Wajah Baru Kuliner Monas

Lupakan kesan semrawut yang dulu pernah lama akrab dengan kawasan Monas. Jangankan untuk rekreasi, mencari tempat parkir pun harus menguji kesabaran dan adu nyali dengan preman setempat. Belum lagi harus berjibaku dengan ratusan pedagang kaki lima (PKL) yang saling berhimpitan di tengah cuaca terik dan pengap. Monas adalah kawasan yang jauh dari nyaman, sasaran tukang copet, surga para preman dan lahan subur Satpol PP untuk merazia muda-mudi yang rutin berasusila di antara rindangnya pohon.

Tapi itu kisah lama. Monas kini berangsur nyaman. Terlebih Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama kini sudah meresmikan lokasi PKL Lenggang Jakarta yang nyaman di tempat yang dulunya riuh dengan tanpa aturan itu. Bukan tanpa halangan, mewujudkan kawasan Lenggang Jakarta memang butuh proses tak mudah.

Dari sekelompok PKL yang tak mengerti soal higienitas, estetika dan layanan, kini harus fasih dengan melayani pelanggan, kualitas produk bahkan sistem pembayaran online. Tak mudah, tapi itulah pil pahit yang harus dilakoni para PKL. Mendapat pengglembengan teknik memasak dari Chef Ragil Imam Wibowo yang juga seorang pengusaha kuliner, Lenggang Jakarta kini siap melayani pengunjung Monas yang sudah haus dengan layanan lebih baik.

Banyak Pilihan

Pondok-pondok yang teduh menyambut saya saat memasuki Lenggang Jakarta. Meski lahan parkirnya tetap terik, terbatas dan sedikit tak teratur – lantaran banyak delman ngetem di sembarang tempat – tapi daerah utamanya yang berupa kumpulan para pedagang makanan terasa jauh lebih nyaman.

Lebih dari 300 PKL yang berjualan di sini di beri tempat nyaman dan pelatihan khusus. Ada 52 jenis makanan yang siap memanjakan perut para pelanggan. Soto Betawi, nasi uduk, empal gentong, mi Aceh, laksa, ketoprak, garang asem dan sederet makanan Indonesia lainnya menyita perhatian saya saat masuk ke dalam.

Sempat bingung ingin menyantap apa untuk makan siang, pilihan saya akhirnya jatuh pada mi laksa, nasi uduk dan ayam penyet. Sebagai penyegar, saya memesan kelapa batok. Untuk menyederhanakan sistem, makanan di Lenggang Jakarta dihadirkan dalam kemasan kertas atau plastik. Tentu saja ini untuk menyingkat siklus kerja yang panjang jika ada piring karena harus menyediakan labour cost untuk tenaga cuci piring. Hidangan ala 711 ini memang terbukti praktis bagi pengelola.

Jpeg

Rasa Itu Soal Selera

Tentu saja saya tak pernah lupa dengan pekatnya bumbu dalam kuah kental laksa di Melaka. Tapi untuk di Indonesia sendiri, laksa di Lenggang Jakarta juga tak kalah. Meski hadir dalam mangkuk kertas berukuran kecil, laksa di sini juga menampilkan aroma santan dan rempah yang cukup kuat. Sayangya saya tak boleh berharap banyak dengan isinya yang hanya menampilkan satu potong udang, tauge, tahu dan emping. Dengan harga yang sama – bahkan lebih murah – di Melaka saya bisa menikmati laksa dengan mangkuk besar, tiram, udang yang banyak, bakso ikan, sayuran dan kuah lebih pekat.  Tentu saja dengan rasa yang lebih tak terlupakan dan membuat saya ketagihan.

Laksa di Lenggang Jakarta memang gagal memenuhi ekspektasi saya yang sudah terbiasa dengan laksa nyonya berkuah kental ala Semenanjung Malaya. Tapi bukan berarti menu lain juga kalah TKO di lidah saya. Nasi uduk cukup menggoda dengan tambahan sajian berupa beberapa emping berukuran besar di mangkuk kertas.

Difficulty Digital

Menerapkan pembayaran digital pada para PKL memang bukan persoalan sederhana. Jika dulu terbiasa menyimpan uang dalam laci gerobak, kini sebuah alat pembayaran canggih mentereng di muka kios. Lenggang Jakarta mengharuskan sistem pembayaran menggunakan e-money Bank Mandiri yang bisa dibeli di konter khusus. Cukup canggih, tapi sayangnya banyak PKL Lenggang Jakarta tak menguasai mesin pembayaran ini.

Jpeg

Saat membeli laksa, saya harus membayar dengan kartu e-money yang ternyata struk pembayaran tak bisa tercetak karena kertas struk telah habis. Pedagang kebingungan dan tak menguasai cara ganti kertas struk. Mungkin mereka juga bertanya-tanya “Ternyata mesin ajaib ini bisa kehabisan kertas tho?”

Soal sederhana ini, di luar dugaan ternyata menjadi masalah tak kunjug selesai. Mesin yang kehabisan kertas dan kartu e-money saya dibawa oleh petugas kasir. Tak lama berselang sang  petugas mengembalikan kartu dan minta maaf telah menunggu.

Tapi tak lama, si pedagang laksa menghampiri saya dan bertanya apakah laksa saya sudah dibayar apa belum. Saya justru balik bertanya, “Lho itu kartu saya dibawa buat apa? Saya kan cuma pesan dan ingin makan. Tanya saja sama petugas kasir.” Si petugas kasir datang lagi dan menjelaskan kalau ternyata laksa saya belum dibayar dan meminta lagi kartu saya untuk digesek di mesin pembayaran. Lalu tadi kartu saya dibawa buat apa?

Proses menggesek kartu ini ternyata memakan waktu sangat lama. Sampai makanan habis pun si petugas belum kunjung kembali. Tak sabar, saya  menghampiri si petugas di kasir untuk menanyakan kartu saya. Dia kaget dan ternyata kartu saya belum diapa-apakan. Si petugas agak panik dan lalu mondar-mandir ke kasir sebelah – entah untuk apa lagi.

Tak lama, petugas menghampiri saya dan bilang “Pak maaf ini nggak bisa digesek, jadi harus bayar cash.” Jadi setelah melalui rentang waktu yang lama dan berbelit-belit, bolak-balik, toh pada akhirnya saya kembali ke cara lama, bayar uang cash! Bila Anda bingung membaca kronologis ini, saya yang mengalami lebih bingung lagi. Kertas struk yang habis di mesin payment ternyata berefek panjang dan mengakibatkan bayar cash. Kesimpulannya, sistem pembayaran terpadu yang sudah disiapkan di Lenggang Jakarta ternyata dengan mudah diluluhlantakkan oleh kertas struk yang habis. Dan ilmu mengganti kertas struk ternyata belum dikuasai para pedagang.

Lenggang Jakarta boleh tampil baru, tapi sayang, beberapa mentalnya masih kuno!

Iklan

4 responses to “Wajah Baru Kuliner Monas

  1. Sudah lama gak ke monas karena semrawut, tetapi baca artikel ini jadi pengen nyoba kesana. Oh ya, saya selalu suka sama cara mas yudas menyampaikan cerita, kesan positif dan negatifnya selalu ditulis. hehehe

    • Walaahh kadang saya ngerasa emosian malah. Btw lenggang jakarta ini sebetulnya asik si. Sekarang ada live music juga katanya. Pengen si balik lagi mudah2an udah lebih baik dari pas awal2 ke sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s