Cotton Tree Cottages, Tempat Sembunyi di Gili Trawangan

Meski saya mencintai kehidupan malam dan bunyi deburan ombak yang menenangkan, namun saat mendengar nama Gili Trawangan, saya justru jarang tertarik untuk bermalam di kawasan pesisirnya yang selalu berdampingan mesra dengan hingar-bingar bar dan keriuhan dunia malamnya.

Pilihan saya justru jatuh pada Cotton Tree Cottages saat mencari penginapan di Gili Trawangan yang jauh dari suasana gaduh di bibir pantai. Di agoda.com, Cotton Tree Cottages ditandai agak jauh dari jalur pantai dan gerbang pelabuhan public boat. Ada gang kecil ke arah kanan di seberang pelabuhan yang kemudian diikuti dengan jalan sempit yang lurus dan berbelok di beberapa persimpangan.

Disambut Anak Pantai

Cotton Tree Cottages bisa ditempuh dengan sekitar sepuluh menit jalan kaki dari pelabuhan public boat. Terletak di bagian tengah Gili Trawangan, perjalanan menuju penginapan ini melewati kawasan perkampungan warga yang beberapa di antaranya juga sudah disulap menjadi penginapan mungil bernuansa tradisional yang nyaman.

Di malam hari, penginapan berstatus bintang tiga (versi agoda.com) ini tak mudah ditemukan, mengingat papan namanya cukup kecil dan lahan kosong di seberang penginapan yang membuat kondisi sekitarnya menjadi gelap gulita.

Sebuah pintu dari rangkaian bambu menjadi gerbang memasuki penginapan nyaman ini. Saya disambut oleh petugas yang penampilannya lebih mirip surfer atau beach boys daripada petugas hotel. Tak ada petugas berseragam yang mengucap salam dengan melekatkan telapak tangan di dada sambil tersenyum lebar. Di sini, petugas penginapan adalah warga lokal yang berpenampilan apa adanya. Kadang bertelanjang dada, dengan celana pendek, kaos oblong dan rambut gondrong terkuncir.

Walau tampil seadanya, layanan di Cotton Tree Cottages tetap maksimal. Petugas di meja reservasi melayani saya sangat baik sambil menawarkan menu sarapan untuk besok pagi dan sebundel buletin promosi wisata Lombok.

“Cuma dua malam? Rasanya kurang lama untuk menikmati Gili Trawangan dalam dua malam,” canda petugas hotel yang berambut gondrong dan hanya memakai celana olah raga tanpa baju.

“Besok pagi, sewa sepeda dari sini saja. Tak perlu cari penyewaan di luar. Di sini lebih murah,” tambahnya.

Penginapan yang terkenal dengan pohon kapuk besar di bagian muka ini memanjakan tamunya dengan menawarkan jasa sewa sepeda dengan harga Rp 35.000 per 24 jam. tentu saja ini terbilang sangat murah bila dibandingkan penyewaan sepeda di luar penginapan yang memasang harga Rp 50.000 hanya untuk setengah hari saja (harga di bulan September 2015).

Kental Rasa Lokal

Cotton Tree Cottages hanya memiliki lima unit penginapan yang masing-masing berbentuk rumah adat lombok dengan atap yang melengkung tinggi. Semua bangunannya didominasi bahan dasar kayu dan rumput ilalang yang tertutup rapat sebagai bahan dasar untuk atapnya.

Saya menempati family room dengan ukuran yang cukup luas, ditambah dengan ruang tidur mungil berukuran queen bed yang berada di loteng. Dirancang untuk peristirahatan keluarga, kamar ini memiliki dua tempat tidur, yaitu tempat tidur utama yang berada di lantai bawah dengan ukuran kings bed, dan queen bed di loteng.

Sebuah tangga dari kayu menghubungkan tamu dengan ruang loteng yang meski mungil, namun tetap terkesan santai. Sambil istirahat, tamu bisa menikmati udara segar dengan membuka jendela di samping kasur yang menghadap ke area tengah penginapan yang dipenuhi pohon dan rumput hijau ini.

Dibangunkan Ayam

Meski sudah diniatkan untuk bangun siang, toh  saya tetap membuka mata saat adzan subuh berkumandang. Selain adzan yang menggema, Cotton Tree Cottages yang letaknya dekat dengan pemukiman warga ini juga diramaikan gema ayam berkokok saat matahari mulai beranjak naik.

Pagi hari adalah awal yang sempurna untuk menikmati sisi lain Gili Trawangan. Berbeda dengan kawasan pesisir yang sarat dengan kesibukan pagi hari, di Cotton Tree Cottages saya bisa meluruskan kaki di terasnya yang dilengkapi kursi dan meja kayu sambil menikmati semilir angin dan kokok ayam yang bersahut-sahutan sambil sesekali menyapa petugas penginapan yang sedang membersihkan kebun.

Lingkungan cottage yang dikelilingi pagar bambu membuat penginapan ini seolah ingin membuat tamu menjadi lebih terjaga privasinya, dan tentu saja menjadi lebih akrab dengan para petugasnya yang semuanya senang mengobrol.

Tak Ingin Pulang

Seporsi bacon and egg dan croissant and jam menjadi pengisi perut sebelum memulai aktivitas di Gili Trawangan. Menu sarapan ini hadir dengan beberapa pilihan, seperti telur urak-arik, telur rebus atau omlet untuk bacon and egg  dan pilihan berbagai jenis selai untuk croissant and jam. Namun bila ingin menyantap masakan Indonesia, nasi goreng pun tersedia juga.

Sebagai pelengkap, Cotton Tree Cottages juga menawarkan pilihan teh dan kopi untuk para tamunya. Tentu saja kopi Lombok menjadi salah satu pilihan untuk tamu yang penasaran dengan aroma kopi lokal. Bila tak suka kopi, pilihan rasa dari Twinings Tea cukup memanjakan tamu, seperti English Breakfast, Earl Grey, dan Peppermint. Sebagai penyegar, dua buah pisang, irisan nanas dan semangka juga dihadirkan sebagai pelengkap menu sarapan.

Untuk di kelas yang setara, keunggulan Cotton Tree Cottages buat saya adalah toiletnya yang mengadopsi konsep semi terbuka. Menggunakan dua buah pintu bergaya tradisional sebagai penghubung kamar tidur dan toilet, saya bisa langsung menikmati segarnya air shower yang memiliki pilihan panas dan dingin tanpa dibatasi atap. Bagi yang tak terbiasa dengan mandi di alam terbuka, tentu saja akan sedikit sungkan untuk tampil tanpa busana sambil dipayungi langit secara langsung. Namun percayalah, ini adalah salah satu cara terbaik untuk menikmati liburan di Gili Trawangan!

Menikmati sarapan dengan menu lengkap sambil menikmati suasana tenang dan kokokan ayam yang memecah heningnya pagi dan mandi di alam terbuka, tentu saja membuat saya enggan untuk beranjak, apalagi untuk pulang ke Jakarta yang bising.

Iklan

5 responses to “Cotton Tree Cottages, Tempat Sembunyi di Gili Trawangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s