Menyelamatkan Sorgum, Makanan Langka yang Tergusur Beras

Nama Jon Priadi memang tak sepopuler koki-koki selebriti yang selama ini saya kenal. Wajahnya jarang dijumpai di televisi, popularitasnya di Indonesia pun kalah jauh dengan koki-koki seksi yang kini banyak dipuja di Instagram. Saya menemui Jon di Casa Luna Cooking School, Ubud, bertepatan dengan sesi masterclass: Ancient Grain yang digelar di Ubud Food Festival 2017.

 

Tergusur Beras

Saya menemui Jon dengan alasan materi presentasi yang dibawanya membuat saya penasaran. Ia mengulas sorgum, jenis biji-bijian langka yang dulu pernah akrab sebagai salah satu makanan pokok di Indonesia sebelum akhirnya harus menyerah dengan gempuran beras di era Orde Baru.

Jon yang lama mengenyam pendidikan tata boga di Australia hari itu memamerkan ketrampilannya mengolah sorgum sebagai bahan utama untuk membuat beberapa sajian modern, seperti crepes dan gnocchi. “Saya mendapatkan sorgum ini di Flores,” jelasnya sambil sibuk mengaduk kentang.

Sorgum menurutnya, pernah menjadi santapan utama orang Indonesia terutama di Indonesia Timur. Sama seperti jagung dan ketela, sorgum bersifat mengenyangkan setara dengan nasi. Namun saat Orde Baru berkuasa, sorgum mulai tersisih karena Revolusi Hijau yang digaungkan pemerintah lebih memihak beras sebagai makanan utama. Sorgum pun menghilang dari peredaran karena petani kembali mengalami “tanam paksa” dengan embel-embel Ketahanan Pangan yang mewajibkan semua orang makan nasi ala orang Jawa.

Dari Mesir

Sekilas, penampilan sorgum menyerupai nasi merah namun bentuknya lebih bulat. Pohon sorgum pun bisa tumbuh di kawasan tandus dan hanya membutuhkan sedikit air untuk mencapai panen. Jon mensinyalir bahwa sorgum sudah ada sejak 8.000 tahun lalu di Mesir. Keberadaannya lalu menyebar sejalan dengan jalur perdagangan dunia yang masif di masa lalu.

“Sorgum menjadi populer di Afrika Selatan dan masuk ke Asia melalui India” papar Jon.

Di Indonesia sebetulnya sorgum juga menyinggahi tanah Jawa dan kini bisa ditemui di sekitar Jepara. Makanan kaya protein ini dulu sempat populer bersama minyak kelapa sebagai media memasak sebelum minyak sawit menyerbu pasar. “Makanan ini sangat sehat, sayangnya sekarang kita sudah terlanjur tak bisa dipisahkan dari nasi,” terang Jon.

Jon bersama beberapa rekannya saat ini sedang berusaha untuk mengembalikan popularitas sorgum. Bukan untuk iseng, namun untuk mengembalikan pola makan sehat yang kini sangat dibutuhkan. Jon yang kini aktif membina Kitchen Culture Food Lab mendapati bahwa sorgum memerlukan lebih banyak penelitian.

Menjadi Trendi

Kepiawaian Jon Priadi memang tak dipungkiri. Awalnya ia nampak sibuk sendiri memasak bahan-bahannya didampingi asistennya. Saya dan beberapa ibu-ibu dari Spanyol dan Australia sempat bingung arah memasak Jon yang tampak ruwet itu.

“Could you help me with this?” katanya sembari menyodorkan baskom berisi bubur kentang yang sudah dicampur tepung sorgum dan meminta salah satu dari kami untuk mengaduknya.

Sesaat ia mengeluarkan kacang kenari dan mencampurnya dengan cabai, garam, bawang merah, bawang putih dan sedikit air. Sementara di meja dapur ia juga menyiapkan bunga rosela dan kemudian meleburnya menjadi selai dengan kucuran air jeruk nipis.

Setelah satu jam, kami baru bisa menerka menu-menunya. Jon menghadirkan sorgum dengan beberapa varian makanan, seperti sorgum dengan crepes keju yang dipadu dengan selai rosela, sorgum dengan panekuk pandan yang diisi dengan kelapa parut dan gula aren mirip klepon, dan sorgum yang dihidangkan dengan tuna. Semuanya disajikan dengan sambal kenari yang menyerupai mayonaise namun kegarangan rasa pedasnya tak berkurang sama sekali.

“Saya senang di Bali sudah ada yang menanam sorgum dan mengembangkan bibitnya,” kata Jon.

Ibu-ibu Spanyol yang sibuk memotret makanan dengan smartphone-nya menghampiri Jon dan memujinya. “From now on I will use sorgum to make my salad,” katanya sambil mengunyah panekuk sorgum yang bercitarasa klepon itu.

 

Iklan

One response to “Menyelamatkan Sorgum, Makanan Langka yang Tergusur Beras

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s