Saat Pabrik Gula Tak Lagi Berjaya

Pabrik gula Tainan, yang kini menyisakan cerobong menjulang dan gudang-gudang tua.

Pabrik gula Tainan, yang kini menyisakan cerobong menjulang dan gudang-gudang tua.

Kunjungan ke sebuah bekas pabrik gula? Saya langsung membayangkan gudang-gudang tua, rel kereta yang ditumbuhi ilalang dan gerbong pengangkut tebu yang berkarat tak berdaya teronggok begitu saja sambil menjadi tontonan turis. Tapi Jefri, pemandu saya di Taiwan, menjelaskan sesuatu yang berbeda tentang pabrik gula peninggalan Jepang di kota Tainan yang akan saya kunjungi.

“Ten Drum Culture Village! Itu dia namanya,” Jefri tersenyum.

Saat saya bertanya apa hubungannya desa wisata, perkusi dan pabrik gula, pria asal Medan berambut cepak yang sudah 30 tahun tinggal di Taipei ini berusaha merunutkan sejarah satu per satu. Seperti biasa, Jefri memulai kisahnya dengan senyuman.

“Dulu produksi gula sangat berjaya di sini, tapi produksinya kian menurun. Orang Taiwan memilih hidup sehat dengan kurangi konsumsi gula,” terangnya.

 

Gula, Tak Lagi Menguntungkan

Mendukung kisah Jefri, Sung Kai Rong, pemandu di pabrik gula juga menjelaskan kisah serupa. Menurutnya, pabrik gula yang berjaya di pendudukan Jepang ini mulai mengurangi produksinya karena tak lagi menguntungkan, terutama setelah Jepang meninggalkan Taiwan. Namun pemilik pabrik tak ingin pabriknya terbengkalai begitu saja.

“Pemilik pabrik ini punya banyak uang dan ulung dalam berdagang,” kata Jefri yang dibenarkan Sung.

Sadar bahwa kesenian lokal punya potensi besar untuk mendatangkan uang sekaligus menggerakkan industri pariwisata, pemilik pabrik pun menyulap properti seluas lima hektar ini menjadi sebuah sanggar seni dan taman kreatif. Ten Drum Culture Village and Creative Park, namanya. Entah apa nama lokalnya, tapi nama internasional inilah yang sah digunakan.

 

Belajar Menggebuk

Sung mendampingi saya menyusuri lorong-lorong tua pabrik ini. Gudang-gudang tua yang lapang adalah bangunan pertama yang saya temui. Dulunya berfungsi untuk menyimpan dan mengolah tebu, kini gudang-gudang berkarat ini berdandan sebagai museum dan galeri seni. Desainnya masih mempertahankan bangunan lama yang kokoh bernuansa industri, namun ditata apik bergaya urban. Liu Guocang, perancang bangunan terkenal kelas dunia, merampungkan desain kawasan ini konon dengan bujet terbatas.

Sung kemudian mengajak saya melihat kolam besar yang kini kering. Kolam bekas pengolahan air untuk industri ini sudah berubah menjadi panggung seni. Kursi-kursi penonton didirikan di dasar kolam tanpa menghilangkan pipa besi yang dulunya berguna untuk proses pengolahan air. Sebuah panggung terbuka didirikan di ujung kolam, lengkap dengan deretan drum tradisional di atasnya.

Sebuah gerbong kereta berukuran mungil diletakkan di ujung kolam, sebagai tempat operator mengatur sound system dan cahaya panggung. Pemilik pabrik rupanya ingin memaksimalkan benda-benda lawasnya menjadi pendukung kesenian.

Sung kemudian membawa saya ke sebuah ruangan mirip kelas. Deretan perkusi tradisional memenuhi ruangan ini dan sebuah white board yang dipenuhi notasi khusus perkusi terletak di depan ruangan. Rupaya Sung ingin membagi sedikit ilmunya menggebuk perkusi.

Dengan bahasa Inggris berlogat Hokkien, Sung memperkenalkan notasi yang berbeda dari notasi musik yang selama ini saya kenal. Tak rumit, asalkan kita tetap berkonsentrasi dan tak ragu menggebuk!

“Jangan takut, gebuk seperti ini!” tegas Sung sambil menggebuk drum-nya kencang.

“Bum!”

 

Dulu Penuh Pekerja, Kini Penuh Gaya

Liu Guocang sepertinya benar-benar bebas mengkreasikan tempat ini menjadi bergaya anak muda. Sebuah tangki besar bekas tempat penyimpanan air tebu, kini beralih fungsi menjadi kafe modern lengkap dengan bar dan chandelier menggantung di atasnya. Tempat berkarat ini rupanya dipoles sebagai tempat nongkrong anak muda.

Tak puas dengan tempat hangout, tangki di sebelahnya dirancang sebagai playground untuk wisatawan yang membawa anak-anak. Tempat-tempat ini dihubungkan dengan tangga dan jembatan beralas kaca yang bergaya modern.

Tak jauh, sebuah ruang bekas gudang penyimpanan mesin kini diubah menjadi kafe dan perpustakaan yang nyaman tanpa membuang semua mesin-mesin kuno yang antik. Sebuah taman rindang menjadi tempat istirahat yang nyaman dengan memanfaatkan pohon beringin tua yang dihias dengan jembatan besi yang mengelilinginya.

Kereta tua pengangkut batang tebu pun disulap menjadi kereta turis, dan bendungan penyimpan air berubah fungsi menjadi kolam ajang adu ketangkasan mengayuh rakit yang dilengkapi air terjun buatan. Bila dulu tempat ini dipenuhi pekerja pabrik, kini dipenuhi gaya.

 

Mengenal Taiwan Dengan Drum

Ten Drum Art Percussion Group mulai bermarkas di bekas pabrik gula ini pada Desember 2005. Kiprahnya dapat disaksikan wisatawan setiap hari dengan mengikuti tur berkeliling lokasi diakhiri dengan menyaksikan pentas grup kesenian ini menggebuk perkusi tradisional mereka.

Bertempat di bekas pabrik pengolahan tebu, panggung dirancang artistik dengan tata cahaya dan tata suara yang canggih. Memasuki tempat pertunjukannya seperti memasuki teater kelas dunia, meski hanya memanfaatkan pabrik tua yang penuh mesin tua, pipa dan karat.

Nama Ten Drum sendiri mengandung makna ‘mengumpulkan energi’ yang diambil dari kata ‘ten’ yang dalam aksara Tiongkok diucapkan ‘shi’ yang digambarkan seperti dua stik drum melintang. Kelompok seni ini berkomitmen untuk memperkenalkan dan menjaga warisan budaya musik perkusi tradisional kota Tainan.

Keseriusan kelompok seni yang berdiri tahun 2000 ini berbuah hasil dengan prestasi mereka manggung di beberapa kota penting dunia, seperti New York, Los Angeles, Vancouver, Toronto, Singapura, Shanghai, Kuala Lumpur, Bangkok, dan kota-kota lainnya.

 

 

 

 

Iklan

9 responses to “Saat Pabrik Gula Tak Lagi Berjaya

  1. ayah saya dulu juga kerja di pabrik gula bang, sekarang udah pensiun…coba tengok di blog saya.sekarang pabrik gula beralih ke agro wisata (sondokoro)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s