Kembali ke Kampung Jagal

1

Kembali ke Sabah rasanya seperti kembali ke kampung halaman. Meski saya bukan Sabahan (sebutan untuk warga asli Sabah) tapi nuansa Kalimantan yang begitu terasa membuat saya merasa negara bagian dari Negeri Jiran ini adalah rumah saya juga.

Suku paling brutal

Saya menumpang pesawat Malaysia Airlines dari Kuala Lumpur setelah selama empat hari menghadiri rangkaian acara meriah dari Malaysia Tourism Board di ibu kota Malaysia itu. Di KLIA1 sembari menanti panggilan boarding, saya kembali mengenang kunjungan terakhir saya ke Kota Kinabalu tiga tahun silam.

Berbeda dengan Kuala Lumpur yang gemerlap, Kota Kinabalu lebih sunyi dengan jalan-jalan rayanya yang nyaris kosong. Gedung-gedung modern baru saja menjamur, termasuk kafe populer Starbucks di sebuah mal megah. Tadinya saya kira Sabah tertinggal dalam pembangunan fisik, namun ternyata pemerintah setempat memang mengerem pembangunan kota dan memaksimalkan sustainable tourism yang mengandalkan wisata alam yang ternyata memang jauh lebih menjanjikan.

Tiba di KKIA (Kota Kinabalu International Airport) saya disambut Cathy, gadis manis bergaya enerjik dan murah senyum yang bakal jadi LO (liaison offficer) saya selama berada di Kota Kinabalu.

First time in Sabah?” tanyanya.

Nope. Been here before. Three years ago,” Cathy tak menyangka jawaban saya dan ia tampak terkejut. Menurut gadis keturunan suku Khadazan ini biasanya hanya orang bule yang rutin berlibur ke Sabah. Orang Asia pun hanya Korea dan Tiongkok. Bangsa serumpun nyaris tak melirik.

“Tentu saja kami orang Indonesia lebih suka belanja di KL atau liburan di Johor karena ada Legoland dan dekat Singapura,” kata saya kali ini dengan logat Melayu.

Disambut para penari suku Khadazan di lobi hotel. Terasa seperti pulang kampung.

Disambut para penari suku Khadazan di lobi hotel. Terasa seperti pulang kampung.

Tiba di hotel, saya disambut tarian suku Khadazan di lobi. Khadazan adalah suku mayoritas di Sabah dengan tampilannya yang serupa orang Dayak, meski seingat saya mereka menolak disebut Dayak. Selain Khadazan, Sabah juga didiami suku Murut dan Bajau. Khadazan juga kerap disebut Khadazan-Dusun, merujuk dari penggabungan suku besar ini dengan etnis Dusun.

Cathy memperkenalkan saya pada Ayna. Sesama LO yang juga bertugas membantu teman-teman saya dari Myanmar. Berbeda dengan Cathy, Ayna yang mengenakan hijab ini tampil lebih lembut dengan senyumannya yang membuat saya betah berlama-lama mengobrol.

Bersama Ayna, liaison officer yang bertugas selama saya bertugas di Sabah.

Ayna adalah Sabahan yang berasal dari suku Bajau Darat. “Bajau di sini ada darat dan laut. Saya Bajau Darat. Mayoritas kami memang Muslim, kalau Khadazan most of them are Christian,” jelas gadis yang saat itu langsung bertukar akun Instagram dengan saya.

Seorang petugas kementerian juga sempat mengajak saya berbincang tentang Sabah. Menurutnya, Khadazan adalah etnis mayoritas dan yang terkenal paling brutal. Tari-tariannya pun lebih enerjik dan terkesan liar. Kalau orang Bajau menari dengan lembut, orang Khadazan menari sambil menggenggam mandau dan tamengnya. Gerakan awalnya seperti mengendap-endap lalu berteriak-teriak mirip suku Indian. Kalau tarian Murut ditarikan oleh orang-orang sambil senyum, tarian Khadazan justru ditarikan oleh pria-pria dengan wajah seperti ingin bertarung sampai nyawa melayang.

Suku Khadazan dengan pakaian adatnya.

Suku Khadazan dengan pakaian adatnya.

 

Para penjagal

Anggapan bahwa Khadazan adalah suku paling brutal bukan tanpa alasan. Suku pedalaman ini dulunya terkenal dengan budaya head-hunter atau para pemenggal kepala. Budaya jagal inilah yang menajdikan Khadazan menjadi suku terkuat dan paling dominan di Sabah, layaknya kisah bangsa Sparta pimpinan Leonidas yang perkasa di film 300.

Di masa silam, kepala orang adalah trofi bagi pria Khadazan. Jumlah kepala yang dikoleksi melambangkan status keperkasaan seseorang. Semakin banyak memenggal kepala, semakin takjublah orang sekampung, makin dipuja wanita, dan makin disayang calon mertua.

Selain mandau, suku Khadazan juga akrab dengan sumpit sebagai senjatanya.

Selain mandau, suku Khadazan juga akrab dengan sumpit sebagai senjatanya.

Tiga tahun sebelumnya, saya sempat mengunjungi Monsopiad Cultural Village untuk lebih kenal dengan sejarah Khadazan. Sebuah desa wisata yang dulunya adalah desa Khadazan tempat lahir Monsopiad, ksatria Khadazan paling ditakuti se-Sabah karena paling banyak menebas kepala. Kisahnya bisa dibaca di sini

Khadazan punya segudang kisah untuk diceritakan. Mulai dari para ksatrianya yang brutal hingga bobohizan, dukun kampung yang amat disegani warganya. Saya pernah bertanya pada beberapa orang lokal soal jagal kepala ini.

Now? No more! Since the British came, head hunter is no longer exist,” jelas pemandu saya waktu itu. Ini juga diperkuat oleh Jesen, pemandu saya saat saya kembali ke Sabah tiga tahun kemudian.

Head hunter? Maybe you can find them in remote area. But in the city, we are modern people. Even Khadazan no longer live in rumah panjang (rumah adat Khadazan) because we want to live modern like other people,” kata Jesen dengan bahasa Inggris seadanya yang bergaya Melayu.

 

 

 

 

Iklan

2 responses to “Kembali ke Kampung Jagal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s