Chiayi yang Kini Sepi

Menyusuri jalanan di lereng Alishan bukan perkara sederhana. Minibus yang saya naiki bertahan di kecepatan sedang sambil menikung berkali-kali di jalan berliku yang sepi.

Vivi – kawan saya yang mengepalai redaksi sebuah majalah gaya hidup – terpaksa menyerah dengan kondisi ini dan pindah tempat duduk ke kursi depan.

“Jalanan ini bikin pusing,” ia bersungut sambil memijat keningnya.

Saya masih bertahan di kursi belakang sambil mengudap crackers yang baru saya beli di sebuah mini market. Jalanan ini memang mengajak siapa pun yang melaluinya harus siap secara fisik agar tak tertular mabuk darat. Sedikit banyak ini mengingatkan saya akan jalur lintas Flores di Nusa Tenggara Timur yang menghubungkan Ende dan Ruteng.

Jefri, pemandu saya, malah asyik dengan smartphone-nya sambil tersenyum-senyum sebelum ia berkisah tentang tujuan saya berikutnya.

“Kita menuju ke Chiayi sebelum melanjutkan ke Si-cao untuk melihat hutan bakau,” terang Jefri.

 

Cerita di Stasiun Tua 

Butuh waktu sekitar tiga jam untuk mencapai pesisir Si-cao yang ditumbuhi bakau dari Alishan yang dingin. Separuh perjalanan saya gunakan untuk menikmati pemandangan meski akhirnya saya kalah melawan kantuk yang berat.

“Kita mampir dulu di Chiayi,” kata Jefri sambil mengarahkan sopir untuk parkir di sisi jalan raya yang sunyi. Setelah berdialog sebentar dengan bahasa Hokkien, Jefri kemudian mengarahkan saya untuk masuk ke dalam sebuah area yang mirip stasiun kereta api. Udara tak lagi sedingin Alishan meski Chiayi masih termasuk dataran tinggi dan kawasan penyangga Alishan.

“Alishan Forest Railway – Chiayi Garage,” begitu tulisan yang terpampang besar di pintu gerbang dari besi.

“Ini dulunya stasiun?” tanya saya sambil mengusap kening yang mulai berkeringat.

Menurut Jefri, Chiayi Garage dulunya adalah stasiun kereta api yang melayani rute Chiayi – Alishan di zaman pendudukan Jepang. Kala itu Chiayi begitu berjaya karena produksi kayu cemara di hutan Alishan tumbuh subur. Chiayi pun dipenuhi pengusaha Jepang dan para penanam modal. Stasiun Chiayi turut semarak dengan jadwal kereta api yang kian padat menuju puncak Alishan yang kaya akan kayu cemara.

Tapi politik berkata lain. Jepang tersudut setelah Sekutu merangsek Asia Pasifik. Pendudukan Jepang di Taiwan pun berangsur sirna. Kantong-kantong strategis tentara Jepang ditinggalkan begitu saja. Alishan yang tadinya begitu dipuja karena kayu-kayu cemaranya yang kokoh kini sunyi, termasuk Chiayi yang tak lagi menjadi idola para pebisnis Negeri Sakura. Stasiun Chiayi berubah sepi dan gerbong-gerbong kereta ke Alishan pun beranjak kosong.

Keadaan semakin memburuk sejak Taiwan membangun jalan raya yang mulus melintasi Alishan. Masyarakat lebih suka naik mobil ketimbang naik kereta yang berjalan lebih lambat karena melintasi bukit dan hutan.

Hampir 20 tahun setelah Perang Dunia II berakhir dan semakin maraknya pengguna otomotif, pemerintah Taiwan akhirnya menutup jalur kereta Chiayi – Alishan termasuk stasiunnya yang tak lagi berfungsi. Namun penutupan ini tak berarti kenangan kejayaan Chiayi turut berakhir. Pemerintah setempat justru mengalihfungsikan stasiun ini menjadi sebuah monumen dan museum.

“Kereta-kereta ini masih terawat meski beberapa terlihat kusam dan rusak,” kata Jefri sambil menunjuk sebuah gerbong vintage yang membisu.

 

Istirahat yang Tenang

Sisa kejayaan Chiayi masih terekam jelas di sini. Stasiun ini cukup luas di masanya meski sekarang hanya menyisakan gerbong tak bernyawa dan bangunan tua yang sunyi. Sebuah lokomotif bergaya klasik berada di kanan saya dengan beberapa turis yang sedang berfoto di sampingnya. Lokomotifnya masih terawat meski kawasan sekitarnya dipenuhi guguran daun kering akibat musim dingin Taiwan yang sudah di ambang pintu.

Tak ada penjaga karcis yang memungut biaya untuk masuk Chiayi Garage. Jangan berharap ada tukang asongan yang jualan minuman penyegar, pemandu lokal atau booth penyedia brosur pun tak ada. Masuk ke sini seperti memasuki stasiun hantu yang menyisakan gerbong-gerbong kusam berdebu.

Turis pun tak terlalu banyak. Hanya ada sepasang turis Asia yang tak henti berfoto mesra dan dua pasangan lainnya yang menenteng kamera besar tanpa sedikit pun memotret.

Saya menyusuri deretan gerbong di dekat bangunan stasiun. Tak lagi mengkilap, gerbong-gerbong ini menurut Jefri adalah peninggalan tahun 1960-an. Gerbong terakhir yang mengalami masa kejayaan sekaligus era kegetiran di Chiayi. Sempat berjaya dipenuhi penumpang, kini teronggok muram.

Salah satu pintu gerbong ini tak terkunci dan saya pun diam-diam memasukinya. Dalamnya masih tertata rapih tanpa corat-coret turis labil. Meski sudah terbengkalai puluhan tahun, interior gerbong masih bersih dengan lantai yang masih menyisakan sedikit kilap. Dari penampakannya mungkin ini dulunya gerbong eksekutif karena jendelanya dilengkapi gorden dan kursinya berlapis busa.

Tak seperti gerbong masa kini, gerbong ini lebih sempit dengan formasi 2-1 dan duduk berhadapan. Kaca gerbong terlihat buram. Tapi ini jauh lebih baik ketimbang kereta masa kini di Jawa yang kacanya banyak retak dirusak pesakitan jalur Pantura dan selatan Jawa.

Saya duduk termenung sendirian di dalam gerbong kosong ini, sambil membayangkan kursi-kursi yang pernah selalu penuh terisi di masanya. Saya membayangkan bagaimana cara pemerintah setempat bisa merawat tempat ini terbebas dari anarkisme turis labil meski masuknya gratis dan sudah berlangsung sekian lama.

Saya melangkah ke ujung gerbong untuk melihat toilet. Sama dengan toilet kereta di Jawa, hampir semuanya berlapis besi, hanya saja kali ini beberapa sarang laba-laba sempat menyambut saya. Saya pun kembali duduk di deretan kursi berwarna hijau yang tak lagi empuk sambil mengucilkan diri dari kawan-kawan yang sibuk berfoto di luar.

Rasanya sangat tenang, meski kadang terasa seperti ada mata-mata tak kasat mata yang memperhatikan saya. Mungkin mereka bertanya-tanya “siapa orang aneh ini?” atau “lancang benar orang ini duduk seenaknya di dalam gerbong.” Sejenak, perasaan tenang pun beranjak menjadi perlawanan terhadap rasa takut.

Ditinggal puluhan tahun dan tak lagi beroperasi, bukan tak mungkin kini gerbong dan stasiun sunyi ini diambil alih oleh kumpulan makhluk halus. Setidaknya itulah pandangan dasar saya sebagai orang Indonesia. Negeri yang selalu mengandalkan urusan klenik sebagai solusi ragam persoalan hidup.

“Pengunjung tak boleh masuk gerbong!” sergah Jefri tiba-tiba.

Rupanya pengelola setempat menerapkan peraturan berbahasa lokal yang salah satunya berbunyi “dilarang memasuki gerbong atau menaiki lokomotif!”

“Biarkan dalamnya apa adanya. Kita hanya boleh berfoto di luar. Biarkan kereta-kereta ini beristirahat dengan tenang menikmati akhir masa baktinya,” kata Jefri.

 

Iklan

2 responses to “Chiayi yang Kini Sepi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s