda dan selalu heboh mengerubuti kereta yang baru datang. Modus operasinya: mereka mendatangi turis yang baru turun dari kereta (dan biasanya yang sedang foto-foto atau lihat peta) sambil mengatakan “Ayutthaya is very big. I’ll show you the map”. Setelah sukses menggandeng turis ke papan peta, di situlah mereka tawarkan jasa tuktuknya dengan tarif 300 baht per jam! Kalau sudah begini, Anda harus siap dengan negosiasi alot tawar-tawaran harga atau menolaknya dengan tegas. Tak perlu ramah berlebihan pula, karena dijamin Anda bakal dikuntit ke manapun Anda melangkah. Sebelum tiba di Ayutthaya, sebaiknya putuskan dulu dengan apa nanti akan berkeliling. Pilihannya bisa dengan tuktuk (300 baht per jam) atau dengan sepeda (40 baht seharian). Bisa juga dengan sewa motor. Penyewaan sepeda berada di seberang stasiun di sebuah gang kecil yang kedua sisinya dipenuhi deretan sepeda. Jika datang beramai-ramai, cara terbaik adalah dengan naik tuktuk. Tentu saja dengan tawar-menawar dulu. Tenang saja, tuktuk di Ayutthaya berbeda dengan tuktuk Bangkok yang mirip bajaj. Di Ayutthaya, tuktuk lebih mirip bemo, jadi bisa muat lebih banyak orang.

Naik Sepeda? Yakin?

Bahkan majalah-majalah travel yang mengaku punya informasi paling detil pun dengan enteng mengatakan “naik sepeda adalah cara paling mengasyikkan keliling Ayutthaya”. Saran saya: jangan mudah tergoda dengan kalimat sesat tersebut.

Kompleks reruntuhan kota tua Ayutthaya itu lokasinya jauh dari stasiun dan penyewaan sepeda. Belum lagi lalu-lintas yang yang ramai tanpa jalur khusus sepeda dan cuaca terik yang harus dilalui. Kompleks kota tua pun tak semungil Gili Trawangan yang mudah dikitari sepeda tanpa gangguan mobil dan motor. Dari penyewaan sepeda di seberang stasiun, penyewa dibekali air minum, rantai plus gembok, dan peta kota tua. Dalam peta, kompleks ini memang terlihat mudah untuk dijelajahi. Pemilik penyewaan sepeda menyarankan saya untuk mengambil arah melalui jembatan layang untuk sampai ke kompleks kota tua. Jangan dikira ini jembatan kecil yang nyaman dilalui sepeda. Ini jembatan besar dengan kondisi menanjak dan mobil melaju kencang di tengahnya.Dengan kata lain, ini semacam jalan tol! Sedikit saja lengah, tentu disambar mobil! “Cara paling mengasyikkan?” Saya yakin tidak!

Sukses melewati jembatan, saya masih harus mengayuh sepeda menuju kompleks kota tua yang diawali dengan Wat Mahatat. Selain peta, Google Map saya akui sebagai penunjuk arah paling akurat. Jadi sebaiknya gunakan SIM Card Thailand yang selain murah, koneksinya juga pantang nge-hang seperti di Indonesia. SIM Card ini mudah diperoleh di Bandara Don Mueang. Menuju kompleks candi harus lagi-lagi menempuh jalan raya seramai persimpangan Harmoni di Jakarta saat hari kerja. Ramai dan banyak mobil melaju kencang. Jangan lupa, masih di tengah cuaca terik. Masih mau percaya dengan “naik sepeda adalah cara yang paling mengasyikkan”? Kompleks candi atau kota tua Ayutthaya cukup sepi dengan jalan-jalannya yang tak lebar. Meski begitu, lokasi ini sangat terbuka dan tak ada pohon rindang yang meneduhi jalan. Jika Anda termasuk orang yang enggan menghitam kulitnya, naik sepeda keliling Ayutthaya bisa jadi pilihan terburuk dalam sejarah hidup Anda. Sebagai gambaran, siang hari di Ayutthaya suhunya bisa mencapai 36 derajat celsius.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jarak antara satu candi ke candi yang lain sebetulnya tak jauh, tapi karena ada begitu banyak candi, jarak yang tampak dekat pun ternyata sangat jauh tanpa terasa. Untuk berkeliling seharian (dari tengah hari hingga sore) saya hanya mendapatkan tiga candi. Tapi toh buat saya bukan soal berapa candi yang saya temui, tapi lebih pada pengalaman mengayuh sepeda yang ternyata jauh dari mengasyikkan.

Need to Know

  • Sebelum mengunjungi Ayutthaya, putuskan dulu ingin menginap atau sekadar day trip. Jika ikut paket tur dari hotel di Bangkok, day trip memang memungkinkan. Tapi bila Anda independent traveler, perkirakan jumlah waktu yang ada. Menginap adalah pilihan terbaik agar tak terlalu lelah dan bisa eksplor kota nyaman ini dengan santai. Abaikan majalah travel yang dengan yakin menyarankan untuk day trip.
  • Kereta ke Ayutthaya hampir tiap jam tersedia dari Stasiun Hua Lamphong. Namun perkirakan waktu tempuh  (sekitar dua jam) karena kereta ekonomi (kelas 3) akan berhenti di tiap stasiun dan berjalan cukup lambat. Berangkat sepagi mungkin dari Bangkok juga akan tiba di Ayuthhaya siang hari.
  • Bawalah bekal minum air putih selama berkeliling Ayutthaya. Cuaca terik dan banyaknya candi yang bakal jadi objek foto menarik akan membuat Anda betah berlama-lama panas-panasan tanpa terasa.
  • Jika menyewa sepeda, tanyakan pada pemilik penyewaan apakah ada jalan lain menuju kompleks kota tua selain jembatan layang. Setahu saya tersedia pula penyebarangan dengan perahu yang bisa memuat sepeda.
  • Berhati-hatilah jika Anda terpaksa menyewa sepeda, karena Anda akan melalui jalanan ramai bak jalan tol. Sediakan topi agar kepala tak terlalu pusing terhujam sinar matahari yang terik seharian.
  • Jika Anda datang dengan rombongan kecil, sebaiknya gunakan tuktuk untuk berkeliling. Terlebih bila Anda membawa keluarga (orang tua dan anak-anak), hindari menyewa sepeda kecuali untuak jarak dekat.
Iklan

24 responses to “(Jangan) Naik Sepeda Keliling Ayutthaya

  1. Iyaa nih majalah travel sering gembar-gembor kalau lokasi stasiun dekat dengan kompleks kota tuanya, peta juga terlihat demikian. Okay berkat tongseng ehh om Yudas udah kucatat tipsnya, harus nginep buat menikmati keindahan candi di Ayutthaya 😀

  2. Oh, jadi kayaknya lebih enak nginep, terus sepedaan pagi – pagi ke Ayutthaya ya om. Lebih santai keknya~ Tetep sih, daripada naik tuk tuk kalau kesini keknya bakal milih naik sepeda deh 😀 Tapi stay satu atau dua hari disini gitu.

    • tul om. mending stay aja karena kalo day trip ga bisa dapet semuanya. kalo rame2 ato bawa keluarga si mending tuktuk ya. gak mungkin juga ngejemur anak jadi kerupuk gitu di sadel sepeda hehehe

      • sendirian pun gue saranin naik tuktuk ya, bisa cari turis lain untuk patungan bayar. tuktuk bisa ditawar kok. Bukan soal panas ato capek sih tapi lebih ke safety. Nggak aman jalurnya untuk sepeda. gue kan dulu bike to work juga 20 kilo tiap hari, jadi gue taulah mana yng aman mana yang nggak. untuk ukuran destinasi wisata menurut gue sih nggak etis kalo nyaranin naik sepeda untuk rute full di sini.

      • I see, better take tuk tuk ya om. Kalau pagi hari apa juga kek gitu? Ada temen pernah bilang kalau pagi – pagi banget mending sepedahan. atau coba dua duanya kali yak? XD

      • kalo pagi si emang asik om sepedaan bisa mampir di pasar2 dan belum panas banget kayanya. Yang jelas sepeda kan murah meriah dan kondisinya oke meski sepeda ontel gitu hehe. Ayutthaya emang enaknya nginep si menurutku. Kotanya sebetulnya menarik karena bnyk peninggalan budaya. Masi pengen balik lagi tapi pengen nginep

    • inti artikel ini sih mau mau kritik ke media yg dengan enteng nyaranin naik sepeda. Kalo gue kritik medianya tapi gue sendiri naik motor ya gak fair dong 🙂

  3. Salam kenal, saya suka tulisan2 Mas Yudasmoro; “gurih”, “renyah” sekaligus padat informasinya :). Oiya, sy juga punya buku travel writernya loh. Asli buku itu magic! Ditunggu buku travel selanjutnya ya…

    Hmm, saya ingin berbagi sedikit soal kereta ekonomi jarak jauh (di pulau Jawa) berdasarkan pengalaman naik kereta keliling Jawa sejak April 2015 dengan titik keberangkatan dari Jakarta. Sekarang sudah tidak ada lagi pedagang yg jualan di dalam gerbong sepanjang perjalanan, bahkan tak ada penjaja makanan yg masuk saat kereta berhenti di stasiun2 atau dari balik gerbong. Intinya pedagang sudah dihadang petugas sebelum masuk stasiun. Pendingin gerbong pun bukan lagi kipas tapi sudah AC. Kursinya memang sama, masih tegak dan tak senyaman versi eksekutif, tapi kayaknya kereta ekonomi yg hilir mudik di pulau Jawa masih lebih nyaman kereta ke Ayutthaya (kalau lihat di foto). Dan tentunya di kereta kita sudah tak ada lagi penumpang yg berdiri karena semua harus beli tiket.
    Walaupun belum sempurna, kiranya perkeretaapian kita merangkak maju. Afwan. Ayuk keretaan keliling Jawa, :)… trims

  4. Salam kenal, saya suka tulisan2 Mas Yudasmoro; “gurih”, “renyah” sekaligus padat informasinya :). Oiya, sy juga punya buku travel writernya loh. Asli bukunya magic, mas! Ditunggu buku travel selanjutnya ya…

    Hmm, saya ingin berbagi sedikit soal kereta ekonomi jarak jauh (di Jawa) berdasarkan pengalaman naik kereta keliling Jawa sejak April 2015 dengan titik keberangkatan dari Jakarta. Sekarang sudah tidak ada lagi pedagang yg jualan di dalam gerbong sepanjang perjalanan, bahkan tak ada penjaja makanan yg masuk saat kereta berhenti di stasiun2 atau dari balik gerbong. Intinya pedagang sudah dihadang petugas sebelum masuk stasiun. Pendingin gerbong pun bukan lagi kipas tapi sudah AC. Kursinya memang sama, masih tegak dan tak senyaman versi eksekutif, tapi kayaknya kereta ekonomi yg hilir mudik di pulau Jawa masih lebih nyaman kereta ke Ayutthaya (kalau lihat di foto). Dan tentunya di kereta kita sudah tak ada lagi penumpang yg berdiri karena semua harus beli tiket.
    Walaupun belum sempurna, kiranya perkeretaapian kita merangkak maju. Afwan. Ayuk keretaan keliling Jawa, 🙂

    • Hi Dia..

      Terima kasih sudah baca Travel Writer 🙂
      Betul sekali. Dari kecil saya juga sering diajak naik kereta di Jawa. Saya ingat dulu kita punya KA Bima yang pakai kamar2 eksklusif. Saya sering naik kereta ini dari Jkt ke Surabaya. Sayangnya kereta ini pensiun di akhir 1980an. Tapi gantinya oke juga, Mutiara Utara yang kayak kabin pesawat.

      Di Thailand menurutku sistem keretanya bagus, tapi soal nyaman di Jawa jauh lebih nyaman. Saya naik kereta executive Bangkok-Hatyai hampir seharga Argo Lawu tapi kursinya bikin pegel dan gak ada colokan hp hehehe…

      Betul, kereta2 ekonomi di Jawa masih lebih nyaman dibanding kereta ekonomi Ayutthaya. Sebetulnya ada banyak jenis kereta ke Ayutthaya, saya naik yang ekonomi. Berangkatnya seperti kereta tua, pulangnya keretanya lebih modern meski sama aja nggak pake ac (panas banget). Tapi memang warga di sana lebih tertib dan yang penting sadar wisata. Semua kereta dan stasiun tua di sana bersih dan nggak ada kereta yang jendelanya retak karena ditimpuk warga hehehe…

      Saya juga masih pingin balik lagi ke sana karena belum kesampean naik sleeper train. Dan masih pingin ke Chiang Mai

  5. Salam kenal, saya suka tulisan2 Mas Yudasmoro; “gurih”, “renyah” sekaligus padat informasinya :). Oiya, sy juga punya buku travel writernya loh. Asli bukunya magic, mas! Ditunggu buku travel selanjutnya ya…

    Hmm, saya ingin berbagi sedikit soal kereta ekonomi jarak jauh (di Jawa) berdasarkan pengalaman naik kereta keliling Jawa sejak April 2015 dengan titik keberangkatan dari Jakarta. Sekarang sudah tidak ada lagi pedagang yg jualan di dalam gerbong sepanjang perjalanan, bahkan tak ada penjaja makanan yg masuk saat kereta berhenti di stasiun2 atau dari balik gerbong. Intinya pedagang sudah dihadang petugas sebelum masuk stasiun. Pendingin gerbong pun bukan lagi kipas tapi sudah AC. Kursinya memang sama, masih tegak dan tak senyaman versi eksekutif, tapi kayaknya kereta ekonomi yg hilir mudik di pulau Jawa masih lebih nyaman daripada kereta yg ke Ayutthaya (kalau lihat di foto). Dan tentunya di kereta kita sudah tak ada lagi penumpang yg berdiri karena semua harus beli tiket.
    Walaupun belum sempurna, kiranya perkeretaapian kita merangkak maju. Afwan. Ayuk keretaan keliling Jawa, 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s