Harapan di Tanah Gersang

novani nugrahani

“Kita sudah sampai,” Pak Don memberitahu saya yang masih menikmati semilir angin laut di haluan kapal. Saya berada di kapal Pala’ Eco berpenumpang 14 orang yang dirancang untuk membawa turis mengitari keindahan perairan Kepulauan Komodo, Nusa Tenggara Timur. Kapal kayu bergaya pinisi ini memiliki panjang hampir 30 meter dengan delapan kamar penumpang, dua kamar mandi dan dapur di buritan kapal.

“Warga sudah siap menyambut kita,” lanjut Pak Don, guide saya yang asli warga Flores.

Hari itu saya dan rombongan dari Jakarta diagendakan melakukan aksi CSR menanam bakau di Pulau Papagarang, tak jauh dari Labuan Bajo. Aksi peduli lingkungan ini disponsori sebuah perusahaan minuman kemasan ternama di tanah air. Selain menyumbangkan aksi sosial, tentu saja juga ada pembagian minuman kemasan untuk warga setempat, terutama anak-anak.

novani nugrahani

Kemarau panjang membuat matahari pagi memancarkan panas setara siang bolong dan merontokkan semua yang hijau  di banyak pulau di Kepulauan Komodo. Dari lokasi Pala’ Eco membuang jangkar, saya hanya melihat pulau gersang dengan rumah-rumah ala kadarnya yang memenuhui bibir pantai dengan bukit gersang sebagai latarnya. Tak ada tanda-tanda kapal turis, apa lagi resor bergaya Mediterania.

Pulau Papagarang rupanya tak seberuntung Labuan Bajo yang kian populer dan kini bersolek dengan bandara megahnya. Sebelumnya, saya mengunjungi Labuan Bajo di 2007 dan saat itu Bandara Komodo masih harus mengusir sapi di landasannya setiap kali ada pesawat akan mendarat. Penginapan pun hanya sebatas losmen yang dilabel “hotel”. Kini, resor berstatus bintang pun tak sulit ditemui di gerbang menuju Pulau Komodo ini.

Bahkan dengan Pulau Kanawa yang lebih dekat pun, Papagarang tak mampu bersaing. Bila Kanawa kini jadi perhentian wajib para pelancong dan mulai diramaikan resor, Papagarang hanya disinggahi nelayan. Jangankan dilirik, namanya pun asing di telinga kaum pelancong yang sudah mentahbiskan dirinya sebagai pelancong tersohor.

Anak Tiri yang Kepanasan

Speed boat membawa saya menuju dermaga Pulau Papagarang yang kering. Saya disambut tokoh warga lokal yang ramah. “Cuaca panas sekali,” sapa pria berkumis dan berseragam di dermaga. Sambutan hangat anak-anak lokal juga sedikit melupakan cuaca terik hari itu. Mereka suka sekali difoto, apa lagi sambil berpose lompat dari dermaga. Hal sederhana yang bagi beberapa dari kami adalah objek foto yang trendi di media sosial dan bisa menaikkan status pemilik akun. Tentu saja anak-anak ini langsung jadi rebutan fotografer debutan yang sebatas berburu likes dan follower di ranah Instagram.

novani nugrahani

Pak Don dan beberapa pria setempat membawa saya menuju kawasan bakau yang jaraknya tak sampai satu kilometer dari dermaga. Namun di tengah cuaca terik tanpa ampun ini, jarak 10 meter pun rasanya seperti hukuman dijemur yang berat.

“Tak ada air bersih di sini,” aku warga. “Kami harus beli dari Labuan Bajo, 20.000 per tiga liter,” tambahnya.

4

Saya menunjuk sebuah bangunan berdinding beton yang ditandai sebagai pusat pengolahan air bersih. “Tak berfungsi!” seorang warga setempat merengut.

Mayoritas warga Papagarang mendiami rumah dengan bahan seng dari dinding hingga atap. Dibuat dengan gaya rumah panggung seadanya, bangunan yang terbuat dari semen dapat dihitung dengan jari jumlahnya di sini. Sampah juga seperti menjadi permadani yang menyambut kami. Tak ada tempat pembuangan sampah di penjuru desa, termasuk di rumah warga.

Jargon pariwisata tampaknya kian semu di sini. Flores boleh saja dianggap bidadari cantik dari timur dan Kepulauan Komodo dijuluki “keajaiban dunia” seperti digaungkan lembaga kementerian dengan dukungan penuh media sosialnya. Namun di Papagarang, tak ada kosmetik pariwisata yang bisa menutupi.

novani nugrahani

Meski dekat dengan Labuan Bajo, nasib Papagarang jauh berbeda. Google pun memberikan hasil tak sedap untuk pulau yang dihuni sekitar 1.000 warga ini. Tak ada hal yang berhubungan dengan pantai cantik khas Flores dan hanya ada berita kekeringan, kesulitan air bersih, informasi sekolah lokal dan beberapa laman berita politik.

Bagai anak tiri yang tak dilirik, turis pun tak pernah mengagendakan Papagarang sebagai bucket list mereka di Flores. Sementara pelabuhan Labuan Bajo dipenuhi kapal-kapal barang dan kapal wisata serta yacht mewah, dermaga Papagarang hanya disandari sedikit perahu nelayan bercadik milik juragan lokal. Jika Labuan Bajo sibuk berbagi lahan untuk kafe dan resor asing, Papagarang sibuk mencari air bersih. Jangankan turis, pemerintah setempat pun tampaknya enggan menyentuh pulau kering ini.

Pulau ini sama sekali tak tersentuh popularitas gelar wonder of the world yang disandang Kepulauan Komodo. Yayasan penyelenggara voting beberapa tahun silam itu tentu saja lepas tangan. Meski Kepulauan Komodo sudah dilabel “wonderful Indonesia” dan “world seven wonder of nature“, nasib Papagarang tetap tak berubah. Kepulauan Komodo ternyata tak se-wonder gelarnya, seperti yang sudah saya duga – saya termasuk orang yang menentang campur tangan 7 Wonder Foundation di pariwisata Indonesia sejak awal.

“Tak ada sumur air bersih di sini, bahkan di musim hujan sekali pun,” aku seorang warga.

Beberapa warga menyambut kami sambil melambaikan tangan, sebagian lagi acuh sambil menghisap rokok dan berteduh dari terik siang bolong, anak-anak berlarian dengan baju lusuh seperti sudah menempel berhari-hari dan mengawal kami yang seolah artis tenar dari ibukota. Sebagian dari mereka berebut minuman kemasan yang sempat kami bagikan. Anak-anak di sini tak memakai alas kaki sama sekali. Jangankan sepatu untuk sekolah, sandal jepit pun jauh dari harapan.

Hasil voting yang memenangkan Kepulauan Komodo sebagai keajaiban dunia ternyata gagal membuat keluarga di sini mampu membelikan sepatu buat anak-anak mereka. Banjirnya foto-foto elok Kepulauan Komodo di media sosial tak mampu sedikit pun menyentuh ekonomi Papagarang. Labuan Bajo semakin gemerlap, pelancong semakin membusungkan dada di perbukitan Pulau Padar demi meraih likes di Instagram, sementara Papagarang tetap harus puas dengan baju lusuh yang melekat di badan.

novani nugrahani

Menanam Harapan

Kemarau juga tak memberi peluang bagi rumput di Papagarang untuk tumbuh. Hampir tak ada tanaman yang bertahan hidup di antara rumah warga, semuanya tandus. Saya sendiri tak bisa membayangkan seperti apa rasanya tinggal di rumah berdinding dan beratap seng di tengah kemarau panjang yang kejam ini.

Pak Don dan tokoh setempat mengajak saya masuk ke kawasan bakau yang dipagari sekitarnya. “Ini bakau yang kami tanam empat tahun lalu,” tunjuk warga ke arah kawasan hijau yang dipenuhi bakau dewasa. Sedikit terhibur, kawasan seluas tiga hektar ini memang mulai dirimbuni bakau. Bukti konsistensi warga setempat menghijaukan pulaunya.

Di tengah hujaman matahari yang mengganas, penanaman bakau pun berlangsung. Beberapa kawan menyerah karena tak tahan dengan terik matahari, sementara anak-anak setempat bergembira ria mengikuti aksi kami menanam bakau di tengah lumpur. Kami lelah, tapi juga gembira.

novani nugrahani

Bakau berkhasiat menahan lajunya resapan air asin ke daratan sekaligus menetralkan racun yang mencemari laut. Bakau memang baru beberapa tahun dikembangkan di Papagarang. Warga setempat berusaha sendiri untuk menjadikan pulaunya yang kering menjadi lebih baik.

“Banyak pulau di sekitar sini sudah milik orang asing, tapi yang ini tidak,” terang tokoh setempat yang mengenakan seragam.

novani nugrahani

Setelah berjibaku dengan pulau kering, warga Papagarang sepertinya harus bergelut dengan dilema baru. Menggelar karpet merah untuk investor asing yang hanya akan menjadikan mereka sebagai pekerjanya atau tetap mandiri sebagai nelayan yang harus menerima kenyataan pulau tetangganya yang jauh lebih gemerlap dengan bergelimang resor dan turis.

Sampah di Surga

Selama bertahun-tahun saya selalu lantang menjawab pertanyaan “daerah mana yang paling favorit di Indonesia” dengan jawaban Flores. Buat saya semua sudut kawasan ini tak ada yang tampil buruk. Flores adalah tempat di mana saya bisa meninggalkan ransel di dalam bus antar kota, saya tinggal makan, kemudian kembali lagi dan ransel saya masih utuh, aman tak tersentuh. Flores adalah tempat di mana saya bisa mengobrol dengan siapa saja di dalam bus tanpa takut dihipnotis, dan bisa makan santai di pinggir jalan tanpa gangguan pengamen bersuara cempreng.

Jawaban saya hingga kini masih sama. Tapi Papagarang kini membuat saya lebih merenung soal jawaban lantang saya selama ini. Saya memang gembira bisa berinteraksi dengan warga setempat, terlebih anak-anak yang spontan tersenyum di depan lensa. Namun saya khawatir dengan kebiasaan menyampah warga setempat yang tak dianggap serius. Sepanjang dermaga saya bisa melihat jernihnya air dengan bulu babi dan bintang laut di bawahnya bersanding serasi dengan bungkus minuman kemasan pemberian kami yang kini mengapung di laut.

Rekan saya asal Jerman, Frederik Alexander yang akrab disapa Fred, tak habis pikir bagaimana mungkin warga yang tinggal di “paradise” ini bahkan tak peduli soal hal paling dasar, seperti menjaga kebersihan lingkungan.

People like me  have to spend a lot of money for ‘paradise’ . But these people live in ‘paradise’ but they don’t even know that they live in ‘paradise’!” ujar pria berambut emas ini dengan aksen Jerman yang kental.

novani nugrahani

Kami mungkin membawa harapan dengan sedikit bakau  yang kami tanam, namun ternyata kami juga membawa sampah instan ke pulau ini. Minuman kemasan yang tadinya ibarat harta karun bagi anak-anak di sini, kini menjadi sampah yang dibuang ramai-ramai ke semua tempat, termasuk laut yang jernih.

“Masalahnya ternyata bukan soal investasi, promosi, atau berapa bakau yang dibutuhkan. Masalahnya adalah orangnya,” ucap saya pada pria Jerman ini yang dijawab dengan anggukan dan muka masam.

“Saya begitu marah pada dua anak tadi yang membuang bekas minuman kemasan ke laut,” Fred masih kesal dan ngedumel dengan bahasa Inggris dan Indonesia yang kaku.

Kami masih sedikit berdiskusi soal aksi heroik dengan bakau siang ini, tentu saja ditambah dengan bumbu ironi soal kesadaran tinggal di paradise. Anak-anak mengantar kami ke dermaga. Mereka masih ceria, sedangkan kami hanya mampu berjalan pelan sambil menunduk. Sebagian karena tak tahan panas, sisanya mungkin karena bersalah sudah membagikan minuman kemasan yang kini terapung-apung di lautan jernih di antara bintang laut yang cantik.

“Kami berharap bakau yang tak seberapa ini nantinya bisa memberi manfaat, namun kami sangat khawatir dengan pola hidup warga. Di sini, di surga ini bahkan sampah ibarat pupuk yang disebar di tanah kering. Pemerintah enggan melirik, turis pun tak peduli, dan kami hanya peduli berfoto dengan anak-anak demi hidup semu di media sosial. Kami mungkin memanen likes dengan foto anak-anak ini, tapi warga di sini tetap berkubang sampah dan susah cari air bersih. Ini aksi sosial, tapi mana yang anak-anak ini akan ingat? Kami, bakau, atau minuman kemasan yang jadi rebutan?” tulis saya di smartphone. Tentu saja kalimat itu tak saya sertakan dalam liputan resmi saya di majalah.

novani nugrahani

Speed boat meninggalkan dermaga diiringi lambaian tangan warga lokal. Anak-anak tak putus-putusnya mengucap selamat tinggal pada kami. Speed boat pun melaju membelah lautan jernih yang kini dihiasi beberapa bungkus minuman kemasan pemberian kami yang mengambang.

Iklan

2 responses to “Harapan di Tanah Gersang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s