Rumah Halal di Lereng Alishan

Matahari sudah menghilang dari pandangan dan berbuntut datangnya angin dingin. Saya menutup jaket lebih rapat sambil mondar-mandir agar badan tak kedinginan. Meski sebelumnya saya sudah banyak jalan kaki menjelajahi Alishan National Scenic Area hingga lutut saya ngilu, namun kawasan pegunungan paling populer di Taiwan ini punya kejutan khusus saat menjelang datangnya musim dingin.

“Suhu bisa turun mendadak di malam hari. Siapkan jaket tebal,” ujar Jefri, pemandu saya selama berada di Taiwan.

Jefri sudah memperingatkan saya sehari sebelumnya tentang kondisi ini, namun tetap saja saya kedinginan meski sudah menutup rapat jaket dua lapis saya. Malam itu saya menuju Long Yun Farm, sebuah resor sederhana yang berlokasi di lereng Gunung Alishan dan sekaligus menjadi tempat saya bermalam.

Resor ini berada di ujung jalanan sepi yang berliku, setelah sebelumnya melalui beberapa resor yang dipenuhi mini bus turis. Seorang pria bertubuh ramping mengenakan jaket tebal menghampiri saya dengan enerjik. Ia menawarkan jasanya mengangkut koper saya dengan mobil pick-up yang terlihat agak butut.

Maklum saja, untuk mencapai kamar dari tempat parkir, harus berjalan kaki dengan jalan menanjak curam. Tak jauh memang, tapi cukup membuat saya kehabisan nafas jika harus menjalaninya sambil menggeret koper. Pria enerjik itu ternyata Teng Ya-Yuan, pemilik resor Long Yun Farm yang mengelola hunian ini bersama keluarganya.

 

Disambut makanan halal

Teng Ya-Yuan mengajak saya ke restoran untuk bergabung dengan kawan-kawan lainnya. Layaknya restoran Tiongkok, ruang makannya diisi meja-meja besar dengan kursi yang cukup banyak. Sambil menyusuri ruang makan, di sisi kiri saya melihat sebuah stiker dengan tulisan bahasa Arab yang sepertinya cukup akrab saya lihat.

“Resor ini menyediakan makanan halal,” terang Jefri yang menghampiri saya.

“Taiwan belum punya lembaga Islam resmi untuk sertifikasi halal. Sertifikat itu dari Malaysia,” tambahnya.

Teng mendatangi meja kami sambil membawa lauk makan malam satu per satu. Ada sayuran, hidangan laut, sup, dan ayam goreng yang renyah. Khusus untuk ayam gorengnya, Teng rupanya ingin membuat kejutan istimewa.

“Ayam goreng ini spesial. Tak ada di menu dan masaknya melalui proses yang halal,” jelas Teng sambil berlalu untuk mengambil lauk berikutnya.

Dari Jefri, saya tahu banyak bahwa Long Yun Farm memang sengaja mengusahakan menu halal untuk tamunya. Sertifikat pun diusahakan untuk mentahbiskan restorannya menjadi rumah makan halal. Ia sadar bahwa potensi wisata dari wisatawan Muslim cukup menjanjikan. Sayangnya, kamar di Long Yun Farm belum ditandai arah kiblat. Mungkin nanti segera terwujud.

Ayam goreng spesial Teng Ya-Yuan menjadi idola malam itu. Tak sampai 10 menit, menu halal itu sudah ludes tak bersisa.

Saat saya minta tambah satu porsi lagi, Teng dengan berat hati menjawab bahwa ia hanya membuat satu porsi saja khusus untuk kami malam itu.

Sedikit kecewa, namun saya langsung terobati dengan hidangan Teng yang lain. Udang tempura yang digoreng garing dan berukuran besar, sayuran mirip capcay yang dimasak dengan  cumi, udang dan sayuran segar, hingga sayur kangkung segar. Semuanya disandingkan dengan teh hijau asli Alishan yang rasanya mengingatkan saya pada teh hijau Jepang favorit saya.

 

Lebih dekat dengan alam

Bermalam di Long Yun Farm berarti menjauh dari kehidupan kota. Resor ini berada di lembah Alishan yang teduh. Beberapa resor serupa juga tampak beberapa di lereng ini. Jalan sepi berliku menjadi penghubung antar resor sekaligus jalur satu-satunya untuk menuju kota terdekat.

Jauh dari ritme kehidupan kota bukan berarti resor-resor di sini membosankan. Long Yun Farm mengajak penghuninya untuk ceria selepas makan malam. Di tengah kafe berstruktur kayu tanpa dinding, saya dan tamu lain diajak untuk bersama-sama membuat kue moci. Bahannya dijamin halal! Sama dengan kue moci yang saya temui di Indonesia, namun moci di sini tak terlalu manis.

Membuatnya pun butuh energi ekstra. Satu per satu tamu yang hadir harus ikut menumbuk adonan tepung beras dalam palung dengan tumbukan yang terbuat dari kayu hingga lembut. Bukan perkara mudah, karena peralatan tradisional ini terbuat dari kayu pinus Alishan yang terkenal berkualitas tinggi. Mengangkatnya saja seperti berlatih beban di pusat kebugaran, apa lagi menumbuknya berkali-kali.

Setelah mencicipi moci sambil kelelahan, Teng mengarahkan tamu untuk berkeliling resornya. Dengan dialek Hokkien, Teng memperkenalkan ragam tanaman di sekitar resor yang digunakan untuk memasak hidangan di restoran.

“Daun ini untuk pewangi masakan,” Jefri menterjemahkan arahan Teng sambil melumat selembar daun yang mirip daun kayu putih.

Usai mengenal kekayaan tanaman Long Yun Farm, Teng mengajak saya dan tamu lainnya menyusup ke dalam hutan yang gelap. Teng menyuruh kami mematikan lampu senter dan smartphone. Kami disuruh berbaris dan saling berpegangan untuk mengikutinya masuk ke dalam kepekatan hutan pinus.

“Lihat ke kiri!” seru Teng.

Sekumpulan kunang-kunang sedang terbang pelan-pelan ke arah kami dan makin lama semakin banyak jumlahnya. Teng rupanya ingin menunjukkan aksi gerombolan kunang-kunang yang tiap malam berkeliaran di hutan pinus sekitar Long Yun Farm.

Setelah menelusuri hutan pinus cukup dalam, kami tiba di sebuah tempat terbuka di mana udara terasa semakin dingin. Saya merapatkan syal di leher sambil melipat tangan di depan dada.

“Sekarang, lihat ke atas!” kata Teng lagi.

Ribuan bintang tersebar memayungi kami dan lereng Alishan yang senyap. Meski cuaca semakin dingin, tapi pemandangan yang jarang muncul di Jakarta ini cukup menghangatkan hati. Sepasang turis lokal ternganga dan mencoba ber-selfie dengan action cam berlatar langit – entah bagaimana caranya -, sebagian lagi memeluk pasangannya dan membisikkan kata-kata manis. Saya sendiri hanya terpaku menatap langit, sambil berandai-andai istri saya turut hadir di sini, berharap suatu ketika bisa mengunjungi titik-titik romantis di Alishan bersama keluarga, bukan dalam rangka liputan.

 

 

 

Iklan

4 responses to “Rumah Halal di Lereng Alishan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s