Rumah Rindang di Kota Batik

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Selalu saja ada alasan untuk kembali ke Solo. Kota Batik ini seperti kejar-kejaran popularitas wisata dengan tetangganya, Yogyakarta, yang sudah lebih dulu tenar. Selain soal batiknya, akomodasi pun tumbuh dan berdandan unik. Rumah Turi adalah salah satunya.

Hunian rindang bernuansa hijau ini sudah lama tenar di kalangan pelancong. Joko Widodo meresmikan penginapan ini pada 2008 dan namanya terus melejit mengiringi berbenahnya Solo menjadi penantang Yogyakarta soal destinasi wisata.

 

Disegarkan Hujan Buatan

Mengusung tagline “The first eco-friendly boutique hotel“, Rumah Turi terletak jauh dari jalan raya yang sibuk. Dari Stasiun Solo Balapan, tamu bisa naik becak atau jalan kaki bila ingin sekaligus kenal lebih dekat dengan Solo untuk ke penginapan ini.

Sekilas, Rumah Turi tampak seperti rumah biasa yang ditutupi pohon rindang. Begitu memasukinya, cuaca panas di luar langsung sirna tergantikan dengan aura teduh yang dikelilingi dengan tanaman dan pohon-pohon besar. Bagian tengah hunian ini dilengkapi dengan taman multifungsi yang bisa diubah menjadi panggung untuk menggelar acara seni.

Sambil menanti proses check-in, tamu bisa mengobrol dengan petugas yang ramah atau menyaksikan hujan buatan yang dirancang khusus untuk menyiram tanaman di area taman. Beruntung, saat saya datang, petugas langsung menawarkan atraksi ini. Semburan air bagai hujan langsung mengucur dan membasahi semua tanaman yang berada di area taman seperti hujan sungguhan yang datang di siang bolong.

 

Pilihan Untuk Berteduh

Rumah Turi menawarkan tiga jenis kamar, yaitu Sereh ( delapan kamar), Wuni (delapan kamar) dan Kemuning yang berukuran lebih luas dan hanya tersedia dua kamar. Dominan dengan konsepnya yang menebar aura teduh, saya sendiri lebih suka menyebut kamar-kamarnya sebagai tempat untuk berteduh.

Kamar Sereh yang saya pilih terletak di lantai dua dengan interior sederhana yang bernuansa budaya lokal. Lorong kamar didominasi lantai dan dekor kayu berwarna gelap, beberapa lukisan, dan tanaman rambat yang menggantung. Interior kamar ditata rapih dengan dinding kayu dan ornamen bertema batik. Setiap kamar disediakan televisi LCD dengan saluran internasional, mini bar, toilet dengan standing shower dan tentunya penyejuk ruangan yang berfungsi baik.

 

Menikmati Hutan

Dirimbuni pohon dan tanaman, Rumah Turi juga dirancang apik untuk para tamu yang ingin mengabadikan kenangan di media sosial. Dua buah jembatan terbentang di lantai dua untuk menghubungkan sayap bangunan dan ruang aula yang lapang. Jembatan berlantai kayu ini juga dihiasi tanaman di kedua sisinya untuk menambah kesan teduh dan ramah lingkungan bagi siapa pun yang melaluinya. Jika ada waktu senggang, sempatkan berfoto di area ini untuk dibagikan ke media sosial.

Ruang aula yang terletak di lantai dua dirancang sederhana dengan konsep semi terbuka. Atap yang tinggi dibuat untuk menambah kesan lebih lapang dan melancarkan sirkulasi dengan dukungan struktur tanpa dinding di sekeliling ruang. Selain melanggengkan angin yang mengalir, rancangan ini tentu memaksimalkan cahaya alami untuk menerangi ruang di siang hari. Dari Aula, saya juga masih bisa menyaksikan pepohonan mengitari ruangan yang memberikan kesan teduh.

Cukup Jalan Kaki 

Bila malas menjelajah kota untuk sekadar makan dan bersantai, Wedangan Pendopo yang letaknya bisa dijangkau dengan jalan kaki bisa menjadi pilihan untuk menikmati aneka kuliner khas Solo sambil mengobrol. Wedangan Pendopo terletak di Jalan Srigading II, tempat Rumah Turi berada. Menampilkan suasana Jawa di masa lalu, tempat makan ini ramai dikunjungi pelanggan di malam hari karena menyajikan berbagai jajanan Solo dengan harga terjangkau.

Kalau enggan sarapan di hotel pun, cukup jalan kaki ke arah Solo Paragon untuk menikmati Soto Rempah yang selalu kebanjiran pelanggan di pagi hari saat akhir pekan tiba.

 

www.rumahturi.com

 

 

Iklan

5 responses to “Rumah Rindang di Kota Batik

  1. Ah jadi kangen nginep di Rumah Turi lagi. Memang penginapan satu ini ibarat oasis di tengah kota ya mas. Begitu nyampe di sini gak terasa kalau kita lagi ada di tengah kota solo, padahal jalan ke Solo Paragon pun gak jauh. Sarapannya pun enak di sini, sederhana tapi nikmat plus berada di ruang makan yang hijau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s